Buya HAMKA Pemikir Modern Muslim Abad ke-20

Harian Umum PELITAHalaman Muka |Politik dan Keamanan |Ekonomi dan Keuangan |Metropolitan |Opini |Agama dan Pendidikan |Nusantara |Olah Raga |Luar Negeri |Assalamu’alaikum |Derap TNI-POLRI |Hallo Bogor |Dunia Tasawuf |Forum Berbangsa dan Bernegara |Swadaya Mandiri |Forum Mahasiswa |Lingkaran Hidup |Pemahaman Keagamaan |Otonomi Daerah |Lemb Anak Indonesia |Parlementaria |Budaya |Kesehatan |Pariwisata |Hiburan |Pelita Hati DATABASE:Rumah Sakit |Puskesmas Redaksi Harian PELITA:redaksi@pelita.or.id Copyright © 2003pelita.or.id design bygemari.or.id

Embedly Powered

via Pelita

Sekeras Baja Selembut Sutera

Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia – Sekeras Baja Selembut SuteraDewan Da’wah Islamiah Indonesia, Visi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia adalah untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang Islami dengan menggiatkan dan meningkatkan mutu da’wah di Indonesia \nMisi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia adalah: 1.Menanamkan Aqidah dan menyebarkan pemikiran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah 2.Membendung pemurtadan, ghazwul fikri dan harakah haddamah 3.Menyiapkan du’at untuk berbagai tingkatan sosial kemasyarakatan dan menyediakan saranadalam upaya meningkatkan kualitas da’wah 4.Membina kemandirian ummat dan menyadarkan mereka atas kewajiban da’wah 5.Mengembangkan jaringan kerjasama serta koordinasi ke arah realisasi amal jama’i 6.Membangun solidaritas Islam Internasional dan turut serta menciptakan perdamaian dunia

Embedly Powered

Pemikiran Hamka tentang Politik

(Telaah Penafsiran Hamka dalam Tafsir Al-Azhar)
Oleh: Shohibul Adib, S.Ag. M.S.I.

A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah sumber utama dan fundamental bagi agama Islam, ia di samping berfungsi sebagai petunjuk (hudan) —antara lain dalam persoalan-persoalan akidah, syari’ah, moral dan lain-lain —juga berfungsi sebagai pembeda (furqān). Sadar bahwa al-Qur’an menempati posisi sentral dalam studi keislaman, maka lahirlah niatan di kalangan pemikir Islam untuk mencoba memahami isi kandungan al-Qur’an yang dikenal dengan aktivitas penafsiran (al-tafsir).

Dalam kaitanya dengan penafsiran al-Qur’an, manusia memiliki kemampuan membuka cakrawala atau perspektif, terutama dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang mengandung zanni al-dilalah (unclear ststement). Dari sini tidak dapat disangsikan terdapat penafsiran yang beragam terkait dengan masalah politik antara lain: pertama, yang menyatakan bahwa al-Qur’an memuat ayat-ayat yang menjadi landasan etik moral dalam membangun sistem sosial politik. Kedua, al-Qur’an sebagai sumber paling otoritatif bagi ajaran Islam, sepanjang terkait dengan masalah politik tidak menyediakan prinsip-prinsip yang jelas, demikian pula dengan as-sunnah. Ketiga, terdapat penafsiran yang menyatakan al-Qur’an mengandung aturan berbagai dimensi kehidupan umat manusia di dalamnya termasuk mengatur sistem pemerintahan dan pembentukan negara Islam. Salah satu dari sekian banyak penafsir yang ada adalah Hamka dengan karyanya Tafsir al-Azhar. Bagaimana epistemologi Hamka dalam usahanya menemukan, mengidentifikasi, dan menafsirkan prinsip-prinsip fundamental dari politik Islam sebagaimana yang terkandung di dalam al-Qur’an adalah pertanyaan yang akan dikaji dalam paper ini. Continue reading

Alhamdulillah… Buya Hamka dan Syafruddin Prawiranegara Jadi Pahlawan Nasional

Alhamdulillah… Buya Hamka dan Syafruddin Prawiranegara Jadi Pahlawan Nasional | Republika OnlineDalam hadis riwayat Ubaidillah bin Abu Thalhah RA. diri­wayatkan: ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi saw, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepada saya mengenai puasa yang di wajibkan Allah swt kepada saya?” Beliau menjawab, “Puasa Ramadhan”. ‘Laki-laki itu bertanya lagi, “Apakah puasa lain yang diwajibkan atas saya?” Nabi men­jawab, “Tidak, kecuali jika puasa sunah.” ( HR. Al Bukhari)

Embedly Powered

click here to read more

Surau Buya Hamka

Surau Buya HAMKA (Lubuak Bauak Batipuh) by M.Jihad Hizbullah – West Sumatra – A Journey to ParadiseDescription : Surau yang berdiri sekitar tahun 1884 itu masih berdiri kokoh, meski di beberapa sisi bangunannya sudah lapuk dimakan usia. Surau yang pernah menjadi tempat mengaji Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) untuk menggali ilmu agama yang pengaruhnya sampai ke Malaysia, Singapura dan beberapa negara tetangga lainnya Banyak sejarah lahir di surau ini.

Embedly Powered

Buya Hamka, Pemberontak di Indonesia, Pahlawan Bagi Malaysia

Buya Hamka, Pemberontak di Indonesia, Pahlawan Bagi MalaysiaFaktor kedekatan geografis dan kesamaan bahasa antara Indonesia dan Malaysia, menjadikan keduanya dikenal dengan Negara serumpun. Di perbatasan, teruatama wilayah Riau Kepulauan, terjadi mobilitas yang sangat tinggi dari masing-masing. Jika dirunut jauh ke belakang, banyak kesamaan antara kedua Negara yang sebenarnya dapat saling mengisi satu sama lain. Tetapi seperti hubungan adik-kakak, terkadang hubungan ini harmonis, sering juga miris. Walaupun akhir-akhir ini sedang terjadi pergolakan politik di Malaysia, tapi aku sedang tidak membahas hal tersebut. Pada awal bulan Juli yang lalu, aku berkesempatan berkunjung ke Danau Maninjau di Sumatera Barat. Sekitar seminggu setelah kunjungan ke danau itu, terjadilah gejolak politik di Malaysia. Kemudian pada hari H (9 Juli) terjadinya demonstrasi besar itu, salah seorang keluargaku baru saja kembali dari Malaysia. Jadi, pekan pertamaku di bulan Juli ini dipenuhi dengan hal yang berbau Malaysia. Lalu apa hubungannya dengan Danau Maninjau yang indah itu? Begini ceritanya. Sedikit bercerita, sekitar beberapa bulan yang lalu, aku mengikuti Program Pertukaran Pemuda yang membuatku bertemu dengan Bang Ahmad Fuadi, tepatnya pada penghujung bulan Desember 2010. Pertemuan itu terjadi karena beliau adalah alumni dari program yang aku ikuti saat itu, yang kemudian program tersebut menjadi inspirasi lahirnya novel berjudul “Ranah 3 Warna”.

Embedly Powered

click here to read more

Memperjelas Posisi Hamka Soal Pluralisme Agama

Hidayatullah.com – “Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama”Oleh: Dr. Adian Husaini BELUM lama, pada 20 Maret 2012, salah satu peneliti INSISTS, Akmal Syafril, ST., M.Pd.I., menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme. Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama. Menurut penulisnya, pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafii Maarif yang dimuat di Rubrik Resonansi, surat kabar Republika, edisi 21 November 2006, yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”. Sebagian besar isinya adalah kutipan-kutipan dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. Di bagian awalnya, Syafii Maarif menjelaskan alasan di balik penelitiannya terhadap kedua ayat ini: “Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat al-Baqarah. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana.”

Embedly Powered

 

Mengagumi Hamka

Mengagumi HamkaKamis, 10 April 2008 | 01:36 WIB Tokoh oposisi Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, mengaku kagum kepada Buya Hamka. Itu dia katakan ketika tampil sebagai pembicara kunci pada seminar “Memperingati 100 Tahun Kelahiran Buya Hamka”, Selasa (8/4) di Jakarta. “Saya kenal dengan Buya Hamka sebagai sastrawan melalui perpustakaan kecil ibu saya. Semasa muda, karya Buya Hamka, seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Tashawwuf Modern (1939), dan Tafsir Al-Azhar (ditulis ketika Hamka dipenjara 1964-1966), menjadi bacaan utama saya. Bahkan, Tafsir Al-Azhar yang menemani saya dua kali di istana perkurungan (penjara),” katanya. Ketika di penjara, Anwar mencoba menerjemahkan bagian awal Tafsir Al-Azhar ke dalam bahasa Inggris. Namun, bahasa Buya Hamka terlalu kuat, nuansa peribahasa dan iklim Melayunya begitu “tebal” sehingga sukar baginya untuk menerjemahkan. “Buya Hamka, ulama yang saya hormati, seorang dai yang saya kagumi. Hamka itu tokoh besar, inklusif, toleran. Ia sangat paham karakter orang Melayu. Ia sosok penentang rezim yang ganas, zalim, dan terhadap demokrasi terpimpin dia tegas,” kata Anwar. Satu hal yang pasti, lanjutnya, “Karya sastra Buya Hamka berhasil membentuk diri saya.” (NAL)

Embedly Powered

via Kompas