Al Fatihah – Muqaddimah

AL FATIHAH : artinya ialah pembukaan.  Surat inipun dinamai Fatihatul Kitab, yang berarti pembukaan kitab, karena kitab Al Qur’an dimulai atau dibuka dengan surat ini. Dia yang mulai ditulis di dalam Mushaf, dan dia yang mulai dibaca ketika tilawatil Qur’an, meskipun bukan dia Surat yang mula-mula diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.  Nama Surat al Fatihah ini memang telah masyhur sejak permulaan nubuwwat.

Adapun tempat dia diturunkan, pendapat yang lebih kuat ialah yang menyatakan bahwa Surat ini diturunkan di Makkah. Al-Wahidi menulis di dalam kitabnya Asbabun-Nuzul dan as-Tsa’labi di dalam tafsirnya riwayat dari Ali bin Abu Thalib, dia berkata bahwa Kitab ini diturunkan di Makkah, dari dalam suatu perbendaharaan di bawah ‘Arsy.

Menurut suatu riwayat lagi dari Abu Syaibah di dalam al-Mushan-naf dan Abu Nu’aim dan Baihaqi di dalam DAla-ilun-Nubuwwah, dan as-Tsa’alabi dan al-Wahidi dari Hadis Amer bin Syurahbil, bahwa setelah Rasulullah s.a.w mengeluhkan pengalamannya di dalam gua itu setelah menerima wahyu pertama, kepada Khadijah, lalu beliau dibawa oleh Khadijah kepada Waraqah, maka beliau ceriterakan kepadanya, bawah apabila dia telah memencil seorang diri didengarnya suara dari belakangnya: “Ya Muhammad, ya Muhammad, ya Muhammad!” Mendengar suara itu akupun lari”.

Maka berkatalah Waraqah: “Jangan engkau berbuat begitu, tetapi jika engkau dengar suara itu, tetap tenanglah engkau, sehingga dpt engkau dengar apa lanjutan perkataannya itu”. Selanjutnya Rasulullah s.a.w berkata, “Maka datang lagi dia dan terdengar lagi suara itu: “Ya Muhammad! Katakanlah: Bismillahir-Rahmanir- Rahim, Alhamdulillahi Rabbil Alamin, hingga sampai kepada Waladh-Dhaalin”. Demikian Hadits itu.

Abu Nu’aim di dalam ad-Dalaail meriwayatkan pula tentang seorang laki-laki dari Bani Salamah, dia berkata: “Tatkala pemuda-pemuda Bani Salamah masuk Islam, dan Islam pula anak dari Amer Jumawwah, berkatalah isteri Amer itu kepadanya: “Sukakah engkau mendengarkan dari ayat engkau sesuatu yang telah diriwayatkan daripadanya?” Anak itu lalu bertanya kpd ayahnya apakah agaknya riwayat tersebut. Lalu dibacanya: “Alhamdulillahi Rabbil Alamin (sampai akhir)”.

Ibnu al-Anbari pun meriwayatkan bahwa dia menerima riwayat dari Ubadah bin as-Shamit bahwa Surat Fatihatul-Kitab ini memang diturunkan di Makkah.

Sungguhpun demikian ada juga satu riwayat yang diterima oleh perawi-perawinya dari Mujahid, bahwa beliau ini berpendapat bahwa Surat ini diturunkan di Madinah.

Tetapi, entah karena sengaja hendak mengumpulkan di antara dua pendapat, ada pula segolongan yang menyatakan bahwa Surat ini diturunkan dua kali, pertama di Makkah, kemudian diturunkan sekali lagi di Madinah.

Tetapi menjadi lebih kuatlah pendapat golongan yang terbesar tadi bila kita ingat bahwa sembahyang lima waktu mulai difardhukan ialah sejak di Makkah, sedang sembahnyang itu dianggap tidak sah kalau tidak membaca al-Fatihah menurut Hadis:

“Tidaklah (sah) sembahyang bagi siapa yang tidak membaca Fatihatul-Kitab” (Hadits ini dirawikan oleh al-Jama’ah, daripada Ubadah bin as-Shamit).

Dia termasuk satu Surat yang mula-mula turun. Meskipun Iqra’ sebagai lima ayat permulaan dari Surat al-’Alaq yang terlebih dahulu turun, kemudian itu pangkal Surat Ya Ayyuhal Muddatsir, kemudian itu pangkal Surat Ya Ayyuhal Muzzammil, namun turunnya ayat-ayat itu sepotong-potong. Tidak satu Surat lengkap. Maka al-Fatihah sebagai Surat yang terdiri dari tujuh ayat, ialah Surat Lengkap yang mula-mula sekali turun di Makkah.

Di dalam Surat 15 (al-Hijr), ayat 87 ada disebut: “Tujuh yang diulang-ulang” (Sab’an minal matsaani).  Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud ialah Surat al-Fatihah ini juga, sebab al-Fatihah dengan ketujuh ayatnya inilah yang diulang-ulang tiap-tiap rakaat sembahyang, baik yang fardhu ataupun yang sunnat.  Oleh sebab itu maka Sab’ul Matsaani, adalah nama Surat ini juga.

Di dalam Surat 3 (ali-Imran) ayat 7, ada disebut Ummul-Kitab, ibu dari Kitab. Menurut Imam Bukhari di dalam permulaan tafsirnya, yang dinamai Ummul-Kitab itu ialah al-Fatihah ini, sebab dia yang mula ditulis dalam sekalian Mushaf dan dia yang mulai dibaca di dalam sembahyang.  Cuma Ibnu Sirin yang kurang sesuai dengan penamaan demikian. Dia lebih sesuai jika dinama Fatihal Kitab saja.  Sebab di dalam Surat 13 (ar-Ra’ad) ayat 39 terang dikatakan bahwa Ummul Kitab yang sebenarnya ada di sisi Allah.

Dia termasuk satu Surat yang mula-mula turun. Meskipun Iqra’ sebagai lima ayat permulaan dari Surat al-’Alaq yang terlebih dahulu turun, kemudian itu pangkal Surat Ya Ayyuhal Muddatsir, kemudian itu pangkal Surat Ya Ayyuhal Muzzammil, namun turunnya ayat-ayat itu sepotong-potong. Tidak satu Surat lengkap.  Maka al-Fatihah sebagai Surat yang terdiri dari tujuh ayat, ialah Surat Lengkap yang mula-mula sekali turun di Makkah

Di dalam Surat 15 (al-Hijr), ayat 87 ada disebut: “Tujuh yang diulang-ulang” (Sab’an minal matsaani). Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud ialah Surat al-Fatihah ini juga, sebab al-Fatihah dengan ketujuh ayatnya inilah yang diulang-ulang tiap-tiap rakaat sembahyang, baik yang fardhu ataupun yang sunnat. Oleh sebab itu maka Sab’ul Matsaani, adalah nama Surat ini juga.

Di dalam Surat 3 (ali-Imran) ayat 7, ada disebut Ummul-Kitab, ibu dari Kitab. Menurut Imam Bukhari di dalam permulaan tafsirnya, yang dinamai Ummul-Kitab itu ialah al-Fatihah ini, sebab dia yang mula ditulis dalam sekalian Mushaf dan dia yang mulai dibaca di dalam sembahyang.  Cuma Ibnu Sirin yang kurang sesuai dengan penamaan demikian. Dia lebih sesuai jika dinama Fatihal Kitab saja.  Sebab di dalam Surat 13 (ar-Ra’ad) ayat 39 terang dikatakan bahwa Ummul Kitab yang sebenarnya ada di sisi Allah.

Tetapi beberapa Ulama lagi tidak keberatan menamainya juga Ummul Quran, artinya ibu dari seluruh isi al-Quran, karena ada sebuah hadis yang dirawikan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda :

“Dia adalah ibu al-Quran, dan dia adalah Fatihatul Kitab dan dia adalah tujuh yang diulang-ulang”.

Penulis Tafsir al-Kasysyaaf menyebutkan lagi namanya yang lain, yaitu al Kanz (Perbendaharaan), al-Wafiyah (yang Melengkapi), al-Hamd (puji-pujian) dan Surat as-Shalah (sembahyang).  Dan menurut riwayat as-Tsa’alabi dari Sufyan bin Uyaynah, Surat inipun bernama al-Waqiyah (Pemelihara dari kesesatan), sebab dia mencukupi Surat-surat yang lain, sedang Surat-surat yang lain tidak mencukupi kalau belum bertali dengan dia.  Tadi dia diberi nama Perbendaharaan, karena menurut riwayat Ali bin Abi Thalib tadi, dia diturunkan dari Perbendaharaan di bawah Arsy.

Dia bernama melengkapi, sebab seluruh Syariat lengkapnya tersimpul di dalamnya. Dia bernama Puji-pujian, sebab dipangkali dengan puji kepada Allah. Dan dia bernama Surat Sembahyang, karena sembahyang tidak sah kalau dia tidak dibaca.

Bilamana kita kelak telah sampai kepada penafsiran isinya, dapatlah kita fahami bahwa segala nama itu memang sesuai dengan dia. Apatah lagi pokok ajaran Islam yang sejati, yang menjadi ibu dari segala pelajaran, yaitu Tauhid, telah menjadi isi dari ayat-ayatnya itu pertama sampai akhir.

Tidak ada puji, apapun macamnya puji untuk yang lain, hanya untuk Allah semata-mata. Dan di dalam ayat itu telah tersebut Tuhan sebagai Rabbi, atau Rabbun, yang berarti Pemelihara, Pengasuh, Pendidik, dan Penyubur.  Diikuti oleh ayat yang menyebut dua nama Allah, yaitu Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah, dan Ar-Rahim, yang Maha Penyayang, nampaklah betapa pertalian Khaliq dengan Makhluk-Nya, yang kelak di dalam al-Quran akan diuraikan berulang-ulang.  Kemudian pokok ajaran utama dari al-Quran ialah tentang Hari Pembalasan, Hari Kiamat, Hari Berbangkit, dari hal syurga dan neraka; semuanya ini telah tersimpul dalam ayat “Maliki yaumiddin”, yang mempunyai Hari Pembalasan.

Sebagai kesempatan ibadah kepada Allah, dan tidak ada ibadat buat yang lain, yaitu isi yang sejati dari Tauhid, maka datanglah ayat: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah tempat kami memohon pertolongan.

Untuk mencapai Ridha Allah, maka Tuhan menunjukkan garis jalan-Nya yang harus ditempuh, lalu Allah mengutus Rasul-rasul-Nya membawa Syariat dan memimpin kepada manusia bagaimana menempuh jalan itu, isi al-Qur’an yang ini tersimpul dalam ayat “Ihdinas Shirathal Mustaqim”.

Kemudian itu al-Quran berisi khabar yang menggembirakan bagi orang yang taat dan patuh, kebahagiaan di dunia dan syurga di akhirat yang di dalam istilah agama disebut wa’ad, ini telah terkandung di dalam ayat “Shirathalladzina an’amta ‘alaihim”, jalan yang telah Engkau beri nikmat atasnya.

Kemudian al-Quranpun memberikan ancaman siksa dan azab bagi orang yang lengah dan lalai, kufur dan durhaka, yang disebut wa’id.  Maka tersimpul pulalah kata al-Quran ini pada ujung Surat, tentang orang yang maghdhub, kena murka Tuhan, dan orang yang dhaalin, orang yang sesat.  Demikian pula al-Quran menceritakan keadaan umat-umat yang telah terdahulu, yang telah binasa dan hancur karena dimurkai Tuhan, dan diceritakan juga kaum yang sesat dari jalan yang benar; itupun telah tersimpul di dalam kedua kalimat maghdhub dan dhaalin itu.

Menilik yang demikian itu dapatlah kita pahami apa sebab maka al-Fatihah itu disebut Ummul-Kitab atau Fatihatul-Kitab, yang pada pembukaan telah disimpul isi dari 114 Surat yang mengandung 6.236 ayat itu.

Kemudian ada pula penafsir berkata bahwa seluruh al-Quran dengan Suratnya yang 114 dan ayatnya yang 6.236 ayat itu, semuanya telah tersimpul dalam Surat al-Fatihah.  Dengan peninjauan tersebut di atas tadi, dapatlah penafsiran demikian itu kita terima.

Tetapi di antara mereka melanjutkan lagi.  Mereka berkata bahwa Surat al-Fatihah itu telah tersimpul di dalam Bismillahir-Rahmanir-Rahim; barangkali setelah merenungkan agak mendalam tentang Maha Murahnya Tuhan Allah kepada hamba-Nya dan Kasih-Sayang-Nya sehingga diutus-Nya Rasul, diwahyukan-Nya Kitab-Kitab Suci, disediakan-Nya syurga bagi yang taat dan ampunan bagi yang taubat.  Penafsiran ini masih juga dapat kita terima.  Tetapi setengah penafsir itu melanjutkan lagi.  Katanya, Bismillahir-Rahmanir-Rahim itu tersimpul dalam huruf B (al-Baa) pada permulaan Bismillah!  Dan selanjutnya lagi, ada sebagian mereka yang berkata bahwa huruf Ba pangkal Bismillah itupun tersimpul dalam titik huruf Ba itu.  Sampai di huruf Ba dan titiknya itu, diri penafsir tidak mau mengikut lagi.  Sebab itu bukan lagi penafsiran berdasar ilmu, tetapi sudah suatu khayal!

Apa sebab?

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, dan bahasa Arab mempunyai 28 huruf, di antaranya huruf kedua, yaitu al-Baa, atau huruf B dalam istilah Latin.  Tetapi kalau membacanya secara tunggal ialah al-Baa (dengan ditekan sedikit ujungnya, sehingga berbunyi ada hamzah).  Maka menurut tata bahasa Arab dan ejaannya, barulah sebuah huruf berarti apabila dia telah dirangkaikan dengan huruf yang lain atau kalimat yang lain. Dan yang khusus pada huruf al-Baa baru dia berarti dengan, setelah dia diberi baris bawah (kasrah) dan dirangkaikan dengan satu kalimat yang bersifat ism (nama / kata benda).

Misalnya bi Muhammadin yang berarti “dengan Muhammad.  Bil-lahi (dengan Allah) atau Bismillahi (dengan nama Allah).

Cobalah pikirkan, bagaimana akan diterima apabila dikatakan bahwa seluruh al-Fatihah terkumpul ke dalam Bismillahir- Rahmanir-Rahim dan Bismillahir-Rahmanir-Rahim terhimpun seluruhnya kepada huruf al-Baa?

Dan lebih tidak dapat diterima pula kalau dikatakan bahwa huruf al-Baa itupun terkumpullah kepada titiknya yang ada di bawah itu. Yang artinya bahwa seluruh isi al-Qur’an yang 114 Surat itu terhimpun semuanya kepada satu titik. Bukan sembarang titik, tetapi titik Ba yang di bawah itu.

Bagaimana akan disimpulkan ke sana, padahal baik di zaman Rasulullah SAW dan di waktu Saiyidina Abu Bakar as-Shiddiq memerintahkan mengumpulkan al-Qur’an ke dalam satu Mushaf, ataupun selanjutnya setelah Usman bin Affan memerintahkan membuat Mushaf al-Imam, sebagai mushaf yang resmi sampai sekarang, pada ketiganya itu huruf al-Baa belum lagi bertitik!!.

Huruf-huruf al-Qur’an, termasuk huruf al-Baa barulah diberi titik di zaman pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, khalifah ke-5 Bani Umayyah, atas buah pikiran dari Wali Negeri Irak, al-Hajjaaj bin Yusuf. Sedangkan pemberian baris fathah, dhammah, kasrah, tanwin dan sukun, sudah terlebih dahulu terjadi daripada memberi titik. Yang memberikan baris ialah Abul Aswad ad-Du’ali, atas perintah Wali Negeri Bashrah, Zayyad. Di zaman Bani Umayyah yang pertama, sahabat Rasulullah SAW, Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Oleh sebab itu maka penafsiran seperti demikian bukanlah mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan menurut al-Qur’an dan al-Hadits dan dirayah atau riwayat ahli-ahli tafsir yang mu’tamad. Dia hanya satu khayal yang dapat pelemak-lemakkan kata, tetapi tidak akan mampu dari mana sumbernya, kalau hendak dicara dengan seksama.

Tentang ayat Bismillahir Rahmanir Rahim;
Tentang ini agak panjang juga pembicaraan di antara para Ulama, baik Bismillah di permulaan al-Fatihah atau Bismillah di permulaan sekalian Surat al-Qur’an, kecuali pada permulaan Surat Baraah (at-Taubah). Yang jadi perbincangan ialah, apakah Bismillah di permulaan Surat itu masuk dalam Surat atau di luar Surat?

Pembicaraan tentang ini selanjutnya telah menjadi sebab perbincangan pula, wajibkah Imam membaca Bismillah itu dengan suara jahar (suara keras) pada sembahyang yang jahar (Maghrib, Isya’ dan Shubuh), atau membaca dengan sir (tidak dikeraskan) melainkan langsung dengan Alhamdulillah dan seterusnya saja? Atau tidak dibaca samasekali, dan hanya langsung men-jahar-kan al-Fatihah?

Supaya lebih mudah peninjauan kita tentang perbedaan-perbedaan pendapat para sarjana keislaman itu, terlebih dahulu kita kemukakan titik-titik pertemuan. Semua tidak ada selisih bahwa Bismillahir-Rahmanir-Rahim itu memang ada tertulis dalam Surat 27 (an-Naml), yaitu seketika Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’ menerangkan kepada orang-orang pembesar kerajaannya bahwa dia menerima sepucuk surat dari Nabi Sulaiman a.s. yang diawali :

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang”

Dan titik pertemuan paham mereka yang kedua ialah bahwa menurut ajaran Rasulullah SAW sendiri, sekalian Surat al-Qur’an yang 114 Surat itu, kecuali Surat Baraah (at-Taubah) semuanya dengan dimulai menuliskannya dengan Bismillah, menurut yang tertulis di ayat 30 Surat an-Naml itu. Maka Mushaf pertama yang ditulis oleh panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit atas perintah Khalifah pertama Sayyidina Abu Bakar itu adalah menurut apa yang diajarkan Nabi itu, pakai Bismillah di awal Surat, kecuali Baraah (at-Taubah). Dan Mushaf Sayyidina Utsman bin Affan pun ditulis cara demikian pula. Semua pakai Bismillah kecuali Baraah.

Tentang Bismillah ada permulaan tiap-tiap Surat, kecuali Surat Baraah atau at-Taubah, tidaklah ada perselisihan Ulama. Yang diperselisihkan ialah terletaknya di pangkal Surat itu menjadikan dia termasuk dalam Surat itukah, atau sebagai pembatasnya dengan Surat-surat yang lain saja, atau menjadi ayat tunggal sendiri.

Golongan terbesar dari Ulama Salaf berpendapat bahwa Bismillah di awal Surat adalah ayat pertama dari Surat itu sendiri. Beginilah pendapat Ulama Salaf Makkah, baik Fuqahanya atau ahli Qiraat; di antaranya ialah Ibnu Katsir dan Ulama Kufah, termasuk dua ahli Qiraat terkemuka, Ashim dan al-Kisaa’i. Dan sebagian sahabat-sahabat Rasulullah dan Tabi’in di Madinah. Dan Imam Syafi’i di dalam fatwanya yang jadid (baru), demikian pula pengikut-pengikut beliau. Dan Sufyan as-Tsauri dan Imam Ahmad pada salah satu di antara dua karyanya. Demikian pula kaum al-Imamiyah (dari Syiah). Demikian pula dirawikan daripada Ulama sahabat, yaitu Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah; dan Ulama Tabi’in, yaitu Said bin Jubair, Athaa’ dan az-Zuhri dan Ibnul Mubarak.

Alasan mereka ialah karena telah ijma’ seluruh sahabat Rasulullah SAW dan yang datang sesudah mereka berpendapat bahwa Bismillah wajib ditulis di pangkal setiap Surat, kecuali di pangkal Surat at-Taubah. Dikuatkan lagi dengan larangan keras Rasulullah SAW memasukkan kalimat-kalimat lain yang bukan termasuk kepadanya, sehingga al-Qur’an itu bersih daripada yang bukan wahyu. Sedangkan kalimat Amin yang jelas-jelas diperintahkan membacanya oleh Rasulullah sehabis selesai membaca waladh-dhallin, terutama di belakang imam ketika sembahyang jahar, tetap tidak boleh dimasukkan atau dicampurkan ke dalam al-Qur’an, khususnya al-Fatihah, ketika menulis Mushhaf, apatah lagi menambahkan Bismillahir-Rahmanir-Rahim di pangkal tiap-tiap Surat, kecuali Surat Baraah, kalau memang dia bukan termasuk Surat itu.

Pendapat mereka ini dikuatkan lagi oleh sebuah Hadis yang dirawikan oleh Imam Muslim di dalam Shahihnya, yang diterima dari Anas bin Malik. Berkata Rasulullah S.A.W :

“Telah diturunkan kepadaku tadi satu Surat. Lalu beliau baca: Bismillahir-Rahmanir-Rahim, sesungguhnya telah Kami berikan kepada engkau sangat banyak, maka sembahyanglah engkau kepada Tuhan engkau dan hendaklah engkau berkorban, sesungguhnya orang yang benci kepada engkau itulah yang akan putus keturunan,”

Di dalam Hadis ini terang bahwa di antara Bismillahir-Rahmanir-Rahim dibaca senafas dengan Surat yang sesudahnya.  Di sini berlakulah suatu qiyas, yakni sedangkan Surat lnna A’thaina yang paling pendek, lagi beliau baca senafas dengan Bismillah sebagai pangkalnya, apatah lagi al-Fatihah yang menjadi ibu dari segala isi al-Quran.  Dan apatah lagi Surat-surat yang panjang-panjang.

Dan sebuah Hadis lagi yang dirawikan oleh ad-Daruquthni dari  Abu Hurairah, berkata dia: Berkata Rasulullah s.a.w.:

“Apabila kamu membaca Alhamdulillah yaitu Surat al-Fatihah maka bacalah Bismillahir-Rahmanir~Rahim, maka sesungguhnya dia adalah lbu dari al Qur’an dan Tujuh yang diulang-ulang, sedang Bismillahir-Rahmanir-Rahim adalah salah satu daripada ayatnya.”

Demikianlah pendapat dan  alasan-pendapat dari Ulama-ulama yang berpendirian bahwa Bismillah di pangkal tiap-tiap Surat termasuk dalam Surat itu sendiri, bukan terpisah, bukan pembatas di antara satu Surat dengan Surat yang lain.

Tetapi satu pendapat lagi, Bismillahir»Rahmanir-Rahiim di pangkal Surat itu adalah ayat tunggal, diturunkan untuk penjelasan batas atau pemisah jangan tercampur-aduk di antara satu Surat dengan yang lain.  Yang berpendapat begini ialah lmam Malik dan beberapa Ulama Madinah.  Dan lmamal- Auza’i serta beberapa Ulama di Syam dan Abu Amer dan Ya`kub dari Bashrah.

Dan ada pula satu pendapat tunggal dari lmam Ahmad bin Hanbal, yaitu bahwa pada al-Fatihah sajalah Bismillahir-Rahmanir~Rahim itu termasuk ayat, sedang pada Surat-surat yang lain tidak demikian halnya.

Oleh karena masalah ini tidaklah mengenai pokok akidah, tidaklah kita salah jika kita cenderung kepada salah satu pendapat itu, mana yang lebih dekat kepada penerimaan ilmu kita sesudah turut menyelidiki.  Adapun bagi Penafsir ini, terlepas daripada menguatkan salah satu pendapat, maka di dalam menafsir Bismillahir-Rahmanir-Rahim pada pembukaan al-Fatihah, kita jadikan dia ayat yang pertama menurut Hadits Abu Hurairah yang dirawikan oleh ad-Daruquthni itu.  Dan tidak mungkin Bismillahir-Rahmanir-Rahim di muka al-Fatihah itu disebut sebagai satu ayat pembatas dengan Surat yang lain, karena tidak ada Surat lain yang terlebih dahulu daripada Surat al-Fatihah.  Karena itu maka Bismillahir»Rahmanir-Rahim lebih luas yang pada al-Fatihah inilah yang kita tafsirkan sedang Bismillah yang 112 Surat lagi hanya akan kita tuliskan terjemahannya saja.  Sebab tentu saja membosankan kalau sampai 113 Bismillah ditafsirkan, dan 114 dengan Bismillah dalam Surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis dalam Surat an-Naml itu.