Juzu’ 2 – Muqaddimah

Juzu’ yang kedua daripada Al Qur’an inin masih saja dalam lingkungan Surat Al Baqarah (Lembu Betina).  Sebagai lanjutan dari pangkal surat di juzu’ kedua ini masihlah diutamakan pembentukan masyarakat muslim.  Sebab masyarakat muslim ini telah ditentukan oleh Tuhan akan menjadi Khalifah Allah di muka bumi.  Dan untuk memenuhi tugas  yang berat itu dimatangkanlah terlebih dahulu aqidah, atau kepercayaan yang akan menjadi pegangan hidup.  Di juzu’ pertama panjang-lebar diterangkan bagaimana tempelak-tempelak Tuhan kepada Bani Israil dan cerita di sekitar kehidupan dengan kekufuran mereka dan keingkaran mereka terhadap Rasul Allah yang diutus kepada mereka yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun.  Maka dengan mengambil bandingan dari segala kisah Bani Israil itu, mengerti sendirilah kaum Muslimin yang masyarakatnya tengah dibentuk ini, bahwa janganlah mereka meniru seikap hidup yang buruk dari Bani Israil itu.  Kadang-kadang teguran itu ditegaskan sekali, sebagai tersebut di dalam ayat 108, “Apakah kamu akan menanya kepada Rasul kamu, sebagaimana ditanyakan kepada Musa tempo dulu?”

Segala rintangan dan cemooh serta tekanan-tekanan, baik dari ahlul-kitab, ataupun dari kaum yang masih musyrikin, atau dari kaum yang munafik, telah disanggah dan disambut semuanya. Latar-belakang dari perangai-perangai buruk mereka telah dicela. Pada akhir-akhir dari juzu’ pertama diterangkanlah dari hal Nabi Ibrahim dengan segala perjuangannya. Bahwa berbagai ujian telah didatangkan Tuhan Allah kepada Ibrahim dan dia telah dapat menggenapi, atau mengatasi segala ujian itu, dan setelah dia lulus dari ujian, diangkat Allah dia menjadi Imam bagi manusia. Lalu diterangkan apakah inti ajaran yang dibawa oleh Ibrahim, yaitu agama Hanifan Musliman, lurus menuju kepada Allah dan menyerahkan jiwa raga sepenuhnya kepada-Nya.  Bukanlah ajaran Ibrahim itu agama yang bernama Yahudi, sebab Yahudi diambil dari nama salah seorang putera Nabi Ya’kub bernama Yahudza, padahal Ya’kub adalah cucu Nabi Ibrahim.  Dan bukan pula agama Kristen (Nasrani).  Sedangkan Kristen itu baru ada sesudah Isa Almasih sendiri meninggal dunia*.  Agama Ibrahim adalah Agama Islam, yang berarti penyerahan diri kepada Allah Yang Maha Esa, Maha Kuasa Dan Penganut paham itu diberi nama Muslim, artinya, “Orang yang menyerah”.

Sesudah itu dilanjutkan cerita asal mula beliau diperintahkan Allah mendirikan Ka’bah yang di Makkah itu, dibantu oleh puteranya Ismail.  Bagaimana beliau berdo’a agar tempat yang telah dibukanya itu diberi berkat oleh Tuhan.  Dan beliaupun berdo’a agar kelak kemudian hari, dari anak-cucu keturunannya di Makkah itu timbul seorang Rasul untuk menuntun mereka.  Kemudian itu ujung kisah sampailah pada persediaan hendak mengambil Kiblat kepada tempat yang asli, yaitu Masjidil-Haram sebagai rumah ibadat kepada Allah Yang Maha Esa, yang paling pertama di dunia ini.

Dari hal peralihan kiblat itulah yang dimulai pada Juzu’ kedua ini.

Di pangkal juzu’ kedua ini sudah diterangkan dengan jelas, bahwa kiblat dikembalikan ke Makkah, bukan lagi ke Baitul-Maqdis. Di sana diterangkan salah satu sebab yang penting yaitu karena maksud Allah ialah menjadikan ummat Muhammad ini ummatan wasathan, ummat yang di tengah, untuk menjadi saksi bagi seluruh manusia, penyambung zaman lampau dengan zaman depan, terletak di antara Timur dengan Barat. Di ayat-ayat ini dijelaskan juga bahwa setiap ummat mempunyai ciri khasnya sendiri. Dengan cirinya yang khas itulah dibentuk pribadinya.

Dia berkiblat sendiri. Dia mempunyai satu kepercayaan (akidah) yang jelas dalam hubungan di antara Pencipta Alam, dan alam ilu sendiri, dan lnsan di sekeliling diri dan pengertian tentang hidup dan peribadi sendiri. Dan diapun mempunyai ibadat, cara menghubungkan diri dengan Allah yang berupa shalat, puasa, zakat, dan haji; yang lain dari yang lain. Di dalam juzu` kedua ini mulai diterangkan apa arti perjuangan. Perjuangan dengan harta dan jiwa, perjuangan menegakkan keyakinan dan kebenaran. Kesediaan taat yang mutlak kepada Tuhan, walaupun untuk itu jiwa sendiri, walaupun mati tantangannya, maka mati yang demikian dinamai Syahid.

Dengan membaca ayat-ayat pada juzu’ kedua, atau bahagian kedua dari Surat al~Baqarah dan mengikutnya dengan seksama, nyata sekali bagaimana ummat ini dibentuk. Ummat ini, dengan berpindah ke Madinah telah mulai menegakkan peribadinya. Mereka tidak lagi menegakkan keyakinan dengan sembunyi-sembunyi sebagai di Makkah dahulu. Mereka telah diberi Allah kurnia dapat menegakkan Daulah, kekuasaan. Mempunyai daerah yang mulanya sempit saia sekedar kota Madinah, kemudian meluas dan meluas lagi dalam masa 10 tahun. Dan di tahun ke-8 sesudah hijrah itu, Makkah-pun dapat ditaklukkan.  Dalam membangun negara ke dalam, menyerbu musuh ke luar, ataupun menangkis musuh yang akan merebut kembali kemerdekaan itu; dalam menghadapi semuanya itu masyarakat ke dalam terus diperkokoh. Di saat-saat yang penting wahyu llahi datang, maka Nabi Muhammad s.a.w menyampaikan wahyu itu kepada ummat, lalu dijadikan undang-undang dan diamalkan dengan taat.

Maka bertemulah di dalam juzu’ kedua ini peraturan puasa, peraturan wasiat, hukum berperang di bulan-bulan suci dan di Masjidil-Haram, perintah mengerjakan haji, bahaya minuman keras dan perjudian dan peraturan berkenaan dengan membentuk rumah tangga, tentang kawin talak, rujuk iddah, sampai kepada meminang, sampai kepada cara bergaul suami-lsleri; semuanya itu peraturan yang selalu berpokok dan berpangkal daripada akidah dan hubungan takwa kepada Allah.

Segala pahit-getir yang ditempuh dalam menegakkan Masyarakal Muslim, diterangkan pada juzu‘ kedua ini tidak kurang hebatnya dari juzu’ pertama. Hambatan dari Ahlul-Kitab masih tetap dibayangkan, keingkaran kaum musyrikin masih tetap dijelaskan dan munafik masih tetap menggerutu di dalam kelam, tetapi kepada Muslimin diperintahkan supaya jangan ragu-ragu mengikuti lslam. Kalau sekali telah masuk dan mengakui akidah ini, janganlah masuk separoh-separoh, bahkan masukilah seluruhnya, dan ambillah dia jadi pegangan dalam seluruh segi kehldupan, dan jangan dituruti langkah-langkah yang digariskan oleh syaitan (ayat 208). Bahkan diterangkan lagi bahwasanya hendak masuk syurga tidaklah semudah yang disangka oleh orang yang lemah pribadinya. Jalan ke syurga tidak bertabur kembang.

Seorang yang ingin masuk syurga hendaklah tahan menderita kesusahan, lahan menderita kemelaratan, bahkan sampai digoncangkan dan digempakan, sehingga kadang-kadang dari hebatnya goncangan itu sampai Rasul mereka sendiri dan orang-orang yang beriman mengeluh menuntut kepada Tuhan, mana dia janji Allah itu (ayat 214). Ujung ayat menerangkan bahwa kalau keadaan sudah sampai demikian rupa, itulah alamat bahwa pertolongan telah dekat.

Di ujung Juzu` bertemulah suatu kisah praktek daripada perjuangan menegakkan iman dan akidah, yaitu sejemput rentetan kisah Bani lsrail lama sesudah Musa meninggal di bawah pimpinan seorang Nabi mereka. Mereka telah menderita tindasan yang tidak tertahankan lagi yang datang dari musuh-musuh mereka. Lalu mereka minta kepada Nabi mereka agar Nabi itu mencarikan seorang Raja, atau Kepala Perang yang akan memimpin mereka berperang pada jalan Allah. Cerita ini menceritakan jiwa kecil dari ummat yang lemah. Mereka memerlukan seorang pemimpin tetapi setelah Nabi itu menunjukkan siapa yang patut jadi pemimpin itu, ada-ada saja bantahan mereka, terutama karena pemimpin ilu tidak kaya. Padahal kemudian ternyata bahwa pemimpin atau raja itu seorang yang gagah berani dan mahir berperang. Meskipun dia miskin dahulunya, namun dia berwibawa dan sanggup memimpin. Setelah mereka diajak pergi berperang, dan diuji ketaatan mereka setelah menyeberangi sungai, ternyata bahagian yang terbesar tidak setia kepada disiplin.

Untunglah ada sebahagian kecll yang teguh hati melanjutkan perang, setia patuh mengikuti perintah pimpinan, sehingga mereka tidak jadi kalah. Cerita ini adalah perbandingan yang tepat bagi jamaah masyarakat lslam yang tengah dibentuk itu, sebab Masyarakat Islam adalah penyambut pusaka daripada ummat Nabi-nabi yang telah lalu, guna menegakkan iman kepada Allah dalam alam ini, yang di kiri-kanan perialanannya ranjau-ranjau telah disediakan oleh musuh buyutannya, yaitu syaitan dan lblis.

Dengan menuruti secara seksama ayat-ayat di juzu’ kedua ini, lalu disambung dengan juzu’ yang sebelumnya, kita akan menampak bagaikan al-Quran memimpin jiwa kita dalam menempuh perjuangan ini. Satu perjuangan besar menegakkan Sabililah, jalan Allah di tengalrtengah hasad-dengki, intimidasi, permainan kotor, kedustaan dan kebohongan yang digunakan oleh lblis dan kakitangannya menghalangi tegaknya Kalimat Allah itu. Di samping itu terdapat pula kelemahan manusia dalam menangkisnya, dan bagaimana agar jiwa kuat dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah, sehingga ternyatalah bahwa di samping perjuangan ke Iuar, jihad dengan musuh di Iuar diri, terlebih dahulu hendaklah berjihad pula mengendalikan diri sendiri, mendekati Allah dan memperkuat batin dengan munajat kepadanya. Sehingga selama dunia terkembang, seiak zaman dulu, zaman sekarang dan nanti, jihad itu tidak akan berhenli dan kebenaran jalan Allah jua yang akan menang.

Sehingga apabila kita baca ayat demi ayat, lihat Asbabun-Nuzul (sebab turunnya ayat), perhatikan sanggahan musuh dan perhatikan pula sikap yang dituntunkan Wahyu, kerapkali kita merasakan bahwa apa yang kejadian di zaman Rasulullah itu, itu pula yang kita hadapi sekarang. Namun nama~nama musyrikin, Yahudi, Nasrani, munafiqin yang telah disebutkan 14 abad yang lalu itu, itu jugalah yang kita hadapi sekarang, dan perjuangan tetap sesengit dahulu juga.

Bahkan kadang-kadang lebih ngeri lagi tipu-daya mereka, usaha mereka membelokkan kita daripada Tauhid kepada syirik, menggagalkan kita menegakkan jalan Allah, usaha mereka dengan menaburkan uang, ataupun dengan memakai kekerasan senjata untuk menghalangi ajaran Nabi Muhammad ini; caranya bisa bertukar, kadang-kadang kasar, kadang-kadang halus, namun hakikatnya sama saja. Maka karena yang pokok pangkal pertentangan bukanlah barang benda lahir (materi), melainkan pokok pendirian batin, tidak ada jalan lain bagi Muslimin melainkan menyatukan dirinya kembali dengan Kitab Wahyu Suci ini. Sebab al-Quran akan tetap menjadi penggerak dari dinamika hidup Muslim, pemimpinnya dalam perjalanan menempuh jalan nyata: Undang-undang dasar asasi pokok pangkal berpikir, di dalam hidup dan di dalam bermasyarakat. Penuntun Muslim di dalam pergaulan lnternasional, balk dalam budi peribadi alaupun dalam kegiatan karya hidup.

*) Lihat Perjanjian Baru, Kisah Rasul-Rasul 11:26

One thought on “Juzu’ 2 – Muqaddimah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *