Peran Penting Islam di Tanah Melayu

Majalah Suara Hidayatullah ” Blog Archive ” Peran Penting Islam di Tanah MelayuProf al Attas, lebih jauh menyorot tentang adanya upaya-upaya ahli sejarah yang selalu mengkait-kaitkan perkembangan Islam di tanah Melayu dengan budaya India (Hindu). Memang diakui al-Attas bahwa budaya India memengaruhi budaya Jawa, di antaranya bukti adanya tulisan Jawa Kuno yang ‘modelnya’ mirip dengan tulisan India. Karena itu, menurutnya, merupakan keputusan yang mendalam ketika para ulama mengembangkan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar-pemersatu tanah Melayu (juga pemersatu di Indonesia). SUARA HIDAYATULLAH MEI 2010 *Penulis buku “Imperialisme Baru”. Kini, sedang melanjutkan program S3 di Malaysia

Embedly Powered

Membantah Klaim Syiah atas Buya Hamka

Membantah Klaim Syiah Atas Buya HamkaSALAH satu klaim dari kelompok Syiah adalah tudingan bahwa Buya Hamka adalah Ulama yang mendukung Syiah. Dengan menyeret nama Buya Hamka, kelompok Syiah ingin mengatakan eksistensi ajarannya juga didukung oleh para ulama besar di Indonesia. Sumber-sumber di internet pun kemudian bertebaran dengan menyertakan ucapan Buya Hamka dalam mendukung Syiah. Sayangnya sumber-sumber di internet tersebut tidak pernah disertai dengan bukti-bukti yang memadai untuk dapat dicrosscheck kebenarannya. Posisi Buya Hamka sendiri terkait Syiah dapat kita rujuk dari tulisan-tulisannya. Dalam majalah Panji Masyarakat No. 169/Tahun ke XVII, 15 Februari 1975 (4 Shafar 1395 H) hal 37-38, Buya Hamka sudah menjelaskan lebih jauh kritiknya terhadap ajaran Syiah yang menyelisihi ahlussunah.

Embedly Powered

Hamka, Sang Pelepas Dahaga

Oleh S Sinansari Ecip

Hamka bercerita tentang suatu kali mengimami salat Subuh. Dia yang sangat Muhammadiyah kental, dengan lapang dada membaca doa Qunut, yang biasanya seperti ”diwajibkan” di kalangan Nahdlatul Ulama. Mengapa tiba-tiba Hamka menjadi orang NU? Ada apa gerangan? “Salah seorang yang makmum shalat Subuh itu ialah Kyai Idham Khalid,” ujarnya.

Dia menyebut tokoh NU dengan rasa hormat yang tinggi.  Artinya, ketika salat tersebut, tidak semaunya sendiri, meski Hamka imamnya. Dia menghormati ”anggota” yang berada di antara jama’ah.  Luar biasa.

Continue reading

Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama

Oleh: Dr. Adian Husaini

BELUM lama, pada 20 Maret 2012, salah satu peneliti INSISTS, Akmal Syafril, ST., M.Pd.I., menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme. Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama.

Menurut penulisnya, pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafi’i Ma’arif yang dimuat di Rubrik Resonansi, surat kabar Republika, edisi 21 November 2006, yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”.

Continue reading

Jiwa Besar Buya Hamka Terhadap Lawan Politiknya

Jiwa Besar Buya Hamka Terhadap Lawan PolitiknyaJiwa Besar Buya Hamka Terhadap Lawan Politiknya Pesan Terakhir Mr. Moh. Yamin dan Soekarno Menjelang Ajal serta Pesan Penting Pramudya Ananta Tur فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30). Rangkaian tulisan berikut adalah penggalan dari perjalanan hidup Prof. KH. Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka yang dikisahkan oleh putra kelima beliau, yakni KH.

Embedly Powered

click here to read more

Buya Hamka, Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme

Memang, setelah keluarnya tulisan Syafii Maarif tersebut, terjadi perdebatan yang cukup seru di Rubrik Opini Harian Republika. Saya pun segera menulis artikel yang menjawab artikel Syafii Maarif tersebut. Intinya, saya menegaskan, bahwa Buya Hamka sama sekali bukan seorang Pluralis Agama. Perlu dicatat, bahwa Pluralisme Agama, dalam CAP ini adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama merupakan jalan yang sah menuju inti realitas keagamaan. Dalam Pluralisme agama, tidak ada satu agama yang merasa superior dibanding yang lain. Tapi, setiap agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran dan Tuhan (In pluralism, no one religion is superior to any other; each and every religion is equally valid way to truth and God). (Alister E. Mcgrath, Christian Theology: an Introduction, (Oxford: Blackwell Publisher, 1994).  Menurut Akmal, dalam makalahnya, ia mengaku menemukan beberapa kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh Syafii Maarif dalam pengutipan Tafsir Al Azhar tersebut, terlepas dari ada-tidaknya unsur kesengajaan.

click here to read more

Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme

(Diambil dari Buku Hamka – Dari Hati ke Hati, sebuah kumpulan tulisan Buya Hamka di rubrik Hati ke Hati di Majalah Panji Masyarakat antara tahun 1967 – 1981)

Tahun 1968 yang baru kita lalui adalah tahun yang luar biasa. Di tahun 1968 kita berhari raya Idul Fitri sampai dua kali, yaitu 1 Januari dan 21 Desember 1968.

Maka timbullah inspirasi pada beberapa orang Kepala Jawatan dan juga pada beberapa orang Menteri Kabinet Pembangunan, dan keluarlah Perintah supaya peringatan halal bi halal Idul Fitri dan hari Natal digabungkan jadi satu.  Diadakan pertemuan serentak disatu tempat, biasanya di jawatan-jawatan, dan departemen-departemen; “Lebaran- Natal“. Maka tersebutlah perkataan bahwasanya bapak Kepala Jawatan atau bapak Menteri atau bapak Jenderal memulai sambutan beliau, bahwa demi Kesaktian Pancasila yang wajib kita amalkan dan amankan, dalam “Lebaran-Natal” ini kita menanamkan dalam hati kita, sedalam-dalamnya, apa arti toleransi.  Dan diaturlah acara mula-mula membaca Al Qur’an, oleh seorang pegawai yang pandai ‘mengaji’ kemudian itu oleh seorang pendeta atau pastor yang sengaja diundang, dengan membacakan ayat-ayat Injil, terutama yang berkenaan dengan kelahiran ‘Tuhan’ Yesus, Yesus Kristus Juru Selamat Dunia, Anak Allah yang Tunggal, tetapi Dia sendiri adalah Allah Bapa juga, menjelma ke dalam tubuh Santa Maria yang suci, untuk kemudian lahir sebagai manusia.

Continue reading

Mari Kita Segarkan Kembali Ingatan

Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan.  Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar.  Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957.  Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.

Continue reading

Ketika Buya Hamka Marah Besar di Padang

Ketika Buya Hamka Marah Besar di PadangREP | 13 July 2011 | 20:44Dibaca: 1350 Komentar: 52 2 dari 3 Kompasianer menilai inspiratif Membaca postingan Kompasianer Ryanda Adiguna Buya Hamka pemberontak di Indonesia pahlawan bagi Malaysia Saya teringat sebuah kejadian yang cukup memalukan di tengah ceramah Buya Hamka di Masjid Raya Muhammadiyah yang terletak di tengah kota Padang. Kejadiannya berlangsung sekitar tahun 1975. Saat itu beberapa bulan menjelang Muktamar Muhammadiyah yang ke 39 yang akan berlangsung di kota Padang. Saya waktu itu boleh dikatakan setengah pengangguran, karena kadang bekerja sebagai kenek angkot yang di Padang waktu itu bernama City Express, dan kalau hari Jumat menjadi penjaga penitipan sendal/sepatu atau tukang parkir di pekarangan Masjid Raya Muhammadiyah itu.

Embedly Powered

 

click here to read more