Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme

(Diambil dari Buku Hamka – Dari Hati ke Hati, sebuah kumpulan tulisan Buya Hamka di rubrik Hati ke Hati di Majalah Panji Masyarakat antara tahun 1967 – 1981)

Tahun 1968 yang baru kita lalui adalah tahun yang luar biasa. Di tahun 1968 kita berhari raya Idul Fitri sampai dua kali, yaitu 1 Januari dan 21 Desember 1968.

Maka timbullah inspirasi pada beberapa orang Kepala Jawatan dan juga pada beberapa orang Menteri Kabinet Pembangunan, dan keluarlah Perintah supaya peringatan halal bi halal Idul Fitri dan hari Natal digabungkan jadi satu.  Diadakan pertemuan serentak disatu tempat, biasanya di jawatan-jawatan, dan departemen-departemen; “Lebaran- Natal“. Maka tersebutlah perkataan bahwasanya bapak Kepala Jawatan atau bapak Menteri atau bapak Jenderal memulai sambutan beliau, bahwa demi Kesaktian Pancasila yang wajib kita amalkan dan amankan, dalam “Lebaran-Natal” ini kita menanamkan dalam hati kita, sedalam-dalamnya, apa arti toleransi.  Dan diaturlah acara mula-mula membaca Al Qur’an, oleh seorang pegawai yang pandai ‘mengaji’ kemudian itu oleh seorang pendeta atau pastor yang sengaja diundang, dengan membacakan ayat-ayat Injil, terutama yang berkenaan dengan kelahiran ‘Tuhan’ Yesus, Yesus Kristus Juru Selamat Dunia, Anak Allah yang Tunggal, tetapi Dia sendiri adalah Allah Bapa juga, menjelma ke dalam tubuh Santa Maria yang suci, untuk kemudian lahir sebagai manusia.

Continue reading

Mari Kita Segarkan Kembali Ingatan

Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan.  Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar.  Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957.  Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.

Continue reading