Hamka, Sang Pelepas Dahaga

Oleh S Sinansari Ecip

Hamka bercerita tentang suatu kali mengimami salat Subuh. Dia yang sangat Muhammadiyah kental, dengan lapang dada membaca doa Qunut, yang biasanya seperti ”diwajibkan” di kalangan Nahdlatul Ulama. Mengapa tiba-tiba Hamka menjadi orang NU? Ada apa gerangan? “Salah seorang yang makmum shalat Subuh itu ialah Kyai Idham Khalid,” ujarnya.

Dia menyebut tokoh NU dengan rasa hormat yang tinggi.  Artinya, ketika salat tersebut, tidak semaunya sendiri, meski Hamka imamnya. Dia menghormati ”anggota” yang berada di antara jama’ah.  Luar biasa.

Pada waktu Menteri Agama dijabat oleh KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur), pada 1950, Hamka diangkat menjadi pegawai negeri di departemen agama. Ketika itu, usianya sudah 42 tahun. Tugasnya khusus untuk mengajar di berbagai perguruan tinggi Islam.

Dengan dua contoh tersebut, sengaja ingin ditunjukkan dari banyak contoh, betapa di tingkat pimpinan, orang NU dan orang Muhammadiyah saling menghargai dan menghormati dengan nyata.

Sayang, Hamka meninggal 24 Juli 1981, hari Jumat, bertepatan dengan hari ke-22 bulan Ramadhan. Waktu meninggalnya dipilihkan oleh Allah swt, pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Karya-karyanya dinikmati masyarakat secara luas. Buku yang ditulis Hamka mencapai 118 buah. Romannya monumental, misalnya Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Melawat ke Deli. Di bidang keagamaan, tentu saja Tafsir Al Azhar-nya (30 juz) sangat istimewa. Tafsir tersebut sebagian besar dikerjakan sewaktu Hamka dimasukkan tahanan oleh Orde Lama karena difitnah. Pemfitnahnya mengakui sendiri kepada Hamka karena terpaksa dan Hamka memaafkannya. Selain itu, juga ada buku langka, Sejarah Umat Islam Indonesia, yang sayang, kini tidak ada yang meneruskannya.

Seperti kebanyakan para remaja Minang pada masa lalu, Hamka suka merantau. Baru berusia 18 tahun dia naik haji tanpa izin orang tua nya. Sepulang dari haji, sambil bekerja setengah tahun di sana, Hamka tidak balik ke rumah, melainkan ke Medan menjadi guru di perkebunan. Dia baru pulang setelah dipanggil ayahnya, untuk dinikahkan.

Hamka berguru tentang Muhammadiyah kepada AR Sutan Mansur, kakak iparnya di Pekalongan. Sejak itu, dia terus aktif di Muhammadiyah, sampai menjabat di pimpinan pusat. Dia mengundurkan diri dari PP Muhammadiyah pada tahun 1972, ketika muktamar di Makassar. Setelah itu, dia aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hamka pada tahun 1931 ditugasi oleh PP Muhammadiyah untuk ke Makassar. Tugasnya adalah menjadi mubaligh. Dia mukim selama tiga tahun. Rupanya dia merekam kenangan hidup di Makassar itu untuk suatu kali muncul dalam romannya yang terkenal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939).

Khusus tentang novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, menjelang G-30-S meletus, terjadi polemik hebat. Kalangan kiri, di antaranya Pramudya Ananta Toer, melalui ruang budaya/sastra Lentera di harian Bintang Timur, Hamka diserang.  Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, menurut mereka, adalah karya plagiat (curian) dari roman Alphonse Karr, sastrawan Prancis, yang sudah disadur ke dalam bahasa Arab oleh Al Manfaluthi. Namun, kehadiran roman tersebut di tengah masyarakat pencintanya tetap tak tergoyahkan.

Di dalam bidang politik, Hamka antara lain menjadi anggota Konstituante, hasil Pemilu 1955.  Dia calon dari Masyumi untuk mewakili daerah Jawa Tengah.  Ketika presiden Soekarno akan menerapkan ide Demokrasi Terpimpin, Hamka menolaknya dalam sidang Konstituante. Perlawanan yang lebih luas terjadi hingga penyusunan konstitusi baru mendapati jalan buntu.  Akhirnya Soekarno membubarkan Konstituante.

Hamka lalu mendirikan majalah Panji Masyarakat pada bulan Juli 1959.  Dia menapaki kembali dunia jurnalistik, seperti masa mudanya di Pedoman Masyarakat.  Di situ dia sebagai pemimpinnya.  Pada 17 Agustus 1960, Panji Masyarakat dibreidel alias dilarang terbit karena memuat karangan Bung Hatta yang terkenal, Demokrasi Kita. Isinya, kritik yang tajam atas Demokrasi Terpimpin.  Panji terbit lagi, setelah Orla jatuh, tahun 1967.

Perlawanan terhadap ketakbenaran dilanjutkan Hamka.  Pada waktu aliran kepercayaan akan ”diresmikan” oleh Presiden Soeharto, dia tidak setuju.  Perlawanan dilakukan di MPR dan Hamka kalah. Aliran kepercayaan dikuatkan dalam bentuk ketetapan MPR.

Pada hari-hari berikutnya oleh petinggi pemerintah digencarkan adanya acara Natal Bersama, sampai ke daerah-daerah.  Sebagai pimpinan MUI, Hamka tidak menyetujuinya. Keluarlah fatwa MUI, yang melarang ummat Islam untuk ikut Natal Bersama. Menteri Agama Alamsyah marah.  Hamka menjawabnya dengan berhenti jadi ketua umum MUI. Tiga bulan kemudian, Hamka meninggal dunia.

Watak pemberontak Hamka tampaknya diperoleh dari Dr Abdul Karim Amrullah, ayahnya. Karena melawan Belanda, ayah Hamka dibuang ke Sukabumi dan kemudian meninggal di Jakarta.  Secara khusus, ayahnya memberi julukan Hamka sebagai Si Bujang Jauh, karena kegemarannya merantau.

Pada bulan-bulan menjelang meninggalnya, Hamka sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Dia muncul di layar TVRI sekitar Maghrib, ertutur sangat baik, tentu saja tanpa teks. Suaranya tenang, wajahnya teduh.  Dia tidak menghujat, tidak mengancam, dan tidak menakut-nakuti.  Dengan menatap dan mendengarnya, orang merasa sejuk dalam kerindangannya.  Hamka mengayomi.  Penulis yang pernah mewarisi memimpin majalah Panji Masyarakat versi baru, seperti halnya jutaan orang yang lain, merindukan kehadirannya.

Tokoh Islam yang cendekia ini, tidak hanya diakui di Indonesia.  Di Malaysia, dia sangat dikenal.  Tidak heran bila Universitas Kebangsaan, memberikan penghargaan gelar doktor (honoris causa).  Universitas Al Azhar, Mesir, juga memberikan gelar doktor HC. Secara resmi, di Indonesia belum ada yang memberi penghargaan.  Namun, penghargaan yang tak terucapkan, seperti pasir di pantai, tak terhitung banyaknya.

Pada situasi yang gersang sekarang, orang seperti Hamka diperlukan.  Perjalanan kering di padang pasir memerlukan tempat singgah untuk melepas dahaga sambil mengembalikan tenaga baru.  Benar, kehadiran Hamka diperlukan lagi. Dia tidak berkata-kata, tapi juga memberi contoh bersikap yang tegas dan berperilakku yang benar. Siapakah lagi ulama yang seperti dia kini? Mungkin ada, tapi kalibernya tidak sebesar Hamka.

3 thoughts on “Hamka, Sang Pelepas Dahaga

  1. Kamu tau Buya Hamka?…Siapa itu Buya Hamka?…kira-kira begitulah jawaban anak muda Minangkabau pada masa kini kalau ditanya tentang Buya Hamka.Miris rasanya mendengarnya….mudah-mudahan artikel ini bisa mengenalkan Buya Hamka kepada pemuda/pemudi masa kini pada umum, terkhusus kepada pemud Minang itu sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *