Biografi

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981) adalah ulama besar, sastrawan sekaligus aktivis politik. Beliau diberi sebutan Buya, sebagai panggilan orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Ayah beliau yaitu Haji Abdul Karim Amrullah adalah salah satu pendiri Sumatera Thawalib di Bukittinggi, sekolah Islam modern yang pertama di Indonesia. Dari sekolah ini menjadi cikal bakal berdirinya Jong Sumateranen Bond, salah satu organisasi pemuda yang memproklamirkan sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Saat kecil, Buya Hamka menuntut ilmu disini, juga pernah menjadi tempat menuntut ilmu bagi Adam Malik, Wakil Presiden RI yang ketiga.

Buya Hamka adalah ulama besar, ustad, ahli tafsir, imam besar masjid, ahli sejarah, orator handal, petinggi politik. Pernah jadi ketua MUI, petinggi Muhammadiyah, hingga menjadi novelis, sastrawan, pujangga. Tidak tamat SD tapi meraih gelar 2 gelar Doktor dan Profesor, serta banyak lagi.

Walau begitu, jarang yang tahu bahwa Hamka muda bukanlah anak cengeng ataupun kutu buku yang tidak pernah menjalani kehidupan keras, sebagaimana diceritakan salah seorang sahabat masa kecilnya, Muhammad Zein Hassan di salah satu edisi majalah Panji Masyarakat. Hamka muda (dulu dikenal dengan nama Amka) malah dikenal sebagai anak nakal yang malang melintang di seantero Minangkabau, bahkan berkelana hingga ke lorong-lorong tambang di Sumatera Selatan. Bermain sepakbola keliling kampung, menyabung ayam. lontang-lantung dari kota ke kota bahkan berkelahi hingga tertikam pisau sudah pernah dilakoninya. Bahkan orangtuanya, walaupun dari kalangan ulama besar, sampai kehabisan akal bagaimana menangani kenakalan Amka. Guru-gurunya di sekolah pun sudah tidak peduli dengannya, atau bahkan sudah menganggapnya tidak ada.

Tapi setelah beliau bersimpuh minta ampun dan kembali ke pangkuan orangtuanya, beliau mulai menjalani kehidupan serius, sepertinya Hamka sudah melewati masa bergejolak itu dan sudah tahu bagaimana mengendalikan emosi. Bahkan ketika dinikahkan dengan gadis pilihan orangtuanya, Hamka menurut dan sama sekali tidak menentangnya.

Sejak saat itu Hamka adalah pribadi yang tenang, yang tidak menganggap penting olok-olok yang diarahkan kepada dirinya. Seperti ketika ketika salah satu koleganya Ustadz Ahmad Hassan (atau dikenal sebagai Hassan Bandung) mengkritik cerita cinta dlm kisah bersambung Tenggelamnya Kapal Van der Wijck di majalah Pedoman Rakyat. Hamka tidak pernah membalas olok-olok Ustadz Hassan, bahkan sekalipun Hamka tidak menulis sesuatu yang tidak baik mengenai ustadz Hassan. Ketika di tahun 1958 Hamka memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di Mesir, Hamka bahkan menyanjung ustadz Hassan dalam pidatonya, Hamka memuji ustadz Hassan sebagai orang yang terus terang dalam menyatakan kebenaran, seseorang yang teguh dalam pendirian dan kuat dalam memberikan hujjah.

Begitupun ketika Hamka mendengar berita wafatnya Bung Karno di tahun 1970, Hamka segera berangkat bertakziah bahkan menjadi imam shalat jenazah bagi mantan Pemimpin Besar Revolusi itu. Semua orang terperanjat melihat kesediaan Hamka, karena semua orang juga tahu bahwa sang Pemimpin Besar Revolusi-lah yang membuat Hamka harus mendekam selama lebih kurang 4 tahun di penjara di masa Orde Lama berkuasa. Hamka tetap menganggap Soekarno adalah manusia yang memiliki kesalahan tetapi juga tidak bisa dipungkiri, Soekarno juga banyak jasanya bagi negeri ini.

Tapi jika Islam yang diolok-olok, sosok Hamka yang keras akan muncul kembali, terbayang kegarangan beliau seperti ketika berpose dengan gagah memegang ayam kinantan di masa lampau. Hal itu terjadi ketika salah satu penerbitan yang dipimpin salah satu sahabatnya, H.B. Jassin terlibat kasus yang dianggap menghina Islam (kasus cerpen Langit Makin Mendung). Perlu diingat, bahwa H.B. Jassin adalah salah satu pembela utama Hamka ketika menghadapi hantaman para sastrawan LEKRA yang dipelopori Pramudya Ananta Toer. Tetapi melihat kekeraskepalaan Jassin dalam melindungi si penulis di bawah naungannya itu, Hamka yang waktu itu dipanggil sebagai saksi ahli, meradang di depan pengadilan. Hamka menghentakkan tongkatnya, dengan suara bergetar diakhir kesaksiannya Hamka berucap, “Kalaulah orang ini (Ki Panji Kusmin) diperhadapkan di depan pengadilan Islam, pastilah ia menerima hukum bunuh!”. Baginya olok-olok terhadap Islam bukanlah soal kecil.

Begitu pula ketika di tengah masa Orde Baru, ketika dengan dalih toleransi beragama, menjadi marak diselenggarakannya Natal Bersama di berbagai instansi pemerintah. Natal Bersama ini tidak hanya melibatkan mereka yang beragama Nashrani tapi juga melibatkan atau bahkan memaksa keterlibatan mereka yang beragama Islam. Hamka yang waktu menjabat sebagai ketua MUI tegas bersikap, MUI mengeluarkan fatwa yang mengharamkan keterlibatan umat Islam dalam Natal Bersama. Sekali lagi Hamka harus berhadapan dengan kekuasaan. Tetapi Hamka tidak mau tunduk terhadap tekanan, bahkan beliau akhirnya lebih memilih mundur daripada mencabut fatwa tersebut.

Begitulah Hamka, seseorang yang ikhlas ketika harus menghadapi olok-olok terhadap dirinya, tetapi beliau akan bersikap garang sedikit saja olok-olok itu terarah kepada agamanya. Beliau juga terkenal ikhlas dan toleran menerima perbedaan di kalangan umat Islam yang sifatnya khilafiyah, perbedaan yang kecil yang tidak melanggar syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Setiap beliau diundang untuk memberikan kuliah Shubuh di suatu masjid yang belum beliau kenal, jika beliau diminta menjadi imam, beliau selalu bertanya, “Apakah di sini biasanya menggunakan Qunut atau tidak?”.

Hamka adalah satu-satunya ulama yang menolak menerima gaji sewaktu menjadi ketua MUI demi keindependenan MUI dari jeratan kekuasaan. Hamka bahkan memilih berkantor di masjid Al-Azhar daripada di masjid Istiqlal demi keindependenan itu. Setelah fatwa kontroversial tersebut Hamka memilih mengundurkan diri dari MUI pada tanggal 21 Mei 1981. Dua bulan kemudian, di hari Jum’at di hari ke-22 bulan Ramadhan atau tanggal 24 Juli 1981, ulama besar inipun wafat. Ulama besar yang meninggalkan warisan begitu berharga bagi umat Islam bukan hanya di Indonesia tapi juga untuk seluruh muslim berbahasa Melayu di Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *