Menafsirkan Al Qur’an – bagian 9

Tafsir kita ini ditulis di zaman moden, di zaman ahli-ahli agama yang berpengetahuan luas telah bertemu dengan ahli-ahli pengetahuan yang mendapat pendidikan moden. Maka kalau tafsir ini dicampur-aduk dengan lsrailiyat, niscaya tidaklah ada akan harganya buat menjadi da’wah kepada orang yang hendak langsung mengetahui isi al-Quran. lsrailiyat itu adalah sebagai dinding yang menghambat orang dari kebenaran al-Quran. Kalau di dalam tafsir ini ada kita bawakan riwayat-riwayat lsrailiyat itu, lain tidak ialah buat peringatan saja. Demikianlah kita uraikan tentang tiga sumber dari penafsiran, mengenai empat bidang dari isi al-Quran yang akan ditafsirkan itu. Penafsiran pertama hendaklah diambil dari sumber Sunnah Rasulullah s.a.w. Kedua dari penafsiran sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. dan ketiga dari penafsiran Tabi’in.

Bolehkah kita menambah pula?

Tadi sudah dikatakan panjang lebar, bahwa mengenai halal haram. cara ibadat, nikah-talak-rujuk, pendeknya yang berkenaan dengan hukum, kita tidak boleh menambah tafsir lain. Sebab tafsiran yang lain bisa membawa bid`ah dalam agama. Tetapi dalam hal yang lain~lain terdapat pula perlainan pendapat Ulama. lmam Taqiyuddin lbnu Taimiyah berpendapat bahwa menafsirkan al- Quran dengan ra’yi (pendapat sendiri), dengan tidak berdasar dari sumber yang telah ditentukan itu adalah haram.

Di dalam kitab Tuhfatun-Nazhzhar pengembara Islam yang terkenal di abad keempatbelas, yaitu lbnu Bathuthah mengatakan bahwa dia mendengar berita yang dapat dipercaya, bahwa lmam lbnu Taimiyah itu selama dalam penjara telah menulis Tafsir al-Quran, tebalnya 45 jilid. Rupanya naskah itu telah hilang atau belum bertemu sampai sekarang, sehingga tafsir lbnu Tai miyah yang bertemu sekarang hanya Tafsir Surat an-Nur dan beberapa naskah lain yang jauh daripada lengkap untuk dikatakan 45 jilid. Maka di dalam tafsir Ibnu Taimiyah yang ada itu kita melihat bagaimana cara beliau menafsirkan, sehingga tersunyi daripada apa yang beliau beri nama ra’yi.

Mula-mula sekali beliau menafsirkan al-Quran ialah dengan al-Quran sendiri. Kalau kita ragu memahamkan suatu ayat, hendaklah sambungkan pahamnya dengan ayat yang lain. Sebab hal yang kurang nyata di satu ayat. akan ada kenyataannya di ayat yang lain. Misalnya di Surat Thaha kita baca bahwa Nabi Musa merasa takut melihat tali-tali dan tongkat tukang sihir telah menyerupai ular yang hendak menggigit (lihat Surat Thaha ayat 67). Kalau ayat itu saia yang kita baca tentu kesan yang pertama timbul dalam hati kita ialah bahwa Nabi Musa penakut. Maka untuk menghilangkan keraguan karena hanya membaca satu ayat dalam Surat Thaha, hendaklah kita baca ayat 116 Surat al-A’raf. Disana dikatakan bahwa orang banyak yang menonton telah dipertakut-takuti oleh penipuan ahli-ahli sihir itu, yang hebat sunglapnya. sehingga tongkat-tongkat dan tali-tali menyerupai ular. Dengan membaca ayat 116 surat al-A’raf ini mengertilah kita bahwa bukanlah Musa takut kepada tongkat-tongkat dan tali-tali tukang sihir yang telah disunglap itu, melainkan takut orang banyak yang bodoh-bodoh, terutama Bani lsrail yang beliau pimpin akan tergoncang imannya kalau tidak lekas-lekas Tuhan Allah menunjukkan kuatkuasaNya dengan mu`jizat.