Menafsirkan Al Qur’an – bagian 7

Ulama-ulama pun tidak ragu-ragu membahas tentang penafsiran yang timbul daripada pendapat (ra’yi) sahabat-sahabat Rasulullah itu. Mereka tidak ragu buat mengatakan bahwa pendapat sahabat bukan wahyu sebab itu tidak akan sunyi daripada salah dan benar. Ahli~ahli Fiqh berpendapat bahwa kalau pendapat sahabat Rasulullah itu hanya satu macam, dan tidak ada bantahan daripada sahabat yang lain, artinya itu adalah ijma’ sahabat adalah hujjah, artinya boleh dipegang.  Cuma kaum Syiah saja yang mengecualikan diri dari pendapat itu. Bagi mereka ijma’ sahabat bukan hujjah.

Kalau terdapat pertikaian pendapat di antara sahabat-sahabat Rasulullah, maka Ulama-ulamapun memperbincangkan pula. lmam Abu Hanifah, lmam Syafi’i dan lmam Ahmad berpendapat, hendaklah dipilih manakah kata-kata mereka yang lebih dekat kepada hukum-hukum Fiqh yang jelas dari pelaksanaan Nabi s.a.w. dan yang ada Nashnya didalam al-Quran.  Kalau pilihan sudah jatuh kepada pendapat yang lebih dekat menurut pertimbangan si penimbang kepada al-Quran dan Sunnah Rasul tadi, hendaklah yang lain ditinggalkan dan pilih yang lebih dekat itu.  Imam Hanafi tegas mengatakan bahwa dia tidak mau pindah-pindah saja daripada satu pendapat sahabat kepada pendapat sahabat-sahabat yang lain.  lmam Syafii pun menuliskan demikian di dalam karangannya ar-Risalah.  lmam Malik pun bersikap demikian.  lmarn Ahmad bin Hanbal biasa menguraikan pendapat-pendapat sahabat yang berlain-lain itu di dalam menjelaskan pendapatnya sendiri.

Semuanya itu ialah berkenaan dengan tafsir sahabat-sahabat Rasulullah yang mengenai hukum halal dan haram. Perlainan-perlainan pendapat itu banyak terdapat di dalam Kitab Fiqh. Terutama seketika membicarakan ayat- ayat yang mengenai peperangan atau perdamaian, perjanjian atau jaminan keamanan.  Apatah lagi sesudah Rasulullah s.a.w. wafat, sahabat-sahabat Rasulullah itu meneruskan jihad, menaklukkan negeri, menundukkan musuh, membuat perjanjian-perjanjian damai, pemungutan Jizyah dan sebagainya.  Dalam pelaksanaan hal-hal yang sedemikian banyak terdapat pertikaian cara, yang di zaman kita dinamai kebijaksanaan atau beleid diantara satu sahabat dengan sahabat yang lain.  Tetapi bahan-bahan yang mengenai urusan sepert ini lebih banyak kebijaksanaan atau beleid di antara satu yang di zaman kita dinamai khilafiyah.  Al-Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani-lah yang mula-mula mengarang sebuah kitab yang khas mengenai itu, dengan dokumentasi yang lengkap yang beliau kumpulkan dari cara pelaksanaan sahabat itu, yang berdasar kepada keadilan, peri-kemanusiaan, kasih-sayang, rahmat dan karamah (menghormati hak-hak manusia).  Maka di dalam kitab beliau ini banyaklah bertemu tafsir pendapat dan pelaksanaan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. mengenai urusan yang demikian.

Mengenai ayat-ayat yang menyebut rahasia alam , kejadian langit dan bumi, bintang, bulan dan matahari, hujan, lautan dan daratan, ombak dan tumbuh-tumbuhan dan sebagainya yaitu, yang di atas sudah kita katakan bahwa maksudnya ialah untuk memperkuat akidah Tuhan;  demikian pula ayat-ayat yang dengannya ialah untuk memperkuat akidah Tuhan; demikian pula ayat-ayat yang mengandung kisah-kisah. Maka terhadap kedua persoalan ini, tidaklah banyak keterangan dari sahabat-sahabat Rasulullah. Memang terdapat beberapa riwayat tentang itu dari kata-kata sahabat, tetapi yang shahih, yang bisa dipertanggungawabkan Sanad (sandaran) adalah teramat sedikit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *