Menafsirkan Al Qur’an – bagian 11

Tetapi ada lagi pendapat yang kedua, yang dipelopori oleh al~lmam Jarullah az-Zamakhsyari dan disokong oleh beberapa ahli tafsir yang lain, bahwa menafsirkan al-Quran pendapat sendiri yang sihat tidak ada salahnya. Malahan yang demikian tidak bisa dielakkan. Sebab bila orang merenung-renung tiap-tiap ayat, menurut peredaran waktu dan tempat, orang selalu akan berjumpa makna yang baru. Orang selalu akan mendapat ilham, yang di dalam tafsir-tafsir yang terdahulu tidak ditemui.

Dasar pendirian ini pernah diuraikan pula oleh lmam Ghazali dalam lhyaa’ Ulumuddin sebagai berikut:

Di dalam al-Quran terdapat segala ilmu agama. Yang setengah diterangkan secara langsung dan setengahnya lagi cukup dengan isyarat saja. Setengah dengan ijmal dan setengah lagi dengan tafshil. Semuanya itu hanya akan didapat dengan pemikiran yang mendalam dan kesungguhan menyelidik. Tidak cukup dengan hanya menilik zahir ayat, bahkan tidak pula cukup dengan hanya penggantungan harapan kepada pendapat Salaf. Bahkan dia meminta renungan yang mendalam dan kesanggupan mengeluarkan butir-butir makna yang tersimpan di dalamnya, laksana mutiara yang tersimpan di dalam kulit giwang di dasar laut, yang tidak bertentangan dengan pokok dasar.

Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: “Barangsiapa yang ingin mengetahui ilmu orang purbakala dan ilmu orang yang datang kemudian, hendaklah merenungkan al-Quran.”. Keinginan itu tidak akan tercapai kalau tidak ada perenungan sendiri,

Dan lagi di dalam al-Quran itulah yang selengkap-lengkapnya diterangkan sifat-sifat dan nama-nama Allah (al-Asma-ul Husna) dan diterangkan juga perbuatanNya dan zatNya yang suci. Di dalam kehidupan Tauhid, akal manusia tidak cukup hanya membaca yang tertulis. Dia menghendaki pemahaman yang mendalam.

Nabi s.a.w. pernah bersabda, “Barangsiapa yang memahamkan al-Quran, dia dapat mentafsirkan sejumlah besar ilmu.”

Selain dari itu, di dalam Surat al-Baqarah ayat 296 Tuhan memfirmankan bahwa Dia akan mengkaruniakan hikmah kepada sesiapa yang Dia kehendaki.  Dan orang yang telah diberi kurnia hikmah itu samalah artinya dengan mendapat anugerah yang sangat banyak sekali. Hikmah diartikan orang juga kebijaksanaan, diartikan orang juga filsafat, diartikan orang juga mengetahui yang tersembunyi. Bangsa lndonesia pernah membuat satu ungkapan kata, bahwa, “Hikmah” itu artinya “mengetahui yang tersirat di balik yang tersurat.”

Bagaimana akan dapat dikeluarkan hikmah itu kalau kita tidak dibolehkan mentafsirkan al-Quran di luar dari garis yang ditunjukkan oleh pendapat yang dipelopori Ibnu Taimiyah itu?

lbnu Abbas pernah didoakan oleh Rasulullah s.a.w. supaya dia dapat memahami agama lebih mendalam dan mengetahui ta’wil atau tafsir. Di dalam al-Quran ada ayat yang terang-terang menyuruh manusia supaya memohonkan kepada Tuhan agar ditambahi kiranya ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *