Menafsirkan Al Qur’an – bagian 12

“Katakanlah: Ya Tuhanku, tambahilah untukku ilmu.”

Sedang ilmu itu sangatlah luasnya, sehingga berapapun yang dimohonkan manusia, tidaklah cukup umurnya buat menampung ilmu yang sangat banyak. Orang-orang yang arif bijaksana, bila merenung al-Quran, bukan saja akan mendapat ilmu agama, bahkan ilmu yang umumpun.

lmam Ghazali bukan saja mengemukakan dalil sebagai yang kita simpulkan di atas itu, bahkan mengatakan pula bahwa menafsirkan al-Quran hanya semata-semata dikelilingi Sunnah tidaklah mencukupi, karena Hadis yang ma’tsur dari Nabi s.a.w. dengan sanadnya yang shahih, yang mengenai tafsir al~Quran sangatlah sedikit. Dan tafsir dari sahabat-sahabat kebanyakan pula hanya dari pendapat mereka. Maka oleh sebab itu kata lmam Ghazali sebaliknyalah kita ikuti jejak sahabat-sahabat Rasulullah itu, yaitu membanting tulang dan memikirkan al-Quran dengan mendalam pula, sehingga kitapun dapat mengeluarkan ra’yi, sebagai sahabat-sahabat itu pula. Demikian juga terhadap tabi’in.

Kata lmam Ghazali lagi, bila direnung pendapat-pendapat penafsiran sahabat-sahabat dan tabi’in, nyata sekali dalam banyak hal mereka tidak bersamaan penafsiran. ltulah bukti bahwa mereka telah memakai ra`yi sendiri di dalam menafsirkan al-Quran.

lmam Ghazali pun mengakui bahwa menafsirkan al-Quran tidak boleh hanya semata-mata dengan akal, demikianpun tidak boleh hanya semata-mata berpegang kepada naqal.  Artinya jangan hanya semata-mata berpegang kepada pendapat sendiri, dan hanya semata-mata menaqal atau mencopy pendapat orang-orang yang telah terdahulu. Di dalam hal yang mengenal ibadat tentu kita wajib berpegang kepada Sunnah Rasul. Tetapi kita tahu bahwa isi al-Qur’an yang 6.236 ayat bukanlah semata-mata peraturan. Menyuruh merenungkan alam, jauh lebih banyak ayatnya daripada menguraikan dari hal ibadat.  Sedang Salaf, sejak sahabat-sahabat Rasulullah sampai kepada tabi’in dahulu kala itu, dengan segala kerendahan hati, harus kita katakan dengan tegas bahwa pengetahuan beliau-beliau tentang ilmu alam belumlah semaju zaman sekarang ini. Bahkan dalam tafsir-tafsir selanjutnya penafsiran ayat-ayat demikian masih saja mencerminkan tingkat hasil pengetahuan manusia zaman itu belaka. Masih kita dapati dalam tafsir-tafsir zaman lampau itu bahwa bumilah pusat alam, dan mataharilah yang mengelilingi bumi. Ketika menafsirkan ayat-ayat yang berkenaan dengan pengembaraan Zulkarnain ke Timur dan ke Barat masih saja didapati tafsir berkata bahwa matahari itu benar-benar terbenam ke dalam lumpur di ujung dunia.

Demikian juga berkenaan dengan kisah-kisah yang terdapat di dalam al-Quran. Masih didapati penafsiran bahwa kepala kaum ‘Ad itu sebesar qubah sebuah mesjid dan tinggi mereka 30 hasta mereka sendiri, sehingga bila mendengar berita itu sudah dapat dipastikan bahwa panjang tangan mereka  tidak seimbang dengan panjang badan mereka, padahal di ayat yang lain, yaitu di dalam Surat at-Tin, Tuhan bersabda bahwa Allah menjadikan manusia adalah dalam sebaik-baik rupa dan bentuk (ayat 4).