Menafsirkan Al Qur’an – bagian 2

Dan syukur Alhamdulillah Sunnah Rasul, sejak dari perkataan-perkataan beliau, sampai perbuatan orang lain yang tidak beliau tegur, dengan kerja keras para ahlinya telah terkumpul menjadi kitab-kitab Hadits, mana yang mustafidh (sangat terkenal), mana yang shahih, mana yang hasan dan mana yang dha’if.

Kita jelaskan sekali lagi.

Kalau ada orang yang berani menafsirkan al-Quran yang berkenaan dengan ayat-ayat hukum yang demikian, tidak berpedoman kepada Sunnah Rasul, maka tafsirnya itu telah melampaui batas, keluar dari garis yang ditentukan oleh Syariat.

Sebab itu tidak seyogyanya, tidak masuk akal bahwa seseorang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul berani-berani saja menafsirkan al-Quran yang berkenaan dengan halal-haram menurut kehendaknya sendiri, padahal Sunnah Nabi telah ada berkenaan dengan itu. Nabi telah meninggalkan kepada kita jalan yang lurus dan jelas, malamnya sama terang dengan siangnya, dan selama-lamanya kita tidak akan tersesat dari dalam agama ini, atau terpesong keluar dari dalam garisnya, selama kita masih berpegang teguh kepada yang dua itu, yaitu Kitab dan Sunnah. Maka barangsiapa yang hendak mengenal Fiqhil-Quran, tidaklah akan berhasil maksudnya kalau dia tidak mempelajari Sunnah.

Seseorang yang berani menafsirkan al-Qur’an yang berkenaan dengan hukum-hukum dengan pendapatnya sendiri, padahal Sunnah ada, samalah halnya dengan orang yang masih saja memakai Qiyas, padahal Nash sudah ada dalam hal yang dia tinjau itu. Orang yang bertindak demikian, tidaklah lagi berfikir di dalam garis yang ditentukan oleh Islam.

Pengecualian hal ini hanya satu. Yaitu apabila terdapat Nash al-Qur’an itu jelas, terang, nyata, sehingga tidak perlu tafsiran lagi, lalu bertemu pula Hadits Aahad, yaitu Hadits Rasulullah SAW yang diberitakan oleh perawi-perawi Hadits dengan jalan yang bukan masyhur, sedang isi makna Hadits itu berlawanan dengan Nash yang shahih (jelas) dan nyata dari al-Qur’an itu.

Di dalam hal yang seperti ini kita berhadapan dengan Nash al-Qur’an yang jelas nyata, masuk akal, tidak meragukan, bertentangan dengan hadits yang maknanya bertentangan dengan al-Qur’an dan ragu akan kebenaran hadits itu, sebab kebenaran tidak dua, hanya satu. Pada saat itu barulah hadits tadi ditinggalkan. Dengan kesadaran bukanlah Rasulullah yang diragui kebenarannya, melainkan kekhilafan daripada perawi-perawi hadits itu.

Hal-hal yang seperti ini akan berjumpa dua tiga kali di dalam tafsir kita ini, Insya Allah.

Bagian kedua dari al-Qur’an ialah bersangkutan dengan “Akidah”, atau kepercayaan dan dikenal juga dengan kata bahasa asing yang telah kita populerkan dalam bahasa Indonesia, yaitu “doktrin”. Untuk menegakkan akidah, al-Qur’an kerapkali mengemukakan perbandingan dan anjuran-anjuran supaya meninjau dan mencurahkan perhatian. Lalu dia membukakan sedikit tabir rahasia kejadian alam, semua langit dan bumi, perjalanan matahari dan bulan dan bintang-bintang, perkisaran angin dan awan, turunnya hujan dan suburnya bumi dan lain-lain.