Al Qur’an Lafaz dan Makna

Setelah kita tinjau dengan seksama pendapat ulama-ulama yang terdahulu, maka terdapatlah kesatuan pendapat yang umum, yaitu bahwa al-Qur’an itu bukanlah semata-mata pada maknanya saja, melainkan mencakupi lafaz dan makna. Sebab itu makanya terdapat beberapa ayat di dalam al-Qur’an yang dengan tegas menyatakan sifat al-Qur’an itu, yaitu Arabi. Ayat ketiga dari Surat 14, dengan tegas menyebut Qur’anan ‘Arabiyan, artinya al-Qur’an yang berbahasa Arab. Sebab itu tidak ada al-Qur”an lain dengan bahasa lain, yang al-Qur’an adalah yang bahasa Arab itu. Kalau dia telah diterjemahkan ke dalam bahasa selain Arab, namanya bukan al-Qur’an lagi, melainkan terjemahan al-Quran.

Seluruh Imam-imam Mazhab sama berpendapat dalam hal itu, yang al-Qur’an ialah yang bahasa Arab itu. Hanya satu kali saja terdapat sedikit pertikaian faham, yaitu karena Imam Abu Hanifah pernah berkata, bahwa bagi orang Ajam yang baru memeluk Islam, kalau lidahnya belum sanggup membaca al-Qur’an dalam sembahyang dengan lafaz Arabnya, bolehlah dia sementara waktu, sebelum pandai membaca bahasa Arabnya, sembahyang dengan bahasanya sendiri.

Sebagaimana diketahui oleh ahli-ahli sejarah, Imam Hanafi itu sendiri memang keturunan Persia, berasal dari daerah Kabul (Afghanistan sekarang). Jadi beliau mengalami dan menyaksikan sendiri banyaknya orang sebangsanya berduyun-duyun masuk Islam, tetapi lidah mereka masih belum lancar mengucapkan huruf-huruf al-Qur’an, sedang dalam agama tidak ada paksaan. Itu sebabnya beliau berpendapat bahwa sebelum fasih, biarlah sembahyang dengan bahasa sendiri, tetapi wajib selalu berusaha, sehingga makhraj-makhraj huruf Arab itu bisa diucapkan dengan tepat.

Lantaran beliau pernah menyatakan pendapat seperti ini, maka adalah orang yang datang kemudian memperluas pula dengan kesimpulan sendiri itjihad beliau yang demikian. Lalu mereka berkata bahwa Imam Hanafi berpendapat bahwa al-Qur’an itu hanya makna saja, tidak usah lafaznya. Padahal setelah dikaji dan ditilik kitab-kitab yang menuliskan ijtihad Imam Hanafi, tidaklah pernah beliau mengatakan bahwa al-Qur’an itu hanya makna saja. Dan tidak masuk akal kita bahwa Imam Hanafi yang bergelar al-Imamul A’zham akan mengemukakan pendapat demikian, karena sudah menjadi pengetahuan umum, bahwasannya makna yang asli dari satu bahasa, terlalu sukar dapat diartikan di dalam bahasa yang lain.

Bahkan terjemahan ke dalam satu bahasa sajapun tidaklah sama di antara satu penterjemah dengan lain penterjemah. Dan bahasa tempat menterjemahkan itupun selalu berkembang yang kadang-kadang satu patah perkataan 100 tahun yang telah lalu, sudah berbeda dengan yang sekarang ini. Kita misalkan saja kata “pemancar” yang 100 tahun yang lalu artinya ialah pancaran air, sedang arti pada zaman sekarang ialah satu stasiun radio.

Oleh karena itu kita terjemahkan dan kita tafsirkan al-Qur’an ini ke dalam bahasa Indonesia Modern yang sedang berkembang, dengan berkembang kepada pendapat Imam Abu Hanifah tadi, yaitu untuk membimbing orang yang tidak tahu bahasa Arab tetapi ingin mengetahui al-Qur’an, dan kita peringatkan bahwa ini adalah terjemah. Sudah lebih daripada 10 macam terjemah yang al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia, namun bahasa dan gaya bahasa dari terjemah yang lebih dari 10 itu tidaklah sama, sebab semua itu adalah pendapat manusia, dan dalam atau dangkalnya pengetahuan manusia, bukanlah dia al-Qur’an.

Di zaman Islam dan negara-negara Islam dalam puncak kekuatannya. Ulama-ulama Islam berpendapat bahwa naskah al-Qur’an tidak boleh dibawa ke negeri orang kafir dan al-Qur’an tidak boleh (haram) jika diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Sebab larangan membawa ke negeri yang bukan Islam ialah takut al-Qur’an itu akan diperhina-hina. Dan larangan terjemah ialah karena sudah nyata bahwa terjemahan tidak akan sama dengan aslinya. Tetapi fatwa-fatwa yang demikian sekarang telah mulai berubah, sebab zamanpun telah berubah, terutama dengan adanya alat-alat pencetak, sehingga al-Qur’an yang mula-mulai dicetak dengan percetakan bukanlah di Mesir, Damaskus atau di Makkah tetapi di Hamburg, Jerman.

Tentang hal terjemah, kian lama, karena kian melihat kenyataan, tidaklah besar lagi jumlah Ulama yang mengharamkannya, sebab telah dirasai betapa terjemah al-Qur’an ke dalam bahasa-bahasa Barat, yang kadang-kadang terdapat pula terjemahan yang salah. Maka untuk menandingi ini tidak lagi ada jalan lain bagi Ulama-ulama Islam yang bertanggungjawab, melainkan membolehkan penterjemahan. Tetap sama pula pendapat sekalian Ulama Islam zaman modern, bahwa hendaklah ayat-ayat yang asli dengan huruf Arabnya dan nomor-nomor ayat dicantumkan pula di samping terjemahan itu, supaya dapat dibandingkan oleh ahli-ahli yang lain benar dan salahnya, tepat atau janggalnya terjemahan itu.

Syukurlah kita kepada Tuhan, sebab baik bacaan al-Qur’an dengan makhraj dan hurufnya dan tajwid atau perkembangan tulisannya, masih tetap asli menurut naskah yang pertama. Inilah keutamaan al-Qur’an yang melebihi naskah Taurat dan Injil. Keaslian al-Qur’an adalah mutawatir, artinya diterima dan dihafal oleh beribu-ribu orang yang mustahil akan sepakat berdusta dan diajarkan turun-temurun dari nenek kepada anak dan kepada cucu.

Sekarang kita terjemahkanlah tiap-tiap ayat al-Qur’an yang 30 Juzu’, 114 Surat dan 6.236 ayat itu, ke dalam bahasa Indonesia atau Melayu, dan di samping terjemah, penulis ini mencantumkan pula bunyi ayat aslinya dengan huruf Arabnya. Tidak ada salinan bacaan-bacaan bahasa Arab al-Qur’an itu dalam huruf lain. Kecuali sedikit-sedikit beberapa kali di dalam tafsir. Sebab penulis “Tafsir” ini insaf benar bahwa huruf Latin (Rumi) yang hanya 26 buah tidaklah cukup untuk menggantikan huruf Arab yang 29 buah.

Maka Tafsir al-Qur’an, Tafsir Al-Azhar ini, yang di dalamnya kita telah mencoba menterjemahkan ayat demi ayat ke dalam bahasa Indonesia atau Melayu, adalah menyambung usaha nenek-moyang yang terdahulu sebagaimana Syaikh Abdurrauf bin Ali Fanshurri di dalam abad ketujuhbelas Masehi di negeri Aceh Darussalam, dan menyertai pula usaha teman-teman sebaya yang lain dan terjemah mereka masing-masing. Mungkin akan terdapat kealpaan, sebab yang aku kerjakan ini adalah satu pekerjaan amat besar dibandingkan kepada kecilnya diriku dan piciknya ilmuku. Maka kepada peminat al-Qur’an kita bersama serukan bahwa penafsiran dari tiap-tiap penafsir tidaklah sama, masing-masing diberi warna oleh kepribadian penafsir itu sendiri, dalam dangkal ilmunya, pendidikannya dan pengalamannya. Sebab itu kita saling mengingatkan sekali lagi bahwa tafsir ini belumnya cukup. Yang cukup dan lengkap hanyalah al-Qur’an itu sendiri.

Maka untuk mendekati kecukupan itu sebaiknyalah angkatan muda Islam jangan hanya membaca terjemah dan tafsir ini, cukupkanlah dengan segala macam terjemah dan tafsir yang telah ada, di antaranya Tafsir Al-Azhar ini sebagai pembimbing saja bagi mencapai masuknya Nur ayat-ayat al-Qur’an ke dalam jiwa masing-masing saudara, sehingga seorang Muslim yang mencukupi artikata dengan Nur al-Qur’an itu.

Dan sebagai kita katakan di awal uraian di atas tadi, hendaklah selalu Muslim memfasihkan membacanya. Kalau sudah kelu lidahnya, karena bekas pengaruh penjajahan, hendaklah dia menyerahkan anaknya belajar bacaan al-Qur’an itu kepada seorang guru yang pandai dan fasih, yang memahami tajwid dan qiraat al-Qur’an. Sebab sebagaimana dikatakan tadi, al-Qur’an ialah lafaznya dan maknanya. Al-Qur’an ialah yang berbahasa Arab itu. Dan kalau diterjemahkan, maka dia bukanlah al-Qur’an melainkan “terjemahan al-Qur’an”.