Menafsirkan Al Qur’an – bagian 6

Adapun martabat yang kedua ialah perkataan sahabat-sahabat Rasulullah.
Tentu saja sesudah mencari penafsiran daripada Sunnah, kita mencarinya pada pendapat dan perkataan sahabat-sahabat Rasulullah; sebab sudah nyata bahwa mereka hadir di hadapan Rasulullah seketika ayat diturunkan. Dan lagi mereka mengetahui sebab-sebab turunnya ayat (Asbabun-Nuzul). Sebab-sebab turun ayat itu tidak dapat tidak, adalah dia jalan yang jelas dan nyata untuk ditempuh. Kemudian itu, sehabis mengetahui turunnya ayat, tentu disadari pula bahwa ayat ini akan berlaku terus menerus di dalam hal yang sama ‘illatnya. Di sinilah timbul suatu ungkapan ahli-ahli Fiqh dan Ushul Fiqh:

“Yang jadi perhatian inilah arti yang umum yang dimaksud oleh lafaz, bukan terkhusus kepada sebab mengapa dia diturunkan”.

Kata-kata sahabat-sahabat yang khas di dalam menafsirkan al-Quran itu mengungkapkan makna dan maksudnya, hampir sama kedudukannya dengan sunnah Nabi sendiri bila bersangkutan dengan hukum-hukum syara` sebab kita percaya bahwa pada pokoknya tentu sahabat itu menerimanya daripada Rasulullah s.a.w. Tetapi kalau ada dalil bahwa itu hanyalah pendapat sahabat itu sendiri, maka tidaklah sama derajat pendapat beliau-beliau itu dengan Sunnah Rasul s.a.w. Malahan kadang-kadang terdapat perlainan pendapat (ra`yi) di antara mereka, seumpama perselisihan pendapat mereka tentang nenek laki-laki, apakah dia mendapat waris dari cucunya yang telah mati atau tidak. Abu Bakar mengatakan nenek mendapat, apabila ayah tidak ada lagi.  Sedang Ali bin Abu Thalib berpendapat bahwa nenek laki-laki itu berkedudukan sebagai Kalaalah dari saudara kandungatau saudara sebapa, dengan memperhatikan makna kebapaan padanya.  Sebab itu Ali dan yang sefaham dengannya menempatkan nenek sebagaimana saudara laki-laki, jika ada saudara kandung atau sebapa.  Dan tidak terdinding seseorangpun berhak mengambil bagian faridh-nya.  Dia mengambil sisa yang tinggal seorang diri atau bersama-sama beserta ‘ashabah-’ashabah yang lain dengan syarat bagian nenek laki-laki itu tidak kurang dalam kedua hal itu dari seperenam. Baikpun dia sendiri mengambil yang sisa atau bersama-sama dengan saudara si mati terhadap yang sisa.

Lain pula pendapat Zaid bin Tsabit. Beliau memandang nenek laki-laki sebagai Kalaalah dari saudara sekandung atau sebapak dengan syarat tidak kurang si nenek itu mendapat dari sepertiga.

Semuanya ini adalah ra’yi atau ijtihad dari sahabat-sahabat itu sendiri, malahan itulah sebabnya maka pendapat mereka berbeda, sebab tidak ada nash keterangan terperinci dari Nabi sendiri tentang soal itu.