Menafsirkan Al Qur’an – bagian 5

Maka terhadap bagian ini penafsir hendaklah berhati-hati, tidaklah mengapa kalau suatu riwayat yang bukan shahih dari Nabi ditinggalkan saja, dan tidaklah mengapa kalau dibatalkan riwayat-riwayat yang tidak masuk akal, dan tidak dipedulikan kalau tidak sesuai samasekali dengan al-Qur’an. Gunanya ialah untuk memberantas pengaruh tafsir-tafsir yang telah beredar dalam masyarakat kita, yang dijadikan alat untuk mmengasyikkan orang mendengar tabligh oleh setengah guru-guru yang tidak bertanggungjawab. Dan penafsir bersedia dituduh keluar dari “Ahlus Sunnah wal Jama’ah” kalau sekiranya membatalkan riwayat-riwayat yang tidak masuk akal itu dipandang salah oleh golongan-golongan yang hanya menjadi budak dari tafsir-tafsir semacam itu.

Barangkali timbul pertanyaan mengapa sahabat-sahabat Rasulullah SAW atau Tabiin menyalin juga riwayat yang demikian, dengan tidak ada pertimbangan mereka sendiri atas benar dan tidaknya. Ialah karena Rasulullah SAW pernah memesankan, bahwa kalau mereka mendengar kisah dari ahlul-kitab itu, dengarkan sajalah, jangan diakui kebenarannya dan jangan pula segera didustakan.

Maka jauhlah lebih aman jika ayat-ayat yang mengenai kisah-kisah itu kita turuti bagaimana adanya di dalam al-Quran itu saja, dengan sedikit analisa menurut tanggapan sendiri, dengan catatan bahwa analisa itupun barangkali benar barangkali salah. Sebab yang dimaksudkan dengan segala kisah di dalam al-Quran itu bukanlah perincian kisah melainkan tersebut di dalam al-Quran sendiri, Sebagai tersebut di dalam Surat Yusuf, pada ayatnya yang penghabisan sekali (ayat 111).

“Sesungguhnya dalam kisah orang-orang itu, adalah untuk pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai inti-fikiran; bukanlah dia dongeng yang dibuat-buat, melainkan membenarkan apa yang telah terdahulu daripadanya dan penjelasan bagi segala sesuatu, petunjuk dan rahmat untuk kaum yang beriman”.

Begitu jelas dimaksudkan Tuhan menerangkan kisah-kisah sebagai wahyu, bukan untuk dongeng yang dibuat-buat, artinya bukan ceritera roman atau mythos laksana ceritera Ramayana dan Mahabrata. Tetapi apabila penafsir melihat beberapa tafsir, di antaranya Tafsir al-Khaazin, bertemulah banyak tambahan yang telah membelokkan tujuan kisah al-Quran daripada untuk pengajaran dan pefunjuk, menjadi dongeng-dongeng yang disadari atau tidak, telah mengotori al-Quran.

ltulah martabat pertama dari tafsir.