Menafsirkan Al Qur’an – bagian 10

Ada lagi beberapa contoh yang lain, menunjukkan bahwa satu ayat hendaklah ditafsirkan dengan ayat yang lain. Di sinilah terasa betapa pentingnya :lalu membaca al-Quran, sedapat-dapatnya hafal al-Quran sehingga tahu memasangkan di antara satu ayat dengan ayat yang lain, ayat yang kurang jelas, akan dijelaskan oleh ayat yang lain. Ayat yang mujmal (secara umum) dimufashalkan (diperincikan) oleh ayat yang lain pula.

Kalau tidak dapat lagi ayat ditafsirkan dengan ayat, barulah beliau pindah kepada Sunnah Nabi. Sebab Nabi sendiripun pernah mengatakan:

“Ketahuilah olehmu, sesungguhnya aku telah diberi ilmu al-Kitab, dan seumpamanya itu pula sertanya!”

Artinya bahwa Nabi Muhammad s.a.w. telah diberi Tuhan ilmu-ilmu yang berkenaan dengan al-Kitab, yaitu al-Quran, dan bersama dengan ilmu al-Quran itu diturunkan Tuhan pula tafsirnya dengan Sunnah beliau.

Kalau sabda Nabi tidak pula bertemu yang mengenai itu, beliau tiliklah kata sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. Sebab riwayat-riwayat dari sahabat-sahabat itu diterimanya dan disaksikannya dari Nabi. lbnu Mas’ud pemah mengatakan, “Demi Allah! Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Tidaklah diturunkan suatu ayatpun daripada Kitab Allah, melainkan sayalah yang tahu kepada siapa dia diturunkan dan dimana dia diturunkan. Dan kalau aku mengetahui ada seeorang yang lebih tahu daripadaku tentang Kitab Allah, betapapun jauh tempat kediamannya, asal masih dapat dicapai dengan kenderaan, niscaya kudatangi dia.”

Dan Nabi s.a.w. pun pernah mendoakan agar Abdullah bin Abbas diberi petunjuk oleh Tuhan, “Ya Allah, berilah kiranya dia faham yang dalam tentang agama dan berilah dia pengetahuan tentang ta’wil.”

Arti ta’wiI hampir sama dengan tafsir.

Kalau beliau – lbnu Taimiyah – tidak mendapat lagi bahan tafsir dari kata-kata sahabat Rasulullah, beliaupun pindah kepada pendapat Tabi`in.  Tetapi di sini beliau lakukan saringan lebih keras. Yaitu beliau ambil mana yang ijma’ di antara mereka. Kalau ada satu pendapat yang mereka perselisihkan, beliau pilihlah pendapat yang lebih dekat kepada bahasa al-Quran (lughat) dan pengetahuan tentang Sunnah (llmu Sunnah).

Dengan pendirian dan cara demikian beliau mempunyai keyakinan bahwa tidak ada satu ayatpun daripada ayat yang 6,236 itu yang tidak dapat ditafsirkan.  Beliau dan orang-orang yang sefaham dengan dia tetap berpendirian bahwa penafsiran al-Quran tidak boleh dicampuri dengan pendapat sendiri.