Menafsirkan Al Qur’an – bagian 8

ltu dapat kita fahami. Sebab sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. itu lebih banyak perhatiannya kepada menjaga halal dan haram, dan lebih tertumpah kepada menyusun masyarakat yang baru tumbuh, berperang dan berdamai, menaklukkan dan menerima Jizyah. Adapun tentang rahasia alam. kejadian langit dan bumi, atau tentang kisah-kisah Nabi-nabi yang terdahulu itu. mereka percaya bulat saja kepada apa yang dikatakan al-Quran. Tak usah banyak bising lagi.

Tetapi setelah zaman Khulafaur-Rasyidin (Khalifah yang berempat) artinya setelah Nabi wafat, dan setelah banyak orang Yahudi dan orang Nasrani masuk Islam, pada masa itu timbullah satu golongan yang dinamai “tukang-cerita” (al- Qashshaash).  Tukang-tukang cerita itu duduk membuat halaqah di dalam mesjid-mesjid. lalu bercerita macam-macam ceritera, termasuk kisah yang ada dalam al-Quran itu maksudnya ialah untuk memberikan pengajaran-pengajaran, sebagaimana tabligh-tabligh di zaman kita sekarang ini. Supaya ceritera itu lebih enak didengar, lebih menarik hati, banyaklah ditambahi bumbu-bumbu yang tidak asli. terutama dari ceritera-ceritera lsrailiyat tersebut. Pada waktu itu sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w yang masih hidup menunjukkan kurang suka kepada cara yang demikian. Setelah Saiyidina Ali menjadi Khalifah yang keempat, satu kali beliau masuk ke dalam mesjid dan dia turut mendengar tukang-tukang ceritera itu. Dengan tegas mulai waktu itu beliau larang, dan beliau beri peringatan bahwa barangsiapa yang hendak memakai juga memberi tabligh cara berkisah itu, hendaklah menurut yang tersebut dalam al-Quran saja, jangan dilebih-lebihi. Yang beliau suruh meneruskan mengajar atau bertabligh di dalam mesjid itu hanya seorang saja, yaitu Imam Hasan al-Bishri yang terkenal, sebab kalau beliau berkisah, tidaklah melebihlebihi, sehingga maksud kisah sebagai da`wah tidak bertukar menjadi semacam dongeng-dongeng. Bahkan Saiyidina Ali turut pula mendengarkannya sebentar tanda sukanya, lalu keluar.

Kemudian datanglah Zaman Tab’in. Kalau mengenai hukum-hukum halal dan haram, sebagian besar mereka tetaplah menuruti saja garis guru mereka, yaitu sahabat-sahabat Rasulullah. Tetapi dalam ayat-ayat yang mengenai ilmu alam tadi, dan mengenai kisah-kisah ummat Yahudi dan Nasrani, atau sengaja diambil oleh penafsir sendiri, ceritera-ceritera yang tidak masuk akal atau dongeng-dongeng. Waktu itulah masuk menyelundup misalnya hikayat bahwa bumi kita ini terletak di atas tanduk lembu, dan kalau lembu itu bergerak terjadilah gempa bumi.

Bertambah jauh dari zaman Rasul dan Salaf, dan bertambah jauh dunia Islam dari ilmu pengetahuan, bertambah banyaklah dongeng-dongeng semacam ini.

lsrailiyat itu dapat kita bagi tiga:

Pertama yang sesuai dengan kebenaran, yang ada persetujuannya dengan al-Quran, sebab ada riwayatnya yang shahih dari Nabi s.a.w.  Yang semacam itu tentu tidak ditolak. Meskipun kita sadar bahwa bukanlah al-Quran yang dikuatkan oleh ceritera itu melainkan ceritera itulah yang menjadi ada nilainya sebab ada kesaksiannya dari al-Quran.

Kedua ialah ceritera-ceritera yang terang dustanya, yang berlawanan dengan riwayat yang shahih dan yang ma’tsur dari Nabi s.a.w. atau berlawan dengan maksud ayat, atau tidak sesuai dengan dasar ajaran Islam; seumpamanya ceritera Gharaniq yang terkenal, yang terdapat riwayat bahwa Nabi Muhammad s.a.w. telah berdamai dengan kaum Quraisy, sebab beliau telah sudi mengakui berhala Gharaniq.

Ketiga ialah yang tidak membawa persoalan baru, tidak bertentangan dengan al-Quran, dan tidak pula membenarkannya, dan kedatangan riwayat itu tidak membawa faedah bagi agama dan kalau ditinggalkan tidak pula merugikan.  Yang semacam ini menurut lbnu Taimiyah tidaklah kita benarkan dan tidak pula kita dustakan.  Lain daripada itu riwayat-riwayat semacam ini kadang-kadang ahlul-kitab sendiripun berselisih di dalam membawakan riwayatnya.  Misalnya perselisihan ceritera ahlul-kitab tentang beberapa orangkah banyaknya pemuda-pemuda yang tidur di dalam Gua (ash-habul kahfi); setengah mengatakan hanya bertiga, empat dengan anjingnya. Setengah mengatakan berlima, enam dengan anjingnya (al-Kahfi ayat 22).  Sampai juga pertikaian mereka tentang warna anjing itu.  Dan banyak juga lsrailiyat tentang tongkat itu bercabang dua. Bahkan ada pula riwayat bahwa tongkat itu ada beberapa tulisan beberapa rajah “isim” dan beberapa huruf, yang disuntingkan pula oleh al-Buni di dalam kitab “perdukunan”nya yang terkenal bernama Syamsul Ma’arif al-Kubra.