Mengenang Sastrawan Besar Hamka

Mengenang ulama kharismatik Indonesia Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, Koran-Cyber.com menurunkan tulisan bersambung yang ditulis Dasman Djamaluddin, wartawan senior media online ini. Buya Hamka yang sangat banyak menulis buku sastra dan agama, selayaknya menjadi panutan bagi generasi muda Indonesia. Beliau belajar secara otodidak, fasih berbahasa Arab, disegani kawan dan lawan. Walau cukup lama, Pemerintah RI akhirnya mengangkat beliau sebagai Pahlawan Nasional bersamaan dengan Syafruddin Prawiranegara. Apa kiprah Hamka bagi kemerdekaan Indonesia dan siapa saja lawan-lawan politiknya? Mari kita simak salinan tulisan Dasman Djamaluddin berikut ini:

AWAN GEMAWAN PUN MENETESKAN DUKA

Itu merupakan judul Harian Pelita 25 Juli 1981 ketika ikut menyatakan duka sedalam-dalamnya atas wafatnya Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, tanggal 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun. Hamka adalah sastrawan besar Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik. Ia baru dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada tanggal 9 November 2011.

Sebentar lagi, tanggal 24 Juli 2012, sebagai bangsa yang selalu mengenang jasa-jasa tokoh-tokoh bangsanya, kita pun ingin sekali membalik jarum jam sejarah agar generasi muda ikut mengetahui perjuangan panjang yang dilakukan tokoh-tokohnya. Minimal sebagai suri tauladan, agar jejak mereka selalu diikuti. Sekaligus memacu semangat mereka untuk lebih banyak berkarya. Hanya dengan sebuah karya, kita bisa menunjukkan eksistensi sebagai bangsa berbudaya.

Hamka lahir di Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908. Hamka merupakan salah seorang putra bangsa yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Beliau sering dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi atau abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku atau seseorang yang dihormati.

Hamka banyak menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya fiksi seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku romannya yang pertama dalam bahasa Minang dengan judul ‘Si Sabariah’. Kemudian, ia juga menulis buku-buku lain, baik yang berbentuk roman, sejarah, biografi dan otobiografi, sosial kemasyarakatan, pemikiran dan pendidikan, teologi, tasawuf, tafsir, dan fiqih. Sekitar 300 buku besar dan kecil telah ia tulis. Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir Al-Azhar.  Di antara novel-novelnya seperti ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’, ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’, dan ‘Merantau ke Deli’ juga menjadi perhatian umum dan menjadi buku acuan sastra di Malaysia dan Singapura.  Beberapa penghargaan dan anugerah juga ia terima, baik peringkat nasional maupun internasional.

Pada tahun 1959, Hamka mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan, serta gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.

Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, ia dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, ia meneliti karya sarjana Prancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.

Ketika munculnya buku ‘Aku Mendakwa Hamka Plagiat’ yang ditulis Muhidin M. Dahlan saya sebagai generasi muda marah besar. Saya bilang Hamka bukan plagiator. Sebetulnya sah-sah saja seseorang mengungkap masa lalu. Tetapi di masa itu apakah persoalannya sudah selesai? Masih sebatas polemik. Sementara orang yang dipermasalahkan sudah meninggal dunia. Tidak beda dengan polemik Harian Merdeka dengan Harian Rakyat yang pada waktu itu dianggap pro komunis, di mana saya ikut mendengarkan langsung dari pemilik Harian Merdeka, B.M. Diah tentang Harian Rakyat ketika saya menulis buku ‘Butir-Butir Padi B.M. Diah’, tahun 1992. Saat bersamaan Hamka dimunculkan dalam Harian Rakyat tersebut.

Bulan Juli ini kita sama-sama berpuasa. Saat bersamaan Dakwah Buya Hamka di layar televisi yang terakhir adalah malam Jum’at, 3 Juli 1981, malam pertama bulan Ramadhan. Harian Pelita menggambarkan wajahnya yang putih berseri-seri dan selalu tersenyum riang itu mengajak seluruh bangsa ini menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati ikhlas seraya menahan diri dan meningkatkan kesadaran berdasarkan contoh-contoh yang diberikan oleh Nabi Muhammad.

Ceramah keagamaan baik di layar televisi maupun corong RRI atau secara langsung di Mesjid Agung Al-Azhar yang selalu mendapatkan sambutan dan rasa simpati yang sangat besar itu tidak kita saksikan lagi. Harian Kompas menggambarkan, suasana duka kepergian beliau cepat tersebar ke berbagai kota. Di Banda Aceh begitu mendengar Buya Hamka meninggal dunia langsung menghentikan pengajian. Para jemaahnya spontan memanjatkan doa melepas kepergian almarhum, lalu mereka terlibat dalam berbagai kenangan mengenai Buya Hamka.

Di Padang, berita wafatnya ulama terkemuka itu diterima dengan terkejut. Secara beranting, kabar tersebut cepat tersebar, bahkan sampai ke berbagai kota lain di Sumatera Barat seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Solok, dan Padang Panjang di mana Hamka bersekolah semasa kecil.

SASTRAWAN DAN ULAMA ITU WAFAT DI HARI DAN BULAN BAIK

“Maha Suci Allah Yang ditangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Al-Mulk: 1-2)

Hari ini, bulan Juli 2012, umat Islam Indonesia sedang menjalani ibadah puasa. Tanggal 24 Juli 1981, saat Hamka meninggalkan alam fana ini, umat Islam Indonesia juga sedang berpuasa. Bulan baik. Hamka meninggal dunia setelah dirawat sejak 18 Juli 1981 di RS Pertamina, Jakarta. Beliau menderita sakit jantung, radang paru-paru dan gangguan pembuluh darah. Akhirnya sastrawan dan ulama besar itu meninggal dunia pada hari Jumat, hari baik, bulan Ramadhan, bulan baik, pukul 10.40 WIB setelah mencapai usia 73 tahun lebih.

Untuk menggambarkan suasana waktu itu, saya mencoba mencuplik keseluruhan tulisan O’Galelano, yang saya anggap sangat menarik di Harian Pelita. Hingga hari ini saya tidak tahu siapakah O’Galelano, apakah itu nama samarannya atau nama sebenarnya. Yang jelas tulisannya mampu menghanyutkan kita ke suasana tanggal 24 Juli 1981, suasana duka, di mana bolamata-bolamata pengagumnya, anak muridnya, teman, kerabat, memerah menahan kesedihan.

“Udara Jakarta, sudah dua hari menjelang Jumat, memang sesekali dibasahi oleh siraman sekejap dari renyai hujan. Awan gemawan sesekali menjulurkan tatapannya ke bawah dari lazuardi ibukota. Sebelumnya, jarang Jakarta disentuh oleh hujan. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), ulama terkemuka, pujangga, sastrawan yang membuat pembacanya melinangkan airmata kala mereka menyimak novel religiusnya, Profesor dan Doktor, yang karyanya dibaca di secara luas di dunia Islam, sudah masuk ICU RS Pertamina Jumat pagi 18 Juli.  Udara Jakarta yang panas mendenyit ubun, sejak Rabu dan Kamis, sesekali disentuh basah hujan. Seolah komponen jagat raya ini melirik, ulama besar itu dalam persiapannya untuk perjalanan yang abadi,

Ketika warga kota terlebih muslimin-muslimah diberi berita pagi oleh koran bahwa Buya Hamka dalam keadaan kritis, mereka mendekap radio, untuk mendengarkan lebih lanjut kabar kesehatan beliau. Menjelang shalat Jumat kemarin, hujan tercurah di ibukota. Seolah hanya Jakarta yang dibasahi, karena benderang langit sekitar Jakarta tak berawan gelap. Jama’ah Shalat Jumat di masjid mulai terisak tatkala panitia mengumumkan bahwa Buya Hamka, telah pergi tadi siang jam 10.30. Seluruh Jakarta, dalam jutaan doa umat Islam, agaknya telah menghunjam di belantara alam. Jumat kemarin masjid-masjid Jakarta mengadakan shalat ghaib.

Bukan shalat ghaib yang ingin kita catat. Walaupun dalam duka yang merambat jutaan kalbu umat, hal itu memang penting. Namun bolamata-bolamata mereka yang shalat ghaib, yang meneteskan air mata dan isak ketika menyeru Allah. Mereka tergoyah tubuhnya oleh isak dalam shalat. Doa mereka adalah doa yang diajukan dengan derai air mata: Ya, Rabbi, terimalah pemimpin, guru, imam dan ayah kami ini di sisiMu. Di rumahnya yang baru dibenah, dengan warna putih yang dominan suara dan tangis yang emosional hadir di mana-mana. Rusydi, puteranya yang tertua, yang telah lama dipersiapkan untuk melanjutkan penanya, berkata jelas, walaupun kesedihan menamparnya dahsyat: “Lanjutkan silaturrahmi ayah kami, kepada kami putera-puterinya di rumah ini. Kita yang berkumpul di sini adalah sahabat ayah, murid ayah, para menteri dan ulama, anak-anak rohani ayah kami.” Begitu kata Rusydi, yang sekarang agaknya meresa sepi meneruskan Panji Mayarakat, yang dibina ayahnya itu.

Di tengah jenazah ulama besar itu di rumahnya di Jalan Raden Fatah III No. 1, banyak bergemaratak ucap dan doa yang penuh emosi. Sampai-sampai suasana di rumah ini mirip bagaikan jenazah para pejuang Palestina. Orang berhimpitan, berdesakan. Yang menteri, yang ulama, yang pemuda, yang ibu, yang gadis. Seorang lelaki meronta berteriak karena dilarang mendekat jenazah. Dia berteriak dengan tangis agar kiranya diperkenankan melihat wajah Buya terakhir kali.

Di dalam Masjid Agung Al-Azhar saat jenazah akan disembahyangkan, tidak urung takbir dengan suasana hati syarat emosi masih mengumandang. Masing-masing orang agaknya ingin berarti di dekat jenazah orang yang disayanginya. Hamka memang, bapak rohani yang hilang dini. Dan orang terpana, syarat emosi.

Rasanya menyayat sembilu hati kita, melihat seorang gadis kecil yang terjepit di antara desakan orang melongokkan kepalanya dan mengarahkan matanya yang berlinang, dengan isak yang tertahan. Ketika iringan jenazah lewat rumahnya. Pemandangan yang membiaskan rupa lain dari gambar diri ulama terkemuka ini. Banyak orang yang ingin menyentuh jenazah Buya, dan dalam kerumunan, himpitan dan dempetan, hal seperti ini memang ikut membuat suasana duka meningkat kepada “semangat dan api rohani.”

Ketika para pengantar bergegas meninggalkan Pemakaman Tanah Kusir Jakarta Selatan, di arah barat bayang Ashar yang menepi. Udara dan langit di atas makam, kembali duka. Awan gelap mulai menjulurkan nestapa. Sesudah itu hujan menyiram bumi merah. Telah agak lama usia Buya Hamka tersita di ibukota ini. Di mimbar khotbah, di halaman buku, koran, majalah. Buya barangkali adalah warga ibukota yang selalu dengan putih hati berusaha menyapunya dengan nasihat yang mendinginkan.

Kalau saja gemawan dapat jelas berbisik pada kita, barangkali siraman hujan adalah pertanda, alangkah indahnya keberangkatan Buya. Di tahun, di bulan, di hari-hari yang penuh indah. Maka pantaslah kita bergembira, walaupun nestapa menindih kita, seperti kata pisah keluarga yang dibawakan Buya Malik Ahmad. Selama hayatnya Hamka memang adalah ekspresi keindahan.”

HARI INI 31 TAHUN YANG LALU

Tepat hari ini, 31 tahun yang lalu, 24 Juli 1981, hari dan bulan saat umat Islam menjalankan ibadah puasa, Prof. Dr. Buya Hamka meninggal dunia di usia 73 tahun lebih dan dikebumikan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Jasanya tidak hanya diterima sebagai seorang sastrawan dan tokoh ulama di negara kelahirannya, Indonesia, juga di negara-negara atau wilayah berpenduduk muslim di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Brunei, Filipina Selatan, dan beberapa negara Arab.  Banyak tokoh nasional pada waktu itu, termasuk Presiden Soeharto bertakziah di rumah almarhum. Kecuali Presiden Soeharto, di antara pejabat tinggi pemerintah antara lain Mendagri Amirmachmud yang memakai kemeja teluk belanga dan sarung. Menteri Agama Alamsyah, Menteri Nakertrans Harun Zein, Menteri PPLH Emil Salim dan banyak pejabat tinggi lainnya.

Di samping itu tampak hadir Gubernur DKI Jakarta H. Tjokropranolo dan Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas. Di kalangan tokoh masyarakat terdapat Mohammad Natsir, Hasjim Ning, A.H. Nasution, Ali Sadikin, Sjafruddin Prawiranegara. Setelah Presiden Soeharto selesai bertakziah kemudian menyusul Wakil Presiden Adam Malik.

Kemudian jenazah diusung ke Masjid Al Azhar. Para petugas terpaksa pula bersusah payah menguakkan jalan, karena masyarakat terus membanjir dan masing-masing berusaha mendekat. Wajah-wajah duka dibasahi air mata itu seakan-akan tak mampu membendung kesedihan. Tiap sebentar terdengar teriakan “Selamat jalan Buya!” dan di sana sini pekik “Allahu Akbar,” mengantar perjalanan jenazah ke Masjid Al Azhar, di mana semasa hidupnya Buya Hamka menjadi Imam Besar. Orang berebut untuk ikut mengusung keranda jenazah, malah banyak yang sekedar berhasil menggapainya pun jadilah.

Menjelang pelataran parkir, jalan terhalang oleh kendaraan-kendaraan yang terparkir melintang. Namun dalam waktu satu menit saja puluhan umat berhasil mengangkat dan memindahkan sedan-sedan itu, sehingga jalan pun terbuka.

Ribuan jemaah ikut menyembahyangkan jenazah Buya Hamka di Masjid Al Azhar. Jemaah meluap sampai pekarangan, sementara yang tidak sempat berwudhu pun khusyuk berdoa.

Ketika keranda diusung kembali menuruni tangga masjid untuk diberangkatkan ke pemakaman, massa semakin padat. Berkali-kali pembawa megaphone berteriak memperingatkan massa agar tidak histeris dan menjaga suasana tetap khidmat dan khusyuk.

Sepanjang perjalanan dari Masjid Al Azhar menuju pemakaman Tanah Kusir, iringan kendaraan sepanjang tiga kilometer lebih itu berjalan tersendat-sendat karena umat berjejal di tepi jalan. Mereka berdesakan ingin menyaksikan seorang ulama dan sastrawan besar sedang menuju ke peristirahatan terakhir. Sementara itu di Tanah Kusir sendiri, sudah ramai pula orang mendahului berangkat, untuk memperoleh tempat dekat tempat upacara.

Di antara umat yang berjejal, upacara pemakaman jenazah Buya Hamka berlangsung di pemakaman Tanah Kusir. Dengan khidmat jenazah diturunkan ke liang lahat, disaksikan anggota keluarga, handai tolan, kerabat, pejabat, pemuka masyarakat, para murid almarhum dan kaum Muslimin.

Buya Malik Achmad, sahabat almarhum semasa menjadi mubaligh Muhammadiyah di Padang Panjang tahun tiga puluhan memberi sambutan mewakili pihak keluarga. Ia mengharapkan masyarakat melepas kepergian almarhum dengan tulus ikhlas. Ia memuji Buya Hamka sebagai ulama besar yang lidahnya tak pernah berhenti menyebut ayat Al Qur’an. “Kebun surga, itulah tempat bagi arwah Buya Hamka,” ujarnya.,

Menteri Agama H. Alamsyah yang berbicara mewakili Pemerintah menyatakan, bukan umat Islam saja yang kehilangan dengan kepergian Buya Hamka, melainkan juga bangsa dan negara. “Kita kehilangan ulama besar, pahlawan besar dan pahlawan bangsa,” ujarnya.

H. Alamsyah selanjutnya mengatakan, ia mendengar banyak orang mengira seolah-olah ada apa-apa antara Buya Hamka dengan Pemerintah, antara Buya Hamka dengan Menteri Agama, antara Buya Hamka dengan pribadi Alamsyah, sehubungan dengan pengunduran diri Buya Hamka dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonsesia (MUI). “Maka di sini secara tegas saya nyatakan, tidak ada apa-apa antara beliau dengan Pemerintah, Menteri Agama dan saya pribadi,” ujar H. Alamsyah.

Upacara pemakaman diakhiri dengan pembacaan doa oleh KH. E.Z Muttaqien, salah seorang Ketua MUI yang juga Ketua Majelis Ulama Jawa Barat. “Buya Hamka berangkatlah Buya dengan tenang. Kami telah bertekad melanjutkan langkah Buya,” ujarnya mengakhiri pembacaan doa.

Buya Hamka telah tiada. Hari ini tepat 31 tahun hari wafatnya. Dalam perjalanan hidupnya sudah merasakan pahit getirnya perjuangan ini. Nama Buya Hamka terangkat ke permukaan dengan hasil karya roman pertamanya ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ (1938). Roman ini mengisahkan cinta tak sampai antara dua kekasih yang terhalang adat. Romannya yang kedua, ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ (1939), juga mengisahkan cinta yang tak sampai oleh adat Minangkabau. Selain itu, dari penanya lahir pula novel-novel ‘Karena Fitnah’ (1939), ‘Tuan Direktur’ (1939) dan Merantau ke Deli (1939). Sehabis perang, novelnya ialah ‘Menunggu Bedug Berbunyi’ (1950), ‘Dijemput Mamaknya’ (1948). Riwayat hidupnya sendiri dituangkannya dalam empat jilid buku dengan judul ‘Kenang-Kenangan Hidup’ (1951-1952).

Terakhir Hamka menyelesaikan tafsir Al Qur’an ke dalam 30 jilid buku yang diberi nama Tafsir Al-Azhar. “Menurut saya Hamka ingin agar Islam juga dihayati kaum intelektual, orang-orang yang hanya berpikir dengan rasio saja,” ujar HB Jassin mengomentari karya Hamka, Tafsir Al-Azhar.

HAMKA SEBAGAI WARTAWAN

Menulis tentang Hamka, samalah artinya menulis di samudera luas. Kadang kala tangan ini berhenti bukan karena tidak memiliki data, melainkan banyaknya sumber dari berbagai sudut pandang, sehingga muncul pertanyaan, dari sudut mana lagi kita akan menulis tentang tokoh terpandang ini?

Menulis tentang orang-orang besar sudah tentu membutuhkan berbagai pengamatan dan penelitian lebih mendalam. Butuh waktu lama. Tetapi bagaimana pun, di saat genap 31 tahun, saat bangsa dan negara ini kehilangan tokoh panutan, seperti Hamka, 24 Juli 1981, perlu juga mengenalkan kembali sosok sastrawan dan ulama besar itu ke permukaan agar lebih diketahui generasi berikutnya. Seraya mengingatkan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Bagi saya, Hamka identik dengan kultur Minangkabau di daerah Padangpanjang, Sumatera Barat. Hamka lebih banyak bersentuhan dengan adat istiadat di daerah itu. Meskipun Hamka terlahir dengan nama Abdul Malik Karim Amrullah di Maninjau, pada tanggal 16 Februari 1908, tetapi setelah ayahnya mendirikan sekolah Sumatera Thawalib di Padangpanjang, beliau banyak bersentuhan dengan daerah Padangpanjang.

Sementara ibu Hamka adalah Siti Shafiyah Tanjung. Dalam silsilah Minangkabau, ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya. Rumah tempat Hamka dilahirkan, sekarang diabadikan sebagai Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Hanya kadang kala museum selalu diidentikan dengan benda mati. Sepi pengunjung. Hendaknya dengan berbagai tulisan mengenai tokoh-tokoh daerah maupun nasional, generasi muda lebih memahami arti museum, sebagai sebuah tempat di mana sejarah itu awal mulanya ditulis.

Hamka merupakan cucu dari Tuanku Kisai, memperoleh pendidikan rendah pertama kali di usia 7 tahun di Sekolah Dasar Maninjau selama dua tahun. Ketika usianya mencapai 10 tahun, karena ayahnya mendirikan sekolah Sumatera Thawalib di Parabek Padangpanjang, Hamka bersekolah di sekolah itu dan malam hari belajar agama dengan ayahnya, yang adalah seorang ulama besar tersebut. Sumatera Thawalib merupakan sekolah agama Islam terkenal, kelanjutan sekolah agama Surau Djembatan Besi yang didirikan Syekh Abdullah pada masa peralihan ke abad 20.

Guru-gurunya saat itu merupakan tokoh-tokoh pembaharuan Islam di Minangkabau, seperti Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid dan Zainuddin Labay. Saya ingin mengatakan jika Yogyakarta sering disebut kota pelajar, maka Padangpanjang sejak awal sudah menjadi kota pelajar. Banyak tokoh terkemuka bangsa Indonesia berasal dari daerah Padangpanjang.

Hamka kemudian mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab, salah satu pelajaran yang paling disukainya. Melalui kefasihan bahasa Arab inilah kemudian ia belajar sendiri (otodidak) dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi ini pula, ia dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, ia meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.

Padang Panjang sekarang sudah tentu berbeda ketika Hamka masih kecil. Padang Panjang sekarang sudah menjadi kota dengan luas wilayah terkecil di Provinsi Sumatera Barat. Kota ini memiliki julukan sebagai Kota Serambi Mekkah, dan juga dikenal sebagai Mesir van Andalas. Sementara wilayah administratif kota ini dikelilingi oleh wilayah administratif kabupaten Tanah Datar.

Kawasan kota ini sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Tuan Gadang di Batipuh. Pada masa Perang Padri kawasan ini diminta Belanda sebagai salah satu pos pertahanan dan sekaligus batu loncatan untuk menundukkan kaum Padri yang masih menguasai kawasan Luhak Agam. Selanjutnya Belanda membuka jalur jalan baru dari kota ini menuju Kota Padang karena lebih mudah dibandingkan melalui kawasan Kubung XIII di Kabupaten Solok sekarang. Kota ini juga pernah menjadi pusat pemerintahan sementara Kota Padang, setelah Kota Padang dikuasai Belanda pada masa agresi militer Belanda sekitar tahun 1947.

Jika ditelusuri secara kronologis, sejak tahun 1920an, Hamka sudah menjadi wartawan di Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah. Surat kabar terakhir, Suara Muhammadiyah karena Hamka sendiri tahun 1925, adalah salah seorang pendiri organisasi Muhammadiyah di Minangkabau dan kelak mengetuai Muhammadiyah Cabang Padangpanjang di tahun 1928.  Pada tahun 1925 itu juga, Hamka menjadi anggota Partai Sarekat Islam.

Hamka baru mulai bekerja pada tahun 1927 (ada juga yang mengatakan tahun 1929) sebagai guru agama di Perkebunan Tebing Tinggi. Berdasarkan ilmu jurnalistik yang diperolehnya ditambah kefasihannya berbahasa Arab, Hamka menulis karya pertamanya dalam bahasa Arab di tahun 1928 dengan judul Khatibul Ummah jilid 1-3.  Buku keduanya berjudul Pembela Islam (Tarikh Sayidina Abu Bakar Shiddiq), buku ketiga berjudul Adat Minangkabau dan Agama Islam, buku keempatnya berjudul Ringkasan Tarikh Umat Islam dan buku kelimanya berjudul Kepentingan Melakukan Tabligh.

BERGURU KEPADA H.O.S  TJOKROAMINOTO

Hamka mulai meninggalkan kampung halamannya pada usia 16 tahun di tahun 1924. Pada waktu itu beliau sudah menjadi anggota organisasi Muhammadiyah di Padangpanjang dan tertarik dengan Partai Politik Sarekat Islam (SI) pimpinan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, kelak menjadi mertuanya Bung Karno dan sering disebut sebagai “Guru Para Pendiri Bangsa.” SI sebuah organisasi politik pertama di Indonesia yang bertujuan melawan dominasi pedagang Tionghoa.

Pada tahun 1905, SI ini bernama Serikat Dagang Islam (SDI), tidak berpolitik, hanya sebuah perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis Haji Samanhudi di Surakarta (Solo) bertujuan menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa dan pedagang-pedagan asing lainnya.  Pada saat itu, pedagang-pedagang keturunan Tionghoa lebih maju usahanya dan memiliki hak dan status yang lebih tinggi dari pada penduduk pribumi Hindia Belanda.  Kebijakan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Hindia-Belanda agar kaum minoritas Tionghoa bisa dikendalikan dan kaum mayoritas pribumi tidak memiliki kemampuan mumpuni tapi hal ini kemudian menimbulkan perubahan sosial karena timbulnya kesadaran baru di antara kaum pribumi yang biasa disebut sebagai Inlanders.

Organisasi SDI berkembang pesat hingga menjadi perkumpulan berpengaruh. Terbukti ketika R.M. Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Kemudian tahun 1910, Tirtoadisuryo mendirikan lagi organisasi semacam itu di Buitenzorg (Bogor sekarang).  Demikian pula, di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa tahun 1912.

Kelak ketika Haji Oemar Said Tjokroaminoto dipilih menjadi pemimpin, mengubah nama SDI menjadi SI.  Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik. Tujuan SI selain mengembangkan jiwa dagang, juga membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha, memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat, memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam dan hidup menurut perintah agama.

Pada waktu bernama SDI anggotanya terbatas untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Tetapi setelah Tjokroaminoto memimpin SDI kemudian mengganti nama menjadi SI, keanggotaannya tidak hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim dari segala penjuru Nusantara.  Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik, tapi dalam kegiatannya SI menaruh perhatian besar terhadap unsur-unsur politik dan menentang ketidakadilan serta penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Artinya SI memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda.

Seiring dengan perubahan waktu, akhirnya SI pusat diberi pengakuan sebagai Badan Hukum pada bulan Maret tahun 1916. Setelah pemerintah Belanda memperbolehkan berdirinya partai politik, SI berubah menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad tahun 1917, yaitu HOS Tjokroaminoto; sedangkan Abdoel Moeis (Abdul Muis) yang juga tergabung dalam CSI menjadi anggota volksraad atas namanya sendiri berdasarkan ketokohan, dan bukan mewakili Centraal SI sebagaimana halnya Tjokroaminoto.

Hamka yang berdarah Minangkabau, pun sebagaimana halnya Abdul Muis yang telah lebih dulu bergabung dengan SI, sangat tertarik dengan partai politik ini. Apalagi dengan kehadiran H. Agus Salim, yang juga berasal dari Minangkabau, membuat Hamka semakin ingin belajar langsung dengan HOS Tjokroaminoto. Memperdalam pengetahuan agama Islam memang menjadi ciri khas budaya Minangkabau yang memiliki nilai-nilai falsafah tinggi dan bersifat universal. “Alam takambang jadi guru”, ujar mereka.

Hamka di usia 16 tahun, tahun 1924 mulai meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa, sekaligus ingin mengunjungi kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Untuk itu, Hamka kemudian ditumpangkan dengan Marah Intan, seorang saudagar Minangkabau yang hendak ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, ia tidak langsung ke Pekalongan. Untuk sementara waktu, ia tinggal bersama adik ayahnya, Dja’far Amrullah di Kelurahan Ngampilan, Yogyakarta. Barulah pada tahun 1925, ia berangkat ke Pekalongan, dan tinggal selama enam bulan bersama iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur.

Di Yogyakarta tahun 1924 agar bisa belajar dengan HOS. Tjokroaminoto, Hamka bercerita dia sengaja memalsukan usianya dari 17 menjadi 18 tahun agar bisa masuk Sarekat Islam saat itu. Soalnya, hanya anggota SI yang boleh mengikuti kursus agama dua kali seminggu dalam kelas Tjokro. Cerita Hamka ini bersumber dari pengantar buku Amelz berjudul ‘HOS Tjokroaminoto, Hidup dan Perdjuangannya’. Hanya yang menjadi pertanyaan, apakah ketika masih di Padangpanjang, Hamka sudah masuk SI atau belum. Atau baru di Yogyakarta? Perlu penelusuran lebih jauh.

Tak jelas di mana rumah paman Hamka dan di mana tempat mereka biasa mengikuti kursus bersama Tjokro. Yang dicatat Hamka hanyalah dia terkecil di antara sekitar 30 peserta kursus. Pengajarnya tiga orang: RM Soerjopranoto, mengajar sosiologi; H. Fachruddin, membawakan dasar-dasar hukum Islam, dan Tjipto, memberikan kursus agama Islam dan sosialisme.

“Waktu itulah saya mulai mengenal komunisme, socialisme, nihilisme. Waktu itulah mulai mendengar nama Karl Marx, Engels, Proudhon, Bakunin, dan lain-lain,” tulis Hamka.

CATATAN SINGKAT TENTANG GURU HAMKA

Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, siapakah sebenarnya guru Hamka ini? Tjokroaminoto lahir di Bakur, Madiun, pada 16 Agustus 1882 dan berasal dari keluarga bangsawan. Tetapi pada saat bersamaan, dia memprotes atribut-atribut feodalisme, seperti menyimpan gelar Raden, memprotes laku ndodok—berjalan jongkok di depan bangsawan.

Tjokroaminoto menuntut kesetaraan bangsa Hindia Belanda, sehingga menyeru pengikutnya mengenakan “pakaian Eropa”, sebagai lambang “pribumi sama-sama manusia seperti orang Belanda”.

Pada tahun 1914, Tjokroaminoto menulis sajak di ‘Doenia Bergerak’ menggambarkan bagaimana keadaan bangsa Indonesia pada waktu itu:

Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia.
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa.
Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya.
Tapi kalau mereka tahu hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas.
Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula.
Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko.
Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar.

Adalah Soekarno, Proklamator dan Presiden RI Pertama—waktu itu masih bernama Kusno Sosrodihardjo—menjadi anak kos istimewa di rumah Tjokro di Gang Peneleh VII, Surabaya. Selanjutnya kelak menjadi menantu Tjokro. Ada sepuluh anak kos lain di rumah itu. Di meja makan rumah Gang Peneleh itulah, ilmu pergerakan modern ditularkan Tjokroaminoto kepada Alimin, Musso, Soekarno, dan belakangan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, pemimpin Darul Islam di masa tua.

Hamka menggambarkan gurunya, HOS Tjokroaminoto: “Badannya sedikit kurus, tapi matanya bersinar. Kumisnya melentik ke atas. Badannya tegak dan sikapnya penuh keagungan, sehingga, walaupun beliau tidak memedulikan lagi titel Raden Mas yang tersunting di hadapan namanya, namun masuknya ke dalam majelis tetap membawa kebesaran dan kehormatan.”

Bagi kalangan intelektual Minangkabau, Tjokroaminoto bukan nama yang asing. Selama mengajar Hamka dan kawan-kawan, Tjokro selalu meminta ruangan luas. Tjokro tak mau terikat mimbar sempit. Ia menerangkan pelbagai hal sosialisme dalam Islam dan keadaan politik dalam negeri. Hamka menilai Tjokro sebagai orator dan agitator yang layak di tempat lebih besar, bukan hanya di ruangan kelas. “Suaranya lantang besar, memancar dari sinar jiwa dan sanubarinya,” kata Hamka.

Tetapi sifat gagahnya hilang ketika Soekarno mengembalikan anaknya Oetari ke pangkuannya. Tjokroaminoto hanya diam, entah apa yang ada dalam benaknya. Hanya Allah SWT yang tahu. “Pak Tjokro hanya mengangguk diam tanpa menanyakan persoalan-persoalan pribadi,” ujar Soekarno di dalam buku biografinya yang ditulis Cindy Adams.

Sakit ginjal dan maag kronis akhirnya merenggut hidup Tjokro pada 17 Desember 1934. Tjokro menghembuskan napas terakhir di pangkuan Resoramli, yang menungguinya bersama Jumarin—kader PSII yang asli Padang—dan Rostinah, istri kedua Tjokro setelah istri pertamanya meninggal. Dalam obituari pada 18 Desember 1934, Pewarta Soerabaya menulis istri kedua Tjokro adalah artis sebuah kelompok wayang orang. Tjokro bertemu dengan istri keduanya di Pakualaman. Dia pesinden asli Yogyakarta. Tetapi mereka tidak dikaruniai anak.

Sebelum meninggal, Tjokro merasa prihatin bahwa Partai Sarekat Islam (SI) pecah menjadi dua pada saat-saat berkembang pesat. SI disusupi paham sosialisme revolusioner. Paham ini disebarkan H.J.F.M Sneevliet yang mendirikan organisasi ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) pada tahun 1914. Pada mulanya ISDV sudah mencoba menyebarkan pengaruhnya, tetapi karena paham yang mereka anut tidak berakar di dalam masyarakat Indonesia melainkan diimpor dari Eropa oleh orang Belanda, sehingga usahanya kurang berhasil. Sehingga mereka menggunakan taktik infiltrasi yang dikenal sebagai “Blok di Dalam”, mereka berhasil menyusup ke dalam tubuh SI oleh karena dengan tujuan yang sama yaitu membela rakyat kecil dan menentang kapitalisme namun dengan cara yang berbeda.

Dengan usaha yang tekun, mereka berhasil memengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirdjo. Hal ini menyebabkan SI pecah menjadi “SI Putih” yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan “SI Merah” yang dipimpin Semaoen. SI merah berlandaskan asas sosialisme-komunisme. Kembali nama-nama Minangkabau tersebar contohnya Tan Malaka, menunjukkan bahwa orang Minangkabau tersebar di mana-mana dalam berbagai aliran politik. Di dalam pemerintahan Soekarno malah ada yang menyebutnya: “Kabinet Minangkabau,” karena banyaknya suku tersebut melingkari pemerintahan.

MEMBEDAH ROMAN DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH

Pada tahun 1927, Hamka berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekembalinya dari Mekkah, dalam suatu rapat adat niniak mamak Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Engku Datuk Rajo Endah Nan Tuo, memaklumkan Hamka dengan gelar Datuk Indomo, yang merupakan gelar pusaka turun temurun dalam Suku Tanjung. Pada tahun 1950, Hamka kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Semasa hayatnya Hamka telah tujuh kali naik haji.

Setelah melakukan perjalanan ke Jawa dan Mekkah sejak berusia 16 tahun (ada juga data yang mengatakan usia 19 tahun) untuk menimba ilmu, ia menjadi guru agama di Deli, Sumatera Utara, kemudian di Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam perjalanan ini, terutama saat di Timur Tengah, Hamka banyak membaca karya dari ahli dan penulis Islam, mulai dari karya penulis asal Mesir bernama Mustafa Lutfi al-Manfaluti, Mohammad Abduh hingga karya berbahasa Arab lainnya yang umumnya merupakan terjemahan dari Eropa. Juga mempelajari kesusasteraan Melayu.

Pada tahun 1935, Hamka meninggalkan Makassar untuk kembali ke Medan. Di Medan, Hamka mulai menulis Roman “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, ketika menjadi editor untuk majalah Islam mingguan “Pedoman Masjarakat”. Roman pertamanya “Si Sabariah”, yang pertama kali diterbitkan sebagai buku.

Roman ialah bentuk prosa baru yang berupa cerita fiksi yang masuk golongan cerita panjang, yang isinya menceritakan kehidupan seseorang atau beberapa orang yang dihubungkan dengan sifat/jiwa mereka dalam menghadapi lingkungan hidupnya.”

“Di Bawah Lindungan Ka’bah,” ditulis dalam bentuk singkat dengan gaya bahasa yang sederhana. H.B. Jassin mencatat bahwa “Di Bawah Lindungan Ka’bah,” ditulis dengan menarik dan indah. Juga mencatat bahwa Hamka memiliki gaya bahasa yang “sederhana, tetapi berjiwa.”

“Di Bawah Lindungan Ka’bah”, memiliki gaya penceritaan yang bersifat didaktis, yang bertujuan untuk mendidik pembaca berdasarkan sudut pandang penulis. Hamka lebih mengedepankan ajaran tentang dasar-dasar Islam dibanding menyinggung tema kemodernan, seperti kebanyakan penulis saat itu, dan mengkritik beberapa tradisi yang menentang Islam,” ujar Jassin.

Bakri Siregar menganggap novel ini menjadi cerita yang dikarang dengan baik dan gaya penulisannya yang kuat. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebut bahwa karya Hamka terlalu mementingkan nilai moral dan plotnya bersifat sentimental, ‘he wrote that a Western reader would at least provide a window into Indonesian culture in the 1930an’.

“Di Bawah Lindungan Ka’bah,” diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1938. Pada waktu itu milik Penerbitan Hindia Belanda. Balai Pustaka umumnya menolak karya bertema agama karena melakukan resistensi terhadap praktik penindasan kolonial Belanda di Indonesia; meski begitu, roman ini dapat diterima ‘as they considered its romance with a religious background’.

Selama di Medan, Hamka kemudian menerbitkan empat novel, termasuk “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” yang dianggap sebagai karya terbaiknya. Setelah cetakan ke tujuh, novel ini diterbitkan oleh Bulan Bintang.

Dalam Roman/ Novelnya “Di bawah Lindungan Ka’bah,” ini Hamka juga menceritakan dirinya naik haji:

“Harga getah di Jambi, dan di seluruh tanah ini sedang naik, negeri Mekkah baru saja pindah dari tangan Syarief Husin ke tangan Ibnu Saud, Raja Hejaz dan Nejd dan daerah takluknya, yang kemudian ditukar namanya menjadi Kerajaan “Arabiyah Saudiyah”. Setahun sebelum itu telah naik haji pula dua orang yang kenamaan dari negeri kita (Guru Hamka HOS. Cokroaminoto dan KH. Mas Mansur yang menunaikan ibadah haji tahun 1926). Karena itu banyak orang yang berniat mencukupkan Rukun Islam yang kelima itu. Tiap-tiap kapal haji yang berangkat menuju Jeddah penuh sesak membawa Jemaah haji.”

Kalimat ini ingin menegaskan bahwa Hamka dan para calon jemaah haji lainnya dari Indonesia, menaiki kapal pada tahun 1927 itu. “Konon kabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum itu ataupun sesudahnya,” lanjut Hamka lagi.

“Waktu itulah saya naik haji. Dari Pelabuhan Belawan saya telah berlayar ke Jedah, menumpang kapal Karimata. Empat belas hari lamanya saya terkatung-katung di dalam lautan besar. Pada hari kelima belas sampailah saya ke Pelabuhan Jedah, di pantai Laut Merah itu. Dua hari kemudian saya pun sampai di Mekkah, Tanah Suci kaum muslimin sedunia,” jelas Hamka lagi.

Tulisan Hamka kemudian mengarah ke seorang sahabatnya yang bernama Hamid. Inilah awal cerita yang akan dipaparkan Hamka selanjutnya. “Hamid merupakan Muslim kelahiran Minangkabau, Sumatera. Ketika berusia enam tahun, Hamid diangkat sebagai anak oleh Haji Ja’far; ayah Hamid telah meninggal dua tahun sebelumnya. Haji Ja’far merupakan suami dari Asiah, yang memiliki anak perempuan bernama Zainab. Di rumah Haji Ja’far, Hamid menjadi teman bermain Zainab yang lama-kelamaan kian akrab seperti kakak dan adik. Setelah menamatkan pendidikan masing-masing di sekolah Hindia-Belanda, Hamid dan Zainab mulai jatuh cinta tetapi sama-sama tidak mengutarakannya. Mereka kemudian terpisah, karena Hamid memutuskan pindah ke Padangpanjang untuk melanjutkan pendidikannya.

Pada suatu waktu, ayah Zainab meninggal. Tak lama kemudian, ibu Hamid juga meninggal. Pada saat yang sama, ibu Zainab, Asiah meminta Hamid untuk membujuk anaknya agar menikahi sepupunya, sebagaimana tradisi yang umum berlaku pada saat itu. Permintaan tersebut dijalankan oleh Hamid mengingat ibunya juga tidak mengizinkannya menikahi Zainab karena perbedaan kelas sosial, padahal dalam hati kecilnya Hamid sangat mencintai Zainab. Hamid kemudian mengalami patah hati akibat keputusan yang diambilnya, lalu memutuskan pergi ke Mekkah.

Setelah setahun berada di Mekkah, Hamid yang mulai menderita penyakit bertemu dengan Saleh. Istri Saleh, Rosna adalah teman dekat Zainab sehingga Hamid dapat mendengar kabar tentang Zainab. Dari penuturan Saleh, Hamid mengetahui bahwa ternyata Zainab mencintai dirinya, dan Zainab tidak jadi menikah dengan laki-laki pilihan ibunya. Setelah mengetahui kenyataan yang menggembirakan itu, Hamid memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya usai menunaikan ibadah haji. Sementara itu, Saleh melalui istrinya mengirimkan surat untuk diberikan kepada Zainab yang isinya menggambarkan pertemuannya dengan Hamid. Namun Saleh mendapat balasan dari istrinya bahwa Zainab telah meninggal dunia; Saleh tidak memberikan kabar tersebut kepada Hamid sebelum akhirnya Hamid mendesaknya. Kenyataan itu disusul dengan meninggalnya Hamid di hadapan Ka’bah.”

DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH DIFILMKAN

Perlu sedikit menguraikan perbedaan roman dan novel dalam Kesusasteraan Indonesia. Pada awalnya pengertian roman dan novel selalu dibedakan:

1. Roman sering dikatakan sebagai karangan mengenai kehidupan manusia dengan pengalaman, sifat, adat istiadat, pengaruh ekonomi, politik, kehancuran dam keberhasilan serta pandangan hidup suatu masyarakat seluas-luasnya. Tokoh utamanya disimpulkan sebagai tokoh yang dimunculkan sejak kecil sampai dewasa bahkan sampai meninggal. Tokoh bawahannya banyak, sehingga memungkinkan terjadinya plot ganda. Kesemua itu diceritakan secara mendalam dan terperinci serta penuh dengan nasehat-nasehat yang langsung dilontarkan oleh para tokoh positifnya.

2. Novel sering dikatakan sebagai karangan yang menceritakan suatu peristiwa yang luar biasa sebab hanya memuat cerita berdasarkan konflik hidup yang sangat menonjol, sehingga menceritakan tokoh sejak kecil sampai dewasa dianggap tidak perlu. Konflik batin yang mendalam dari para tokoh menjadi sasaran utama cerita, hal itu menyebabkan plot menjadi erat, tunggal, dan menarik.

Tetapi dewasa ini pengertian roman dan novel dianggap sama. Hal ini berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

a) Istilah roman bersumber pada sebutan yang dipergunakan di Belanda dan Prancis. Istilah tersebut masuk ke Indonesia karena sastra Indonesia pada waktu sebelum Perang Dunia II banyak dipengaruhi sastra Belanda. Pengaruh tentunya sangat kuat sekali sebab pada waktu Indonesia dalam posisi dikuasai Belanda.

b) Istilah novel masuk ke Indonesia setelah merdeka. Istilah ini adalah pengaruh dari sastra Inggris yang tidak mengenal istilah roman. Belakang ini sastra yang masuk ke Indonesia banyak sastra berbahasa Inggris, maka secara berangsur-angsur istilah roman mulai bergeser.

Melihat pertimbangan-pertimbangan tersebut agaknya tidak perlu lagi ada batasan-batasan yang ketat antara istilah roman dan novel.

Novel berasal dari bahasa latin nonelis yang diturunkan dari kata noveis yang berarti baru. Dikatakan baru sebab novel muncul belakangan dibanding dengan bentuk puisi dan drama.

Jika kita melihat berbagai macam roman pada waktu itu, Roman “Di Bawah Lindungan Kabah” dikategorikan sebagai Roman Adat. Hal ini tercermin dari penggunaan bahasa Hamka yang lebih difokuskan kepada nilai kesantunan dan religius. Jadi Hamka bukan hanya sekadar memilih dan menjalin kata demi kata, akan tetapi, mencoba mengemukakan nilai-nilai budaya Minangkabau melalui penggambaran dilematik tradisi yang kadangkala mesti mengorbankan perasaan dan naluri kemanusiaan.

Karya sastra merupakan hasil karya yang dibangun melalui kemampuan pengarang memilih dan menyusun kata, di samping kemampuan merangkai peristiwa sebagai cermin realitas sosiobudaya tempo karya itu dihasilkan. Oleh sebab itu, karya dapat menunjukkan ketinggian dan kepiawaian pengarangnya. Di sinilah kejeniusan Hamka dalam menguraikan kalimat-kalimat sehingga pembacanya ikut larut dalam kesedihan.

Bacalah bagaimana Hamka menguraikan kalimat-kalimat. “Dengan berurai air mata, Zainab menitipkan sepucuk surat kepada Soleh untuk disampaikan kepada Hamid. Zainab tidak tahu di mana kini Hamid berada. Rosna kekasih Soleh tersuguk terharu menyaksikan betapa besar dan dalamnya cinta murni sahabat karibnya itu kepada Hamid. Biarlah surat ini mengikuti takdirnya… demikian suara lemah Zainab ketika menyerahkan amplop surat bertulis Kepada Hamid. Soleh akan segera menunaikan ibadah haji. Zainab yakin Hamid berada di tanah suci seperti yang selalu dicita-citakannya. Hamid terusir dari kampung halamannya, membawa derita cinta yang terpenggal karena adat istiadat Minangkabau.”

Simak lagi kalimat Hamka di buku yang saya baca, terbitan Bulan Bintang, yang pada bulan Mei 2010 sudah memasuki cetakan ke-31, belum lagi cetakan di Balai Pustaka sebelumnya, pada halaman 48 dan 49:

“Engkau kan tahu Ros, bahwa Hamid tidak begitu gagah, tidak sepantas dan selagak pemuda lain, tetapi hati kecilku amat kasihan padanya, agaknya hidupnya yang sederhana itulah yang telah memaut hati sanubariku. Saya amat iba kepadanya, karena saya merasa bahwa tak ada orang lain yang akan mengibai dirinya…”

“…Sebenarnya Ros… saya cinta kepada Hamid! Biar engkau tertawakan daku, Sahabat, biar mulutmu tersenyum simpul, saya akan tetap berkata, bahwa saya cinta kepada Hamid. Ia tidak berpembela, tidak ada orang yang akan sudi menyerahkan diri menjadi istrinya karena dia miskin. Tidak ada gadis yang akan sudi memperdulikan dia, karena rupanya tak gagah. Itulah sebabnya dia saya cintai…”

“…Akhirnya saya mendengar kabar, bahwa dia telah pergi, telah berjalan jauh dengan tiba-tiba, tidak diberitahu sahabat-sahabatnya yang paling akrab, dia telah meninggalkan saya dengan gelombang angan-angan, akan menempuh suatu tujuan yang masih gelap… Semenjak itu, entah dia di lautan entah di daratan, berita tak sampai-sampai lagi, kian lama dia hilang, kian berdiri dia dalam ingatanku. Kadang-kadang saya menjadi seorang yang putus pengharapan, hatiku kerap berkata, bahwa saya takkan bertemu lagi dengan dia…”

Hamka mampu menyusun kalimat-kalimat sehingga orang menitikkan air mata, terbawa suasana haru melihat kepedihan penderitaan Zaenab yang merindukan kekasihnya Hamid. Di mana dikau berada kakanda tiada kabar berita. Kemampuan berlebih Hamka menggetar jiwa pembaca ketika itu dan mengharu birukan penonton ketika roman ini difilmkan dengan judul yang sama, “Di bawah Lindungan Ka’bah,” pada tahun 1978 dan dirilis tahun 2011.

Kalau membaca buku roman Hamka ini tidaklah begitu tebal. Buku yang saya baca hanya 66 halaman, tetapi Hamka mampu memadatkan ceritanya dan memang beliau adalah di atas rata rata bahkan bisa dikategorikan sastrawan jenius masa itu. Sastrawan ini dengan segala keterbatasan alat komunikasi dan alat tulis tahun 1930 an, mampu menorehkan kisah yang sangat fenomenal dalam sejarah percintaan anak negeri.

“Di Bawah Lindungan Ka’bah” difilmkan, diproduksi pada tahun 1978 dan disutradarai oleh Asrul Sani dengan pemain utama Camelia Malik dan Cok Simbara. Pada tahun 2011 dirilis yang berjudul sama dan disutradarai oleh Hanny R. Saputra yang dibintangi Laudya Cynthia Bella sebagai Zainab, Herjunot Ali sebagai Hamid, Didi Petet sebagai Haji Ja’far, Widyawati sebagai nyonya Ja’far, Jenny Rachman sebagai ibu kandung Hamid.

ROMAN TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJK

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, untuk memajukan organisasi Muhammadiyah yang digelutinya, Hamka bersedia menjadi guru Muhammadiyah di Makasar sekitar tahun 1931 sampai 1934. Pada tahun 1932, Hamka menjadi editor dan menerbitkan majalah Al-Mahdi di Makassar. Selanjutnya Hamka menjadi Pemimpin Redaksi di Pedoman Masyarakat tahun 1936-1943 di Medan.

Di Medan ini, pada era 30an , karya-karya Hamka mulai terkenal dan ditunggu para penggemarnya. Beberapa roman/novel yang terkenal pada masa itu, Laila Majnun (1932), Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937). Novelnya lain yang terkenal adalah Merantau ke Deli (1940). Novel-novelnya menjadi buku sastra wajib di Malaysia dan Singapura. Pengaruh Hamka masih terjaga di kedua negara itu. Karya-karya besar Hamka lain Keadilan Illahi (1939), Tuan Direktur (1939), dijemput Mamaknya (1939), Tashawwuf Modern (1939), Falsafah Hidup (1939), Lembaga Hidup (1940) dan Lembaga Budi (1940).

Pada waktu menulis roman/novelnya ini, kehidupan Hamka tidak lagi sendirian, karena pada tanggal 5 April 1929, beliau dinikahkan dengan Siti Raham binti Endah Sutan, yang merupakan anak dari salah satu saudara laki-laki ibunya. Dari perkawinannya dengan Siti Raham, ia dikaruniai 11 orang anak. Mereka antara lain Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan, Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif, dan Syakib. Setelah istrinya meninggal dunia, satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1973, ia menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hj. Siti Khadijah. Menjelang akhir hayatnya ia mengangkat Jusuf Hamka, seorang muallaf, peranakan Tionghoa-Indonesia sebagai anak.

Di antara roman/novel Hamka yang terkenal adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Pertama kali diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam Majalah Islam Mingguan Hamka di Medan, Pedoman Masjarakat. Menurut Yunan Nasution, salah satu karyawan majalah tersebut, ketika majalah itu dikirimkan ke Kutaraja, Aceh (kini Banda Aceh), banyak pembaca yang telah menunggu di stasiun kereta api agar bisa membaca bab berikutnya secepat mungkin. Hamka juga menerima surat dari beberapa pembaca, yang beranggapan bahwa novel itu mencerminkan kehidupan mereka.

Setelah mendapat sambutan yang hangat itu, Hamka memutuskan untuk menerbitkan Van Der Wijck sebagai novel dengan usaha penerbitan milik temannya, M. Syarkawi; dengan menggunakan penerbit swasta, Hamka tidak dikenakan sensor seperti yang berlaku di Balai Pustaka. Cetakan kedua juga dengan penerbit Syarkawi. Lima cetakan berikutnya, mulai pada tahun 1951, dengan Balai Pustaka. Cetakan ke delapan pada tahun 1961, diterbitkan oleh Penerbit Nusantara di Jakarta; hingga tahun 1962, novel ini telah dicetak lebih dari 80 ribu eksemplar. Cetakan setelah itu kemudian diterbitkan oleh Bulan Bintang. Novel Hamka ini juga pernah diterbitkan di Malaysia beberapa kali.

Kritikus sastra Indonesia beraliran sosialis, Bakri Siregar menyebut Van Der Wijck sebagai karya terbaik Hamka. Kritikus lain, Maman S. Mahayana, berpendapat bahwa novel ini mempunyai karakterisasi yang baik dan penuh ketegangan; Maman beranggapan bahwa ini mungkin karena novel ini awalnya diterbitkan sebagai cerita bersambung.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck berkisah tentang percintaan antara Zainuddin, laki-laki berayah Minang beribu Bugis, dan Hayati, perempuan yang murni keturunan Minang.

Dalam novel ini, Hamka menyatakan ketidaksetujuan terhadap beberapa tradisi dalam adat Minang, terutama mengenai diskriminasi terhadap orang keturunan campuran yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lebih dikenal dengan singkatan Hamka ini memang Muslim asal Minangkabau yang dibesarkan dalam kalangan keluarga yang taat beragama. Ia memandang tradisi yang ada dalam masyarakat di sekitarnya sebagai penghambat kemajuan agama, sebagaimana pandangan ayahnya, Abdul Karim Amrullah.

Zainuddin adalah anak yatim piatu. Ayahnya yang berasal dari kalangan Minang, meninggal dalam pengasingan setelah membunuh kerabatnya karena masalah warisan; sedangkan ibunya yang bukan Minang meninggal sebelumnya. Zainuddin tinggal bersama teman ayahnya, Mak Base di Batipuh, Sumatera Barat. Sebagai orang blasteran, banyak diskriminasi yang ditujukan kepadanya mengingat konservatifnya masyarakat Minang pada saat itu. Biarpun Zainuddin mencintai Hayati, putri dari bangsawan Minang, Zainuddin tidak diperbolehkan untuk bersamanya. Karena itu, Zainuddin kemudian memutuskan pindah ke Padangpanjang, tetapi tetap melakukan surat-menyurat dengan Hayati.

Suatu hari, Hayati berkunjung ke Padangpanjang untuk menjumpai Zainuddin. Hayati menginap dengan sahabatnya, Khadijah. Namun, kakak Khadijah, Aziz mulai jatuh cinta dengan Hayati, sehingga Aziz dan Zainuddin harus bersaing untuk memenangkan cinta Hayati. Aziz, yang murni keturunan Minang dan berasal dari keluarga terpandang, lebih disukai keluarga Hayati; mereka meremehkan Zainuddin, yang blasteran dan miskin. Biarpun Zainuddin mendapatkan warisan yang cukup besar dari Mak Base, Zainuddin hanya bisa menyampaikan hal itu setelah Hayati menikah dengan Aziz.

Karena putus asa, Zainuddin dan temannya Muluk pergi ke Jawa, tinggal pertama kali di Batavia sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. Di perantauan, Zainuddin menjadi penulis yang terkenal. Pada saat yang sama, Aziz juga pindah ke Surabaya bersama Hayati karena alasan pekerjaan. Namun, hubungan mereka tidak lagi berjalan dengan baik. Setelah Aziz dipecat, mereka terpaksa menginap di rumah Zainuddin. Ketika Aziz menyadari bahwa Zainuddin lebih pantas untuk Hayati, Aziz memutuskan untuk pergi ke Banyuwangi; dalam sepucuk surat, Aziz menyatakan telah mengikhlaskan Hayati untuk Zainuddin.

Zainuddin, yang merasa tersiksa karena kerinduannya akan Hayati, menolak perempuan itu untuk tetap di rumahnya dan menyuruhnya agar pulang ke Batipuh. Hari berikutnya, Hayati pergi dengan menaiki kapal Van Der Wijck, yang kemudian tenggelam di pesisir utara pulau Jawa. Setelah mendengar berita itu, Zainuddin dan Muluk pergi ke Tuban untuk mencari Hayati, yang ternyata telah berada di rumah sakit. Di rumah sakit itu, Hayati meninggal setelah berbaikan dengan Zainuddin. Zainuddin pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Mereka kemudian dikebumikan secara bersebelahan.

SAYA MARAH HAMKA DIBILANG PLAGIATOR

Ketika saya melihat buku “Aku Mendakwa Hamka Plagiat – Skandal Sastra Indonesia 1962-1964, yang terbit bulan September 2011 setebal 238 halaman, penerbit Seripa Manent & Merakesumba, saya langsung membacanya.

Saya tidak mengerti mengapa buku ini diterbitkan. Apa maksud penulis Muhidin M. Dahlan mengungkapkannya lagi di hadapan khalayak. Saking memendam amarah, saya mengatakan tidak seorang pun mengenal siapa sebenarnya di penulis tersebut, karena identitasnya tidak ada bahkan banyak di antaranya meraba-raba siapa Muhidin M. Dahlan. Menurut saya ini sudah merupakan kelemahan dari sebuah buku. Tidak ada tanggung jawab di dalamnya.

Ternyata tulisan saya di facebook itu hanyalah sebuah pancingan atau sebuah trik, karena saya menganggap apa manfaatnya buat generasi muda mengungkit kembali hal-hal yang masih abu-abu di masa itu. Belum jelas dan masih dalam polemik. Ternyata dugaan saya benar, dan kemudian barulah saya menulis untuk kedua kalinya berjudul: “Inilah Inti Tulisan Tentang Hamka.”

Trik-trik seperti ini saya pelajari dari Burahanudin Mohamad Diah (B.M. Diah) ketika saya menulis buku beliau “Butir-butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992), mengatakan: “Bung Dasman, jika ingin mengetahui siapa lawan kita sebenarnya, biarkan dia ke luar dulu dari sarangnya.” B.M. Diah adalah tokoh pers, diplomat dan pada malam 17 Agustus 1945 ikut hadir bersama Bung Karno-Hatta menyaksikan penyusunan naskah proklamasi di Rumah Laksamana Maeda, perwira Angkatan Laut Jepang. Beliau juga berpengalaman berpolemik antara surat kabarnya Harian Merdeka dengan Harian Rakjat, Juni-Juli 1964.

Harian Merdeka merupakan Koran Perjuangan lahir 1 Oktober 1945 dan sangat anti Partai Komunis Indonesia (PKI). Hamka pernah menjadi koresponden Harian Merdeka. Sementara Harian Rakjat lahir pada 1951, media resmi Partai Komunis Indonesia itu berkantor di Jalan Pintu Besar Nomor 93, Jakarta, dengan direksi/penanggung jawab/redaksi Mula Naibaho. Wakil Ketua II CC PKI, Njoto, menjadi pemimpin redaksi media ini dan Supeno, menjadi anggota dewan redaksinya. Njoto sering menulis editorial, pojok atau kolom.

Buku tulisan Muhidin M. Dahlan ini hanya mengulang peristiwa bulan September 1962 yang menuduh Hamka sebagai plagiat dalam novelnya “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” (1938) dan sudah dicetak sebanyak 80 ribu eksemplar. Hamka dituduh melakukan plagiat dari novel “Magdalena” yang merupakan saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman yang ditulis pengarang Perancis Alphonse Karr, “Sous les Tilleuls”.

Saya menulis lagi: “Perlu kita pahami polemik di sekitar tahun itu (1962-1964) tidak murni lagi polemik sebagaimana seorang ilmuwan. Polemik sudah mengarah ke fitnah, adu domba, sebagaimana sifat warga komunis di Indonesia yang benci dengan Islam. Perlu diketahui bahwa Hamka seorang Muslim sejati. Tidak hanya itu, PKI juga waktu itu menginginkan agar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dibubarkan. Jadi persoalannya bukan sebatas dunia sastra, tetapi sudah mengarah ke perbedaan yang amat jelas antara PKI dan Islam. Jadi tidak ada yang baru dengan buku ini, polemik ini sudah dihentikan di saat-saat pecahnya Pemberontakan PKI tahun 1965. Saya sependapat dengan pernyataan H.B. Jassin: “Pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi. Ada garis-garis persamaan tema, plot dan buah pikiran, tapi jelas Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri… maka adalah terlalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen.”

Jassin juga menegaskan bahwa novel Tenggelamnya Van Der Wijck membahas masalah adat Minang, yang tidak mungkin ditemukan dalam suatu karya sastra luar. Kritikus sastra asal Belanda, A. Teeuw menyatakan bahwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sesungguhnya mempunyai tema yang murni dari Indonesia.

Awal tahun 1963, dunia sastra kita memang digemparkan oleh dua surat kabar Harian Ibukota: Harian Rakjat dan Harian Bintang Timur. Kedua koran milik Komunis ini menyiarkan di halaman pertama dengan berita “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck hasil jiplakan oleh pengarang Hamka”. Ulasan berita itu dilansir oleh seorang penulis bernama Ki Panji Kusmin. Sedangkan di harian Bintang Timur dalam lembaran Lentera, juga memuat dan mengulas bagaimana Hamka mencuri karangan asli dari pengarang Alfonso Carr, pujangga Prancis. Lembaran Lentera ini diasuh oleh Pramudya Ananta Toer.

Dalam buku “Kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka,” yang ditulis oleh puteranya Hamka, dinyatakan:

“Berbulan-bulan lamanva kedua koran komunis ini menyerang ayah dengan tulisan-tulisan berbau fitnah, juga menyerang secara pribadi. Aku lihat ayah tenang-tenang saja menghadapi segala hujatan dari Ki Panji Kusmin dan Pramudya Ananta Tur itu. Penulis waktu itu sekolah di SMAN IX merasakan tekanan batin juga. Guru Sastra lndonesiaku seorang guru PGRI Vak Sentral begitu pula dengan guru civicku dengan gaya mengejek selalu menanyakan kesehatan ayah dan tidak lupa berkirim salam. Kupingku terasa panas bila kedua guruku itu bertanya kepadaku. Begitu pula halnya dengan saudara-saudaraku yang lain. Apalagi membaca kedua koran yang sengaja dikirim ke rumah secara gratis.”

Selanjutnya Irfan Hamka menulis: “PKI melakukan usaha kudeta tanggal 30 September 1965 namun gagal. Dalam usaha kup itu 6 jenderal dan 1 perwira gugur dibunuh PKI. Akibat kegagalan kup PKI itu, kedua guru SMA-ku itu diberhentikan sebagai guru dan pegawai negeri, dan Pramudya Ananta Tur ditahan di Pulau Buru. Bertahun-tahun kemudian Pramudya Ananta Tur dibebaskan, kemudian melakukan kegiatan lagi. Ayah tidak pernah berhubungan dengan tokoh Lekra yang tidak pernah bosan menyerang ayah di kedua koran Komunis itu. Suatu hari, ayah kedatangan sepasang tamu. Si perempuan orang pribumi, sedang laki-lakinya seorang keturunan Cina. Kepada ayah si perempuan memperkenalkan diri. Namanya Astuti, sedangkan si laki-laki bernama Daniel Setiawan. Ayah agak terkejut ketika Astuti menyatakan bahwa dia anak sulung Pramudya Ananta Tur. Astuti menemani Daniel menemui ayah untuk masuk Islam sekaligus mempelajari agama Islam. Selama ini Daniel non muslim. Pramudya tidak setuju anak perempuannya yang muslimah nikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan beragama lain.”

“Hanya sebentar ayah berpikir. Tanpa ada sedikitpun keraguan permohonan kedua tamu itu dikabulkan oleh ayah. Daniel Setiawan calon menantu Pramudya Ananta Tur langsung diislamkan oleh ayah dengan menuntunnya membaca dua kalimat syahadat. Ayah menganjurkan Daniel berkhitan dan menjadwalkan untuk memulai belajar agama Islam kepada ayah. Dalam pertemuan dengan putri sulung Pramudya dan calon menantunya itu ayah tidak ada sama sekali berbicara masalah Pramudya dengan ayah yang pernah terjadi berselang lama waktu itu. Ayah betul-betul telah dihancurkan nama baiknya oleh Pramudya Ananta Tur melalui corong Komunis di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat.”

Kembali Irfan Hamka menulis: “Salah seorang teman Pramudya bernama Dr. Hudaifah Kuddah menanyakan kepada Pramudya alasan tokoh Lekra ini mengutus calon menantunya menemui Hamka. Dengan serius Pram menjawab: “Masalah paham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. Dialah seorang ulama yang terbaik.”

Menurut Dr. Hudaifah yang tertuang dalam majalah Horison, Agustus 2006, secara tidak langsung tampaknya Pramudya Ananta Tur dengan mengirim calon menantu ditemani anak perempuan seakan minta maaf atas perilakunya memperlakukan ayah di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat. Dan secara tidak langsung pula ayah memaafkan Pramudya Ananta Tur dengan bersedia mengislamkan dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantu.

HAMKA DAN NATSIR

Perjuangan Hamka terhadap bangsa dan negaranya, tidak ada bedanya dengan perjuangan Soekarno, Hatta, Sjahrir dan para pejuang kemerdekaan lainnya. Hanya karena lahir di lingkungan yang taat pada Agama Islam, sehingga apa yang diperjuangkannya sesuai dengan syariat-syariat Islam.

Selama pendudukan Jepang, Hamka sudah mempertahankan bangsa ini melalui Majalah ‘Semangat Islam’ yang terbit di tahun 1943. Juga melalui pidato-pidato dan ikut bergerilya di hutan-hutan Sumatera Timur. Setelah kemerdekaan, Hamka pun gigih membantu menentang agar Belanda tidak kembali menjajah Indonesia. Tahun 1947 diangkat menjadi Ketua Barisan Pertahanan Nasional Indonesia.

Di dalam Islam memang telah dulu diajarkan mengenai cinta kepada tanah air. Di dalam bahasa arab sering kita jumpai kalimat-kalimat yang mengarahkan ke sana, salah satunya kalimat yang artinya, “Apabila engkau ingin mengenal pribadi seseorang, maka perhatikan bagaimana kecintaan dan kepeduliannya kepada tanah air tumpah darahnya.” Juga di dalam Alquran, Surat Al-Baqarah Ayat 126, Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim a.s., berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka, kepada Allah dan hari kemudian.”

Dalam ayat ini jelas menunjukkan bagaimana wujud cinta Nabi Ibrahim kepada tanah airnya dengan mendoakannya dalam tiga hal: menjadi negeri yang aman sentosa, penduduknya dilimpahi rezeki, dan penduduknya beriman kepada Allah dan hari akhir. Tidaklah Nabi Ibrahim a.s., mendoakan seperti itu kecuali di hatinya telah tumbuh kecintaan terhadap negerinya.

Di dalam perjuangan, Hamka telah memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Itu sebabnya beliau menjadi anggota Sarekat Islam, Muhammadiyah dan terakhir memasuki Partai Masyumi atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), salah satu partai politik yang bernapaskan Islam. Hamka menganut paham Nasionalis-Agamis. Hal ini bisa dilihat dari novel-novelnya yang ditulisnya seperti “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk,” terlihat jelas suatu tema bahwa bangsa-bangsa di Indonesia adalah sederajat, Bugis dan Minangkabau, bagaimana konflik itu diselesaikan secara religius. Kehadiran tokoh Zainuddin, agaknya sebuah simbol kehadiran Indonesia. Jadi kalaulah harus berbicara nasionalisme, nasionalisme Hamka tidak fanatik atau chauvinistic.

Memang dalam masa-masa perjuangan, waktu Hamka banyak tersita, sehingga beliau kembali aktif menulis buku setelah kemerdekaan Indonesia. Dia berhasil menulis beberapa buku dan juga mendirikan majalah baru ‘Menara’. Buku-buku yang tulisnya ‘Negara Islam’ (1946), ‘Islam dan Demokrasi’ (1946), ‘Revolusi Pikiran’ (1946), ‘Revolusi Agama’ (1946), ‘Muhammadiyah Melalui 3 Zaman’ (1946), ‘Adat Minangkabau Menghadapi Ombak’ (1946), ‘Didalam Lembah Cita-Cita’ (1946), ‘Sesudah Naskah Renville’ (1947), ‘Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret’ (1947), dan ‘Menunggu Beduk Berbunyi’ (1949). Tahun 1947 Hamka dipercaya sebagai anggota Konstituante unsur Masyumi.

Suatu ketika Hamka menghadapi dilema ketika harus memilih jalan hidup sebagai Pegawai Tinggi Agama yang telah diangkat oleh Menteri Agama Indonesia atau tetap sebagai politikus Masyumi. Akhirnya Hamka memilih meninggalkan jabatan sebagai Pegawai Tinggi Agama dan lebih memilih sebagai politikus Masyumi.

Di awal-awal kemerdekaan merupakan awal mencari jati diri bangsa. Hendak kemana bangsa ini diarahkan, karena Indonesia baru saja merdeka. Kemudian apakah Indonesia didirikan atas kerajaan, republik dan menganut ajaran-ajaran Islam, kebangsaan dan lain-lain. Oleh karena itu tidak mengherankan perdebatan-perdebatan ideologis terjadi ketika berlangsung sidang Konstituante untuk merumuskan Undang-Undang Dasar Baru sejak 10 November 1956. Anggota sidang diwarnai oleh anggota-anggota partai yang menang dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Pertama di Indonesia tanggal 29 September 1955. Hasil Pemilu yang baru diumumkan tanggal 1 Maret 1956 menempatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang semula tidak diperhitungkan, berhasil menduduki posisi ke empat dalam jumlah pengumpulan suara untuk Parlemen (DPR). Posisi pertama diraih Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan jumlah suara 22,1 persen, Masyumi, 20,9 persen, NU, 18,4 persen dan PKI, 16,3 persen.

Sudah tentu berbicara mengenai Masyumi, berbicara kedekatan Hamka sebagai anggota dengan Ketua Umum Masyumi, Mohammad Natsir, yang sama-sama anggota Konstituante dan sama-sama berasal dari Sumatera Barat. Keakraban ini bisa kita saksikan setelah Hamka pada 13 November 1957 mendengar uraikan pidato Natsir yang menawarkan dengan tegas kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai Dasar Negara RI, Hamka langsung menulis puisi khusus untuk Natsir:

KEPADA SAUDARAKU M. NATSIR

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu…!

 

MASYUMI RAPATKAN BARISAN HADAPI PKI

Setelah Hamka membuat puisi kepada Natsir, dua tahun kemudian Natsir pun membalas puisi Hamka. Begini bunyinya:

Saudaraku Hamka,
Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama…
Kadang-kadang,
Di tengah-tengah si pongah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,
Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam “Daftar”.
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,
Yang biasa bersenandung itu,
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.
Aku tersentak,
Darahku berdebar,
Air mataku menyenak,
Girang, diliputi syukur
Pancangkan!
Pancangkan olehmu, wahai Bilal!
Pancangkan Pandji-pandji Kalimah Tauhid,
Walau karihal kafirun…
Berjuta kawan sefaham bersiap masuk
Kedalam “daftarmu”…

Dua pantun atau sajak Hamka dan Natsir ini menggambarkan situasi dan kondisi pada waktu itu, untuk tetap memperjuangkan Islam sebagai jalan hidup bangsa dan negara RI. Di samping sudah tentu menghadang pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang secara mengejutkan masuk menjadi empat besar dalam Pemilihan Umum 1955. Meski pada saat bersamaan hasil Pemilu juga menunjukkan kepercayaan besar bangsa Indonesia kepada partai-partai Islam, khususnya Masyumi yang memperoleh suara kedua terbesar setelah PNI.

Setelah Pemilu 1955, Pemerintah RI menganggap sudah sepatutnya dibuat UUD Baru karena UUD 1945 bersifat sementara, sebagaimana dinyatakan Soekarno dalam rapat pertama tanggal 18 Agustus 1945, yang menyatakan. “…tuan-tuan semuanya tentu mengerti bahwa Undang-Undang Dasar yang kita buat sekarang ini adalah Undang-Undang Dasar Sementara. Kalau boleh saya memakai perkataan ‘ini adalah undang-undang daar kilat’, nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram, kita tentu akan mengumpulkan kembali MPR yang dapat membuat undang-undang dasar yang lebih lengkap dan sempurna…”. Dari ungkapan Soekarno tersebut dapat disimpulkan bahwa UUD 1945 dibuat dengan tergesa-gesa karena untuk melengkapi kebutuhan berdirinya negara baru yaitu Indonesia.

Pada tanggal 10 November 1956 berdasarkan hasil Pemilu 1955 diselenggarakanlah Sidang Konstituante untuk merumuskan UUD Baru. Ada tiga ideologi yang ditawarkan untuk menjadi UUD Baru, yaitu Pancasila, Islam dan Sosial Ekonomi. Tawaran ini diajukan karena desakan-desakan dari anggota parlemen yang menang setelah Pemilu 1955. Jadi pemilihan Islam sebagai Dasar Negara RI tidak dicari-cari tetapi ditawarkan oleh Pemerintah RI, karena berdasarkan hasil kepercayaan rakyat terhadap partai-partai Islam, terutama Masyumi dalam pemilu yang bersih, jujur dan terbuka itu.

Partai-partai Islam ini sudah tentu tidak lupa pula mengenai sejarah lahirnya Piagam Jakarta sebelum kemerdekaan, yaitu pada 22 Juni 1945 (…membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia… dengan berdasar kepada: “keTuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja”). Meski pun kalimat-kalimat ini sudah dihilangkan dalam UUD 1945, tetapi terdapat nama-nama penting yang menandatanganinya seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad Subardjo, Wachid Hasjim dan Muhammad Yamin. Karena sembilan orang disebutlah dengan Panitia Sembilan.

Oleh karena itu terjadilah perdebatan panjang dalam sidang Konstituante. Pada akhirnya Masyumi dan partai-partai Islam lainnya gagal menggolkan konsep Islam sebagai landasan Undang-Undang Dasar Baru karena Pancasila lebih unggul setelah PKI ikut sebagai salah satu pendukung. Dukungan ini menjadi salah satu penentu utama mengapa Pancasila memperoleh suara terbesar. Tanpa itu, perolehan pendukung ideologi Pancasila sulit melebihi suara yang diperoleh pendukung ideologi Islam. Ini menambah kecemasan partai-partai Islam terhadap PKI yang sejak awal sudah berseberangan ideologi. Sehingga Sidang Konstituante tetap saja mengalami jalan buntu. Partai-partai Islam, lebih lebih Masyumi, di mana Hamka dan Natsir duduk di dalamnya terus memperjuangkan ideologi Islam.

Bayangkan sudah dua setengah tahun berjalan, sidang Konstituante tidak mampu mewujudkan rumusan Undang-Undang Dasar Baru. Pada tanggal 22 April 1959, Presiden Soekarno mengajukan usul dalam Sidang Konstituante untuk kembali ke UUD 1945. Usul itu sudah tentu tidak langsung dapat diterima, sehingga Soekarno terpaksa melakukan cara lain, yaitu begitu kembali dari perjalanan ke Jepang, pada tanggal 5 Juli 1959, dia mengambil tindakan penuh resiko, yaitu dengan mengeluarkan sebuah Dekrit untuk kembali ke UUD 1945.

Sejak Dekrit tersebut, bangsa Indonesia mengalami Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965) hingga berakhirnya kekuasaan Soekarno yang berlangsung enam tahun. Ketidakpuasan suara ummat Islam, terutama Masyumi yang memperoleh kepercayaan besar dari rakyat dalam Pemilu 1955 terabaikan, sehingga para pimpinan Masyumi, termasuk Hamka mulai berseberangan dengan Presiden Soekarno.

DIFITNAH MELAKUKAN MAKAR, HAMKA DITAHAN

Di era 1950-an walau Hamka terlibat langsung dalam kegiatan Partai Masyumi, tetapi jiwa sastranya tidak bisa dipadamkan. Bahkan produktivitasnya dalam menulis menghasilkan banyak buku.

Di antara buku-buku Hamka, yaitu Ayahku (1950), Mandi Cahaya di Tanah Suci (1950), Mengembara di Lembah Nil (1950), Ditepi Sungai Dajlah (1950), Kenang-Kenangan Hidup 1, 2, 3, 4, autobiografi sejak lahir 1908 sampai tahun 1950 (1950), Sejarah Umat Islam 1, 2, 3, 4 (1950), 1001 Soal Hidup (1950), Keadilan Sosial dalam Islam (1950) Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad (1952), Empat Bulan di Amerika 1,2 (1953), Lembaga Hikmat (1953), Pelajaran Agama Islam (1956).

Pada era 1950an ini juga, Hamka dipercaya memegang beberapa jabatan di berbagai intansi baik swasta maupun pemerintahan. Saat itu dipercaya sebagai pengajar di Universitas Islam Jakarta, Universitas Muhammadiyah Padangpanjang dan diangkat sebagai Rektor Profesor Dr. Mustopo Jakarta. Karena karya-karya dan jasa-jasanya terhadap Islam. Pada tahun 1958, Hamka mendapat gelar Doktor Honouris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Dalam pidatonya yang mengangkat tentang pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia.

Dekrit yang dikeluarkan Presiden Soekarno, 5 Juli 1959 untuk kembali kepada UUD 1945 merubah sistem pemerintahan dari Demokrasi Parlementer ke Demokrasi Terpimpin. Masa ini merupakan masa tersulit bagi perjuangan bangsa dan negara. Sulitnya karena pada waktu itu Soekarno tidak lagi berdampingan dengan Hatta sehingga memberi peluang kepada Soekarno untuk melaksanakan gagasan Demokrasi Terpimpin tanpa kritikan dari pihak mana pun.

Di pihak lain, PKI semakin leluasa mempengaruhi Soekarno. Apalagi sebelumnya ketika pada 21 Februari 1957, Soekarno berpidato, secara terus terang mengatakan bahwa dirinya menginginkan agar kaum komunis ikut serta di dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pada waktu itulah di Sumatera Barat muncul apa yang dinamakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang mengingatkan Soekarno tidak terlalu dekat dengan PKI dan meminta Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden RI (baca kembali tulisan bersambung tentang Ahmad Husein di Koran-Cyber.com—red).

Banyak para pimpinan Masyumi ditahan karena dikaitkan dengan PRRI ini. Akhirnya berdasarkan Keputusan Presiden No. 200 tahun 1960, maka pada tanggal 17 Agustus 1960, Pemerintah membubarkan Partai Politik Masyumi. Berakhirlah sudah era kejayaan Partai Masyumi yang memperoleh dukungan rakyat kedua terbesar setelah PNI dalam Pemilu 1955.

Pada tahun 1964, sudah beredar kabar bahwa para ulama dan pemuka umat Islam, terutama tokoh-tokoh Masyumi, akan segera ditangkap. Hamka sendiri merasa dirinya bukan tokoh politik, karena memang kurang tertarik pada politik. Dalam urusan politik, beliau memercayakan pandangannya pada sahabatnya, Natsir. Meskipun tidak punya jabatan tinggi di Masyumi, namun beliau dikenal luas sebagai juru kampanye dan orator andalan partai itu.

Ketika beredar kabar bahwa tokoh-tokoh eks Masyumi dan para ‘penentang pemerintah’ akan ditangkap, sikap Hamka relatif tenang, karena tidak merasa sebagai tokoh penting di Masyumi, dan juga tidak merasa sebagai penentang pemerintah.

Yang diisukan itu akhirnya terjadi juga. Pagi itu, Hamka baru saja pulang sehabis mengisi pengajian ibu-ibu. Sesampainya di rumah, beliau beristirahat sejenak, sementara Siti Raham, istrinya, tidur di kamar karena sedang tidak sehat. Sekonyong-konyong datanglah beberapa orang polisi berpakaian preman yang menunjukkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya. “Jadi saya ditangkap?” ujar Hamka yang masih diliputi keheranan, berkata pelan-pelan agar tidak mengejutkan istrinya. Rusydi, anak beliau, membereskan pakaian secukupnya untuk beliau bawa.

Suara gaduh akhirnya membangunkan sang istri yang juga tidak tahu mesti berkomentar apa menanggapi penangkapan itu. Hamka hanya merangkul bahunya, menghiburnya agar tetap tegar. Kepada istri dan anak-anaknya, Hamka berpesan bahwa insya Allah penangkapannya takkan lama, karena ia sendiri merasa tak pernah berbuat salah. Tidak ada informasi ke mana beliau dibawa, hanya ada pesan bahwa keluarganya boleh menghubungi Mabes Polri untuk informasi lebih lanjut. Maka dibawalah Hamka ke dalam sebuah mobil yang segera melesat, entah ke mana. Setelah mobil menghilang dari pandangan, pingsanlah Siti Raham.

Selama beberapa waktu lamanya, tidak ada kabar sama sekali tentang Hamka. Tidak ada yang tahu di mana beliau ditahan, apa tuduhannya, bahkan masih hidup atau tidaknya pun entah. Sampai akhirnya ada berita bahwa keluarga boleh mengunjunginya di Sukabumi, barulah istri dan ke sepuluh anaknya dapat bertemu. Di bawah pengawasan para penjaga yang berwajah sangar, Hamka sempat menyelundupkan pesan ke salah satu anak laki-lakinya, “Para penjaga ini sama dengan Gestapo Nazi!” Secarik surat juga sempat disisipkan untuk dibaca oleh keluarganya di rumah.

Terkejutlah keluarganya membaca pesan Buya, sebagaimana Buya juga terkejut ketika pertama kali interogatornya memberi tahu tuduhan-tuduhan yang ditimpakan kepada dirinya. Terlibat dalam rapat rahasia menggulingkan Presiden, menerima uang empat juta (tidak jelas mata uangnya) dari Perdana Menteri Malaysia, memberikan kuliah yang bersifat subversif, dan berbagai kejahatan lainnya.

Dalam penahanan, sudah tak ada lagi gelar ulama, bahkan para interogator tidak ada yang memanggilnya Buya, meskipun seluruh warga Indonesia sudah biasa dengan sebutan itu. Dari hari ke hari, beliau diinterogasi dengan kata-kata kasar dan penuh hinaan, hingga suatu hari pernah beliau tergoda untuk melakukan perlawanan, namun dibatalkannya setelah menyadari bahwa hal itu hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Tuduhan-tuduhan yang ditimpakan padanya murni dibuat-buat, karena pada tanggal terjadinya rapat gelap tersebut (jika memang rapat itu ada) beliau tengah menghadiri sebuah acara besar yang dihadiri banyak orang, dan beliau pun berbicara pada acara itu, disaksikan semua orang. Dalam kuliah yang diberikannya itu, sama sekali tak ada unsur subversif.

Bahkan dalam kuliah itu Hamka mengatakan bahwa cara-cara yang telah ditempuh Daud Beureueh telah gagal, karena itu jangan gunakan lagi cara yang sama. Tempuhlah cara-cara damai untuk menyebarkan ajaran Islam di negeri ini. Satu dari mahasiswa yang menghadiri kuliah tersebut ternyata menjadi mata-mata dan melaporkan ucapan Hamka dengan tidak utuh.

MAHKOTA BAGI SEORANG SASTRAWAN

Ketika tahun 1992 B.M. Diah mengatakan kepada saya, “Bung Dasman, bertemunya saya dengan Mikhail Gorbachev, pemimpin Uni Soviet di Moskwa merupakan puncak karier saya sebagai wartawan, Mahkota bagi Seorang Wartawan. Saya juga menyebut ketika Hamka ditahan, beliau menemukan puncak kariernya sebagai sastrawan, Mahkota bagi Seorang Sastrawan, sekaligus Mahkota bagi Seorang Ulama.

Mengapa demikian? Karena Hamka di dalam tahanan berhasil menulis sebuah buku yang menurut beliau tulisan terbaiknya yang diberi judul “Tafsir Al-Azhar”. Buku ini sampai sekarang menjadi acuan tidak hanya di Indonesia, juga di Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Brunei dan Thailand Selatan. Pengakuan itu diperkuat dengan pidato Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak yang mengatakan bahwa Hamka bukan hanya milik bangsa Indonesia saja tetapi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.

Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan dengan ayat 36 Surah az-Zumar, “Bukankah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya…”. Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah lah jadi pelindung sejati.

Sehubungan dengan maksud ayat di atas, Hamka menceritakan pengalaman beliau dalam tahanan di Sukabumi, akhir Maret 1964. Berikut kutipan lengkapnya: “Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya.”

“Dia masuk dengan muka garang sebagai kebiasaan selama ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakal kepada Tuhan dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun.”

“Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini, ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali.

Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalaman dengan saya sambil menangis, diciumnya tangan saya, lalu dia berkata, Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah! Mengapa, tanya saya. Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan bapak, bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati.

Demikian jawaban polisi muda yang ditugaskan menjaga saya itu dengan berlinang air mata. Bapak sangka tape recorder, jawabku sedikit tersirap, tetapi saya bertambah ingat kepada Tuhan. Moga-moga Allah memelihara diri Bapak. Ah! Bapak orang baik, kata anak itu.

Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di dalam tahanan, Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Termasuk ketika Inspektur M datang membawa bungkusan malam itu, Hamka tetap dengan pendirian. Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya!

Tentang orang yang memfitnah Hamka, akhirnya terungkaplah namanya, dan orang itu pun telah berada di tahanan polisi (dan disiksa juga). Tidak banyak informasi yang bisa didapatkan perihal sebab-musabab dihembuskannya fitnah itu. Yang jelas, sejak itu, sikap para penyidik menjadi lunak. Beberapa yang tadinya kejam dan sangar bahkan mulai memanggilnya Buya, membawakan makanan. Seorang diantaranya, yang pernah membawa bungkusan, meminta diajari doa-doa yang biasa dibaca Buya. Buya pun mengajarinya beberapa doa, sambil berpesan bahwa doa-doa tersebut hanyalah tambahan saja, sedangkan yang paling utama dan tak boleh ditinggalkan adalah shalat lima waktu.

Hamka pada awalnya diasingkan ke Sukabumi, kemudian ke Puncak, Megamendung, dan terakhir dirawat di Rumah Sakit Persahabatan Rawamangun, sebagai tawanan. Walau pernah dipenjarakan oleh Presiden Soekarno, Hamka tidak menaruh dendam terhadap sahabatnya itu. Dia tetap berbuat baik dan memaafkan. Dengan pembuktian, Hamka ikut datang melawat ke rumah duka Soekarno yang meninggal dunia pada tahun 1970 dan juga menjadi imam shalat.

Akibat Hamka mengimami jenazah Soekarno, teman-teman beliau banyak yang menyesalkan tindakan itu. Ada pula yang bertanya: “Apa Buya tidak dendam kepada orang yang telah membenamkan Buya dalam penjara?”

Dengan lemah lembut Hamka menjawab semua kritik itu. “Hanya Allah yang lebih tahu orang-orang yang munafiq. Dan saya harus berterima kasih, karena dalam penjara, saya dapat kesempatan menulis tafsir Al-Quran 30 juz. Satu hal lagi jangan dilupakan bahwa almarhum Soekarno memprakarsai pembangunan 2 buah masjid yang monumental, satu masjid Baiturrahim di Istana Merdeka. Satu lagi masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal. Semoga ini menjadi amal yang tak terhingga untuk Soekarno.

Selain Tafsir Al-azhar, pada era 1960-an Hamka juga menulis beberapa buku lagi yakni Pandangan Hidup (1960), Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri) (1963), dari Perbendaharaan Lama (1963), Sayid Jamaluddin Al-Afhany (1965), Hak Asasi Manusia di pandang dari Segi Islam (1968). Oleh karena itu sangat tepat bangsa ini dan dunia mengatakan Hamka adalah Sastrawan dan Ulama Besar. Sekitar 131 buku telah ditulisnya. Subhanallah.

HAMKA MEMAAFKAN MOHAMMAD YAMIN

Pada tahun 1966, bersamaan dengan hancurnya kekuasaan PKI dan pemerintahan Soekarno, Buya Hamka dibebaskan. Semua tuduhan pada dirinya dihapuskan. Setelah peristiwa itu, tak pernah terdengar Buya menuntut balas atas kezaliman yang telah dialaminya.

Dalam pendahuluannya untuk Tafsir Al-Azhar, Buya mengatakan bahwa kejadian itu sangat besar hikmahnya, karena tafsir yang hanya selesai sedikit setelah dikerjakan bertahun-tahun ternyata bisa tuntas dalam masa dua tahun di penjara. Di penjara itu pula Buya mendapat banyak waktu untuk melahap buku-buku yang ingin dibacanya, dan larut dalam ibadah shalat malam dan tilawah. Buya hidup seperti biasa, tanpa memendam dendam, bahkan sampai membuat anaknya, Rusydi, merasa gemas bukan kepalang ketika beliau menitikkan air mata ketika mendengar Soekarno telah wafat. Banyak orang memintanya agar tidak menshalatkan Soekarno, akan tetapi beliau pergi juga, bahkan menjadi imam shalat jenazahnya. Begitulah Buya Hamka.

Hamka yang bernama asli Prof. KH. Abdul Malik Karim Amrullah itu sebelumnya juga memaafkan Mohammad Yamin sebagaimana dikisahkan oleh putra kelima beliau, yakni KH. Irfan Hamka di dalam bukunya “Kisah-Kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka”.

Tahun 1955 sampai 1957, ayah adalah seorang anggota Konstituante dari Fraksi Partai Masyumi. Mr. Mohammad Yamin dari Fraksi PNI sudah tentu berseberangan dengan ayah. Tokoh PNI itu tidak saja marah, berlanjut menjadi benci. Walaupun kedua tokoh yang berseberangan sama-sama dari Sumatera Barat, Mohammad Yamin tidak dapat menahan kebenciannya kepada ayah. Baik bertemu dalam acara resmi, seminar kebudayaan dan sama-sama menghadiri sidang Konstituante, kebencian itu tetap tak dapat dihilangkannya.

Penulis masih ingat ketika rumah kami kedatangan tamu Buya KH. Isa Anshari. Ulama sekampung dengan kampung kami Maninjau, beliau sudah lama bermukim di Kota Bandung. Dalam acara makan siang, Buya KH. Isa Anshari bertanya kepada ayah, “Apa masih tetap Yamin bersitegang dengan Hamka?”

Ayah menjawab, “Rupanya bukan saja wajahnya yang diperlihatkan kebenciannya kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya.”

Bertahun-tahun setelah Dekrit ketika Soekarno kemudian membubarkan Konstituante, parlemen dan menetapkan UUD ’45 dan Pancasila sebagai dasar negara, terjadi peristiwa yang luar biasa. Tahun 1962, Mr. Mohammad. Yamin jatuh sakit parah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, RSPAD. Ayah mengetahuinya dari berita koran dan radio. Ayah menerima telepon dari Bapak Chairul Saleh, salah seorang menteri pada waktu itu. Menteri ini ingin datang bersilaturahim kepada ayah dan menyampaikan perihal sakit Mr. Mohammad Yamin.

Chaerul Saleh datang menemui ayah di rumah. Kepada ayah, menteri di era Soekarno ini menceritakan perihal sakitnya Mr. Mohammad Yamin.

“Buya, saya membawa pesan dari Bapak Yamin. Beliau sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja datang menemui Buya. Ada pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir.”

“Apa pesannya?” tanya ayah.

“Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya, sekarang Pak Yamin dalam sekarat.”

Ayah agak tercengang mendengar pesan Pak Yamin itu. Teringat kembali sikap bermusuhan dan membencinya.

“Apalagi pesan Pak Yamin?” Kembali ayah bertanya kepada menteri yang ditugaskan Pak Yamin itu.

“Begini Buya, yang sangat merisaukan Pak Yamin, beliau ingin bila wafat dapat dimakamkan di kampung halamannya yang telah lama tidak dikunjungi. Beliau sangat khawatir masyarakat Talawi tidak berkenan menerima jenazahnya. Ketika terjadi pergolakan di Sumatera Barat, Pak Yamin turut mengutuk aksi pemisahan wilayah dari NKRI. Beliau mengharapkan sekali Hamka bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.”

Hanya sebentar ayah termenung. Banyak pengalaman pahit yang dirasa oleh ayah selama beberapa tahun ini dengan tokoh yang mengaku wajahnya mirip dengan Patih Majapahit Gajah Mada itu. “Kalau begitu mari bawa saya ke RSPAD menemui beliau.”

Sore itu juga ayah dan Pak Chaerul Saleh tiba di rumah sakit. Dalam ruangan VIP, banyak pengunjung. Ada Pendeta, Biksu Budha dan pengunjung yang lain. Pak Yamin terbaring di tempat tidur dengan slang infus dan oksigen tampak terpasang. Melihat kedatangan ayah tampak wajahnya agak berseri. Dengan lemah Pak Yamin menggapai ayah untuk mendekat. Salah seorang pengunjung meletakkan sebuah kursi untuk ayah duduk di dekat tempat tidur. Ayah menjabat tangan Pak Yamin dan mencium kening tokoh yang bertahun-tahun membenci ayah.

Dengan suara yang hampir tidak terdengar dia berkata: “Terima kasih Buya sudi datang.” Dari kedua kelopak matanya tampak air mata menggenangi matanya.

“Dampingi saya,” bisiknya lagi. Tangan ayah masih terus digenggamnya.

Mula-mula ayah membisikkan surat Al Fatihah. Kemudian kalimat La ilaha illallah Muhammadan Rasalullah. Dengan lemah Pak Yamin mengikuti bacaan ayah. Kemudian ayah mengulang kembali membaca dua kali. Pada bacaan kedua ini tidak terdengar Pak Yamin mengikuti, hanya dia memberi isyarat dengan mengencangkan genggaman tangannya ke tangan ayah. Kembali ayah membisikkan kalimat “tiada Tuhan selain Allah” ke telinga Pak Yamin. Tidak ada respon. Ayah merasa genggaman Pak Yamin mengendur dan terasa dingin dan terlepas dari genggaman ayah.

Seorang dokter datang memeriksa. Dokter itu memberitahu Pak Yamin sudah tidak ada lagi. “Innalillahi wa inna lillaihi rajiun…”

Tokoh yang bertahun-tahun sangat membenci ayah, di akhir hayatnya meninggal dunia sambil bergenggaman tangan dengan ayah.

Dari rumah sakit ayah diajak Bapak Chairul Saleh ke Istana Negara. Waperdam III (Wakil Perdana Menteri III) ini ingin melapor atas wafatnya Pak Yamin kepada Presiden Soekarno. Pemerintah telah mempersiapkan acara pemakaman kenegaraan di TMP Kalibata, Jakarta.

Karena wasiat terakhir Pak Yamin ingin dimakamkan di kampung halaman Talawi, Sawahlunto. Presiden memerintahkan Gubernur Sumatera Barat Drs. Harun Zein untuk mempersiapkan upacara kenegaraan.

Sebelum meninggalkan istana, Presiden Soekarno menyalami ayah sambil berucap: “Terima kasih atas kebesaran jiwa Bung turut mendampingi Yamin menjelang wafatnya dan bersedia mengantarnya ke Talawi. Atas nama pribadi dan pemerintah saya ucapkan terima kasih.”

SOEKARNO, DARI SEORANG SAHABAT, DITAHAN HINGGA MEMAAFKAN

Hubungan akrab antara Hamka-Soekarno sudah dimulai sejak tahun 1941, sebelum merdeka dan sebelum Soekarno menjadi Presiden RI Pertama. Perkenalan dimulai setelah selesai menghadiri Muktamar Muhammadiyah ke-30 di Yogyakarta, Januari 1941.

Menurut Irfan Hamka, putera beliau, adalah H. Abdul Karim (Oei Tjing Hin) Konsul Muhammadiyah Bengkulu seorang Tokoh Cina Muslim, yang mengajak Hamka untuk menemui Soekarno di tempat pengasingannya di Bengkulu. Dalam pertemuan selama 2 jam itu hubungan keduanya jadi akrab.

Tahun 1946 setelah kemerdekaan, Soekarno telah diangkat menjadi Presiden RI pertama, Presiden mengajak Hamka untuk pindah dari Medan ke Jakarta. Namun karena terjadi Agresi Pertama tahun 1947, permintaan Presiden tertunda. Pada tahun 1948 Presiden Soekarno berkunjung ke Sumatera Barat. Kembali Hamka bertemu Soekarno di Bukittinggi. Pada kesempatan itu Hamka menghadiahkan sebuah puisi kepada Presiden Pertama itu dengan judul “Sansai juga aku kesudahannya.”

Setelah penyerahan Kedaulatan 1949, di awal 1950 Hamka mengajak keluarganya pindah ke Jakarta. Pada peringatan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW tahun 1950, Hamka diminta Presiden Soekarno memberikan wejangan tentang rahasia Isra’ Miraj di Istana. Hubungan baik terus berlanjut. Begitu pula sewaktu pelaksanaan shalat Idul Fitri tahun 1951 diadakan di Lapangan Banteng yang diselenggarakan oleh PHBI (Panitia Hari Besar Islam) Jakarta.

Tahun 1955 Hamka terpilih menjadi anggota Konstituante. Sejak itu hubungan akrab dengan Soekarno mulai renggang, karena perbedaan ideologi yang harus diperjuangkan. Hamka dengan segenap fraksi Partai Islam memperjuangkan negara berdasarkan Islam. Sedangkan Presiden Soekarno ingin mempertahankan negara berdasarkan Pancasila. Hubungan dua orang seperti bersaudara itu terputus.

Baru tahun 1962 bertemu kembali ketika Hamka turut menyelenggarakan jenazah Mr. Mohammad Yamin. Dua tahun kemudian Hamka ditangkap atas perintah Presiden Soekarno. Dua tahun 4 bulan lamanya Hamka ditahan atas perintah Presiden Soekarno, waktu itu dari tahun 1964-1966, dengan tuduhan melanggar undang-undang Anti Subversif Pempres No. 11, yaitu tuduhan merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno.

“Betapa beratnya penderitaan kami sepeninggal ayah yang ditahan,” ujar Irfan. “Buku-buku karangan ayah dilarang. Ayah tidak bisa lagi memenuhi undangan untuk berdakwah. Pemasukan uang terhenti. Untuk menyambung hidup ummi mulai menjual barang dan perhiasan. Ayah baru bebas setelah Pemerintahan Soekarno jatuh, digantikan oleh Soeharto. Ayah kembali melakukan kegiatan seperti sebelum ditahan Soekarno.”

Tanggal 16 Juni 1970, Hamka dihubungi oleh Bapak Kafrawi, Sekjen Dep. Agama. Pagi-pagi Sekjen ini datang ke rumah, Pak Kafrawi membawa pesan dari keluarga mantan Presiden Soekarno untuk ayah. Pesan itu pesan terakhir dari Soekarno, begini pesannya; “Bila aku mati kelak. minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

“Jadi beliau sudah wafat?” Hamka bertanya kepada Pak Kafrawi.

“Iya Buya. Bapak telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah dibawa ke Wisma Yaso.” (Ini versi pertama).

Ada satu versi lagi menyatakan bahwa dalam keadaan kritis mantan Presiden RI ini menyampaikan pesannya kepada keluarga beliau, bahwa bila datang ajalnya, beliau ingin yang menjadi imam sembahyang jenazahnya dilakukan oleh Hamka. Pesan itu disampaikan oleh keluarganya kepada Presiden Soeharto yang telah menggantikan beliau sebagai Presiden RI ke-2.

Presiden Soeharto mengutus salah seorang Aspri (Asisten Pribadi)nya Mayjen Suryo menemui Buya Hamka di rumah JI. Rd. Fatah, didampingi seorang Sekjen Dep. Agama RI. Kepada Hamka utusan Presiden Soeharto itu menyampaikan permintaan terakhir Soekarno. Tanpa ragu pesan yang dibawa utusan Presiden Soeharto dilaksanakan oleh Hamka.

Hamka tiba di Wisma Yaso bersama penjemputnya. Di wisma itu telah banyak pelayat berdatangan, penjagaan pun sangat ketat. Shalat jenazah baru akan dimulai menunggu kehadiran Hamka dan dengan mantap menjadi imam jenazah Soekarno. Pesan terakhir mantan Presiden Pertama itu dengan ikhlas dijalankan oleh Hamka.

Inilah kebesaran jiwa dan sifat pemaaf Buya Hamka kepada lawan-lawan politiknya secara ideologis: antara Islam, Nasionalis dan Komunis yang diwakili para tokohnya yakni pencetus penggali Pancasila Mr. Mohammad Yamin dan Soekarno serta tokoh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) Pramudya Ananta Toer; padahal tak jarang demi mempertahankan dan membela keyakinannya itu Buya Hamka harus masuk penjara, difitnah, disingkirkan, dimiskinkan namun kesabaran beliau dalam menghadapi ujian itu berbuah menjadi hikmah yang luar biasa.

Tahun1978, Hamka berbeda pandangan dengan pemerintah tentang keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef yang meniadakan libur sekolah selama puasa Ramadhan. Tahun 1975 Hamka diberi kepercayaan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tahun 1980 terjadi perbedaan sikap dengan Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara karena Hamka tidak mau mencabut fatwa yang melarang perayaan Natal bersama. Sikap keras Hamka ditanggapi Alamsyah dengan rencana pengunduran dirinya. Mendengar niat itu, Hamka meminta Alamsyah mengurungkan niatnya dan Hamka sendiri yang justru mundur sebagai Ketua MUI.

Sikap MUI yang independen ini tidak terlepas dari sikap Hamka yang sebelumnya memindahkan Kantor Pusat MUI dari Masjid Istiqlal ke Masjid Al-Azhar. Hamka tetap berpendirian teguh tidak akan mencabut fatwa Natal tersebut. Ia mundur dari MUI pada 21 Mei 1981. Tak lama kemudian, beliau meninggal dunia, tepatnya pada tanggal 24 Juli 1981, di hari baik, Jumat dan bulan baik, bulan Ramadhan. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa beliau dan semoga generasi penerus mampu mencontoh sikap tegas Buya Hamka dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara ini disesuaikan dengan syariah agama.

Sebagai orang yang memiliki ilmu dan kebesaran pribadi, Hamka digelari “Tuanku Syaikh”.

Sebagai pejuang, Hamka memperoleh gelar kehormatan “Pangeran Wiroguno” dari Pemerintah RI. Sebagai intelektual Islam, Hamka memperoleh penghargaan gelar “Ustadzyyah Fakhriyyah” (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar, Mesir, pada Maret 1959.

Pada 1974 gelar serupa diperolehnya dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Hamka tak pernah hilang dari sejarah umat Islam dunia. Pemikirannya menjadi referensi yang tidak pernah berhenti dalam berbagai masalah kemasyarakatan.

RIDWAN SAIDI: “HAMKA ORANG JUJUR”

Dalam tulisan terakhir ini saya ingin melengkapi sosok Hamka dengan mengutip komentar Ridwan Saidi, tokoh Betawi yang sudah malang melintang dalam perpolitikan di Indonesia. Perbincangan berlangsung, April 2010 di rumah kediamannya di Bintaro, Jakarta Selatan. Dia menegaskan, “Hamka dan tokoh Masyumi lainnya orang jujur.”

Ridwan Saidi adalah putra almarhum Abdul Rahim bin Saidi, salah seorang aktifis Partai Masyumi ranting Sawah Besar. Kejayaan Partai Masyumi dalam Pemilihan Umum 1955 yang menjadikan partai di mana Hamka, Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Kasman Singodimodjo, Burhanuddin Harahap, duduk di dalamnya menjadikan partai nomor dua terbesar setelah PNI dalam dukungan suara, membuat Ridwan Saidi ingin mengulang sejarah kejayaan partai tersebut pada 24 November 1995 dengan mendirikan Partai Masyumi Baru (Masyarakat Umat Muslimin Indonesia Baru) meskipun akhirnya tidak sebagaimana Partai Masyumi yang sudah dibekukan Pemerintahan Soekarno tahun 1960 itu.

“Saya ingin merehabilitasi secara sosiologis, psikologis dan politis Partai Masyumi era 1950-an. Di masa Soekarno dan Soeharto, Masyumi tetap sebagai organisasi terlarang dan itu dicantumkan dalam PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa). Itu beban psikologis yang sangat besar bagi anak cucu warga Masyumi,” ujar Ridwan Saidi.

“Partai Masyumi hingga kini masih tetap lagendaris. Tokoh-tokohnya seperti Hamka dan lain-lain mengutamakan intelektual muslim, memiliki integritas, jujur dan berpegang tegung pada prinsip. Ini konsep lama dalam berpolitik yang sekarang dianggap sudah ketinggalan zaman,” tegas Ridwan Saidi menggarisbawahi.

Dahulu itu, tambah Ridwan Saidi menjelaskan, tokoh-tokoh Masyumi orangnya sederhana, tetapi rapi. Enak dipandang, tetapi terpelajar.Jika berbicara, retorikanya bagus. Vokal itu mencerminkan jiwa. Terkesan intelek dari suaranya. Itu pula sebabnya banyak partai Islam merindukan kembali sistem nilai itu. Dia ingin menegaskan,intelektual itu sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara saat ini.

Ridwan Saidi juga mencatat, kalau konsep baru sekarang dalam berpolitik, tidak perlu terlalu pintar, karena bukan syarat utama. Hal ini dikarenakan sistem nilainya sudah berubah. Bahkan penyanyi yang jelas-jelas tidak Islami bisa dicalonkan sebagai Bupati. Lebih dari itu, tokoh-tokoh Islam sekarang ini sudah meninggalkan sistem nilai.

“Sekarang banyak di antara mereka mondar mandir ke pengadilan hanya untuk mempertanggung jawabkan hasil korupsinya.Kalau dulu ketika tokoh Masyumi, Sjafruddin Prawiranegara menjadi Menteri Muda Keuangan dan kemudian Menteri Keungan (1946-1947), pernah seorang kader Masyumi minta kredit, langsung ditolak,” kembali Ridwan Saidi menegaskan.

Integritas dan kejujuran memang sudah hilang dari beberapa tokoh Islam Indonesia. Satunya kata dan perbuatan, sudah tidak terdengar lagi. Inilah salah satu faktor mengapa Partai Islam sekarang ini menurun dalam dukungan suara. Partai Islam dinilai kekurangan tokoh atau figur yang kuat sebagaimana di masa-masa lalu. Partai Islam boleh saja melihat kejayaan masa lalu, seperti kemenangan Masyumi dan NU.Tetapi pertanyaan yang menggelitik, apa yang bisa mereka lakukan demi mensejahterakan rakyat?

Partai Islam mengalami goncangan berat akhir-akhir ini. Lebih-lebih setelah partai-partai nasionalis sudah banyak melakukan hal yang menarik agamis. Hal ini membuat masyarakat merasa tidak ada perbedaan antara Partai Nasionalis dan Partai Islam. Apalagi di masa Pemerintahan Soeharto yang berlangsung selama 32 tahun, Partai Islam betul-betul tidak bersuara.

Di masa Pemerintahan Soeharto, sistematika kepartaian terlihat jelas di mana seorang Presiden adalah Panglima Tertinggi ABRI (sekarang TNI), Kepala Eksekutif dan yang sangat kontroversial, adalah Ketua Dewan Pembina Golkar, yang anehnya saat itu tidak mau disebut partai, tetapi tetap golongan.Sedangkan Partai Islam di mana sudah tergabung dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berada di struktur paling bawah. Partai Nasionalis pun mengalami hal sama, dikelompokan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Bahkan sering terjadi, apabila kedua partai ini mengadakan sebuah acara, Presiden Soeharto jarang hadir dan hanya mengutus wakilnya, tetapi apabila Golkar, beliau menyempatkan diri untuk hadir.

Melihat perbedaan antara Partai Islam dan partai lain dalam Pemilihan Umum, saya ingin mengutip Harian Kompas, edisi Senin, 3 Februari 2003, hal.8 :

1. Pemilu 1955, diikuti 172 partai, organisasi dan perorangan peserta pemilu. Di sini terlihat Partai Islam mengalami kejayaan. Pemenang Pemilu, PNI (22 persen suara), Masyumi (21 persen), NU (18 persen), PKI (16 persen) dan partai-partai lain di bawah lima persen. Partai di Parlemen, 28 partai berhasil memperoleh kursi.

2. Pemilu 1971, diikuti 10 partai. Meskipun Golkar unggul, tetapi NU yang mewakili suara Islam masih dominan, tetapi tetap jauh di bawah Golkar. Golkar, 63 persen suara, NU, 19 persen, PNI, 7 persen. Partai di Parlemen, 8 partai berhasil memperoleh kursi.

Selanjutnya Pemilu 1977 – 1997, Golkar terus keluar sebagai pemenang dan mencapai puncaknya pada Pemilu 1997 hingga memperoleh dukungan suara 75 persen.

Dalam Pemilu, Juni 1999, setelah lengsernya Soeharto sebagai Presiden, 21 Mei 1998, PDI Perjuangan, 33,7 persen suara, Golkar, 22,4 persen, PKB, 12,6 persen, PPP 10,7 persen, PAN, 7,1 persen. Terlihat Partai Islam sedikit lebih baik, karena partai-partai Islam di masa ini banyak tumbuh dikarenakan Habibie sebagai Presiden RI memberi peluang membuka penerimaan partai-partai, sehingga ada sekitar 141 partai dalam Lembaran Negara di Departemen Kehakiman, tetapi partai-partai yang dianggap memenuhi syarat untuk mengikuti Pemilu hanya 48 partai. Hanya sekarang ini berdirinya Partai Islam yang patut dipertanyakan, apakah cita-citanya sama dengan tumbuh dan berkembangnya partai-partai Islam di era kemerdekaan yang betul-betul menghayati Islam sesuai kata dan perbuatan?

Link artikel asli di Koran-Cyber.com : Mengenang Sastrawan Besar Hamka oleh Dasman Djamaluddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>