Menafsirkan Al Qur’an – bagian 3

Segala perumpamaan al-Qur’an yang membawa rahasia alam itu, maksudnya ialah buat mendapat kesadaran iman kepada Allah di dalam jiwa kita. Dia adalah bahan-bahan atau fakta-fakta yang indah sekali buat diilmukan. Maka di dalam menafsirkan ayat-ayat keadaan alam ini adalah dua hal yang perlu :

  1. Pengetahuan kita tentang makna dari tiap lafaz yang tertulis dalam ayat itu.
  2. Pengetahuan kita tentang ilmu alam yang berkenaan dengan ayat itu.

Terus terang kita katakan di sini, bahwa Rasulullah SAW atau Sunnah tidaklah banyak meninggalkan penjelasan tentang itu. Pengetahuan tentang alam belumlah meluas pada masa itu, baik dalam masyarakat Arab sekeliling ataupun pada diri Rasulullah sendiri. Tidaklah kita salah kalau kita katakan bahwa Rasulullah tidak mengetahui ilmu falak dan ilmu hisab dan itu tidaklah satu kehinaan dan cacat bagi beliau, malah itulah kemegahan beliau. Bacalah Surat Yunus (Surat 10) ayat 5. Di sana diterangkan bahwa Allah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditentukan jangka ukuran jalannya masing-masing. Dalam ayat itu nyata-nyata diterangkan bahwa yang demikian itu ialah supaya kamu mengetahui bilangan tahun ke tahun dan ilmu hitung, tetapi Nabi sendiri tidak pandai ilmu hisab.

Di dalam Surat al-Isra’ (Surat 17) ayat 11, pun bertemu makna yang sama. Di sana dikatakan bahwa Allah menjadikan malam dan siang sebagai dua tanda dari kebesaran Tuhan, pertandaan malam dihapuskan dan pertandaan siangpun datang dengan terang-benderang, supaya kamu dapat berusaha mencari kurnia Allah, dan supaya kamupun tahu bilangan tahun dan hisab. Dan ayat yang serupa dimaksudnya dari mulut Nabi supaya ummatnya mengetahui hal itu dan menambah ilmunya, padahal di dalam satu Hadits yang sahih riwayat Bukhari dan Muslim beliau bersabda bahwa beliau dan ummat di sekelilingnya waktu itu adalah ummat yang ummi, tak tahu tulis dan baca, bilangan bulan yang nyata ialah 29 dan 30. Cuma itu yang beliau tahu.

Maka dalam soal-soal yang berkenaan dengan hal-ihwal dalam alam ini, seorang penafsir hendaklah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Kalau kita tilik tafsir-tafsir yang dikarang di zaman lampau, dapatlah kita lihat betap corak ilmu orang di zaman itu, yang masih sangat ketinggalan oleh kemajuan ilmu pengetahuan alam di zaman modern ini. Tiap dilihat ayat-ayat itu dengan kaca ilmu pengetahuan yang ada di zamannya, kian tampak perubahan tafsirnya. Adapun ulama zaman kita ini yang banyak menafsirkan panjang lebar tentang ilmu pengetahuan keadaan alam itu ialah Syaikh Thanthawi Jauhari.

Asal saja kita ingat tujuan ayat-ayat itu, yaitu memperkuat Tauhid Uluhiyah dan Rububiyah, tidaklah ada salahnya jika kita tafsirkan ayat-ayat itu menurut pengetahuan kita. Dan jika di dalam tafsir kita ini terdapat beberapa keterangan yang tidak memuaskan terhadap ayat-ayat yang demikian, sekali-kali bukanlah ayat itu sendiri dan makna yang terkandung di dalamnya yang salah, melainkan tentu saja penafsirlah yang kurang pengetahuan. Dan itupun dapat dimaklumi karena pengetahuan penulis “Tafsir” ini tentang ilmu keadaan alam itu sangatlah kurang.

Bagian ketiga dari al-Qur’an ialah yang bersangkut dengan kisah-kisah dan cerita-cerita zaman lampau. Maksud dan tujuan cerita itu ialah untuk pengajaran dan i’tibar. Di dalamnya banyak disebutkan perjuangan Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah menegakkan faham Tauhid dan soal-jawab di antara mereka dengan umat yang mereka datangi. Banyak kita bertemu nama Nabi-nabi sejak dari Nuh, Idris, Ibrahim, Musa, Ismail dan lain-lain, dan yang terbanyak sekali ialah kisah Musa, baik seketika beliau menentang Fir’aun ataupun setelah memimpin Bani Israil selepas menyeberangi Laut Qulzum menuju Palestina.