Menafsirkan Al Qur’an – bagian 4

Maksud segala kisah itu, termasuk kisah panjang seluruh Surat, yaitu kisah Nabi Yusuf, bukanlah kisah itu sendiri, melainkan isi pengajaran dan perbandingan (i’tibar) yang ada di dalamnya. Cara penafsirannya ialah bahwa satu bagian dapat melengkapi bagian yang lain. Misalnya kisah perjuangan Musa, kita dapat mengetahui keadaan Musa sejak dia baru lahir ke dunia sampai seluruh tingkat-tingkat perjuangannya dengan menafsirkan satu bagian ke bagian yang lain. Dan setelah kita selidiki di dalam Hadits-hadits Nabi yang shahih, penafsiran tentang kisah ini adalah sedikit sekali. Yang ada agak banyak ialah dari riwayat sahabat Rasulullah SAW terkemuka sekali, Abdullah bin Abbas dan ABdullah bin Mas’ud. Tetapi kadang-kadang beliaupun mengakui bahwa tafsir itu juga yang beliau terima dari riwayat Ahlul-Kitab. Kemudian itu banyak lagi Tabi’in, yaitu murid-murid dari sahabat-sahabat Rasulullah, mengeluarkan riwayat-riwayat sebagai tambahan dari apa yang tertulis dalam al-Qur’an.

Kita kemukakan di sini satu misal, yaitu kisah pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Sebenarnya kita ketahui, Nabi Musa berjalan diiringi oleh bujangnya (menurut riwayat setengah ahli tafsir, ialah Nabi Yusya’). Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa ikan dijinjing bujangnya itu melompat ke laut dan mencari jalannya sendiri secara ajaib sampai ke laut. Maka menurut tafsir dari Said bin Jubair, ikan itu ialah seekor ikan yang telah dikeringkan dan dibelah, telah diasinkan, bahkan sebagian dari kepalanya sudah dimakan oleh Yusya’. Artinya ikan itu sudah jelas mati ketika melompat ke laut.

Ini adalah tafsir, yang kata Said bin Jubair diterimanya dari riwayat Ibnu Abbas, tetapi hadits Nabi yang shahih tidak ada yang mendukung dan dalam ayat itu sendiri tidak ada disebut ikan itu telah mati, dikeringkan, dan diasin, sehingga kalau kita tidak membaca tafsir, bahkan langsung saja membaca ayat kita bisa memahamkan bahwa ikan itu adalah ikan hidup, lalu melompat ke laut setelah melihat air, sebagai ikan semelang atau ikan panjang atau ikan belut dan beberapa macam ikan lagi yang bisa bertahan berjam-jam di luar air, dan langsung melompat ke air kalau ada kesempatan.

Bagian ketiga inilah yang agak rumit di dalam penafsiran al-Qur’an. Di bagian inilah kita kerap kali bertemu dongeng-dongeng yang tidak masuk akal kalau dibangsakan kepada Agama Islam yang menghormati pemurnian akal. sebagai satu tafsir tentang bintang Seroja (Kejora, Bintang Timur) yang menurut satu tafsir, katanya, bintang itu ialah penjelmaan dari seorang perempuan cantik yang pernah diganggu oleh Malaikat Harut dan Marut.

Di dalam inilah campur aduk di antara yang masuk akal dengan yang karut, di antara dongeng-dongeng dengan kenyataan, sehingga sekali-kali kebenaran ayat al-Qur’an diliputi oleh lumut khurafat yang tak masuk akal. Inilah yang dinamakan Israiliyat, yaitu cerita-cerita yang kerapkali dibawa oleh orang Yahudi (sengaja ataupun tidak) yang masuk Islam. Yang sangat terkenal ialah Ka’bul Ahbar dan Wahab bin Munabbih, keduanya orang Yahudi yang masuk Islam, banyak membawa dongeng Israiliyat itu, didengar oleh sahabat, lalu mereka salin. Apatah lagi oleh Tabi’in. Kadang-kadang mereka salin dengan tidak memakai komentar, hanya semata-mata untuk bahan saja bagi kita yang datang di belakang masa.