Menafsirkan Al Qur’an – bagian 13

Lantaran itu maka dengan sendirinya pendapat lmam Zamakhsyari dan lmam Ghazali inilah yang akan dapat diterima oleh kita yang datang di belakang ini. Sebab ibadat kepada Allah dan akidah tentang Tauhid selamanya tidak akan berubah. Tetapi pengetahuan tentang alam selalu berkembang, dan luarbiasa perkembangannya. Padahal al-Quran mengatasi seluruh zaman yang dihadapinya.  Oleh sebab itu maka al-Quran akan selalu dapat ditafsirkan, sesuai dengan ilmu pengetahuan, melalui ruang dan waktu, tidak berhenti-henti.  Sebab lslam adalah melengkapi dan mengatasi segala agama dan Muhammad s.a.w. adalah Nabi untuk akhir zaman, dan sesudah dia tidak ada Nabi lagi.

lmam al-Qisthallani, pengarang kitab Fathul Bari, yaitu syarah Hadits Bukhari yang masyhur telah menyatakan pula fahamnya di dalam kitab tersebut, bahwasanya seorang alim Jawaz (boleh saja) mengeluarkan pendapatnya, sebagai hasil pemahamannya terhadap al-Quran, meskipun hasil pendapatnya itu tidak sama dengan hasil pendapat ahli-ahli tafsir yang terdahulu.  Dan Ulama-ulama yang terkemuka di dalam soal-soal tafsir telah pula menentukan dua syarat di dalam seseorang penafsir mengeluarkan pendapat yang baru dalam menafsirkan al-Quran. Pertama hendaklah sesuai pokok-pokok alasan yang dikeluarkannya dengan bahasa Arab, bahasa al-Quran itu. Kedua hendaklah paham baru itu jangan menyalahi pokok-pokok ajaran agama yang pasti (Ushuluddin al-Qath’iyah).

Baik golongan lbnu Taimiyah, ataupun golongan lmam Ghazali atau jalan lapang yang diberikan oleh al-Qisthallani, sama pendapat mereka bahwa menafsirkan al-Quran menurut hawa nafsu sendiri, atau mengambil satu-satu ayat untuk menguatkan satu pendirian yang telah ditentukan terlebih dahulu adalah terlarang (haram); penafsiran seperti ini adalah tafsiran yang curang.

Yang kedua ialah segera saja, dengan tidak menyelidiki terlebih dahulu, menafsirkan al-Quran, karena memahamkan zahir maksud ayat, dengan tidak terlebih dahulu memperhatikan pendapat dan penafsiran orang yang dahulu.  Dan tidak memperhatikan ‘uruf (kebiasaan) yang telah berlaku terhadap pemakaian tiap~tiap kata (lafaz) dalam al-Quran itu. Dan tidak mengetahui uslub (gaya) bahasa dan jalan susunan. Hal yang semacam inilah yang dinamai berani-berani saja memakai pendapat sendiri (ra’yi) dengan tidak memakai dasar.  lnilah yang dinamai Tahajjum atau ceroboh dan bekerja dengan serampangan.

Pendeknya, betapapun keahlian kita memahamkan arti dari tiap-tiap kalimat al-Qur’an, kalau kita hendak jujur beragama, tidak dapat tidak, kita mesti memperhatikan bagaimana pendapat Ulama-ulama yang terdahulu, terutama Sunnah Rasul, pendapat sahabat-sahabat Rasulullah dan tabi’in dan Ulama ikutan kita. ltulah yang dinamai riwayah, terutama berkenaan dengan ayat-ayat yang mengenai hukum-hukum.  Dan dalam hal yang lain tadi, akal dan luasnya penyelidikan kita dalam berbagai ilmu, adalah amat penting dan perlu dalam menafsirkan al«Qur’an. Dengan syarat asal saja akal itu jangan sampai menyeleweng daripada Nur yang telah diterangkan oleh syariat!

Maka agar supaya menafsir dengan akal dapat diterima hendaklah kita penuhi empat syarat:

  1. Mengetahui bahasa Arab, dengan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan, supaya dapat mencapai makna dengan sejelas-jelasnya.
  2. Jangan menyalahi dasar yang diterima dari Nabi Muhammad s.a.w.
  3. Jangan berkeras urat-leher mempertahankan satu mazhab pendirian lalu dibelok-belokkan maksud ayat al»Quran agar sesuai dengan mazhab yang dipertahankan itu.
  4. Niscaya ahli pula dalam bahasa tempat dia ditafsirkan.