Surat Ali Imran – ayat 28

Iman kepada Allah telah dipadu dengan ayat yang terlebih dahulu, yaitu bahwasanya seluruh kekuasaan adalah pada Allah.  Kalau ada manusia ber- kuasa, maka itu adalah anugerah belaka daripada Allah, dan Allah pun bersedia pula mencabut kekuasaan itu kembali.  Orang tidak akan mulia kalau bukan Allah yang memuliakan dan orang tidak akan hina kalau bukan Allah yang menghinakan.  Sehingga walaupun seluruh isi dunia untuk menghinakan engkau, kalau tidak hina kata Tuhan, tidaklah engkau akan hina. Walaupun sepakat isi dunia hendak memuliakan engkau, kalau Tuhan akan menetapkan hina, dunia tidaklah dapat menolong. Kecil kita dan kecil dunia, di hadapan Tuhan.

Sekarang setelah mendapatkan pendirian yang demikian, datanglah tuntunan yang maha penting: “Janganlah mengambil orang-orang yang mukmin akan orang-orang kafir jadi pemimpin, lebih daripada orang-orarg yag beriman.” (pangkal ayat 28).

Di sini terdapat perkataan Aulia’.  Dahulupun pemah kita uraikan arti kata Wali.  Dan berarti pemimpin atau pengurus atau teman karib, ataupun sahabat ataupun pelindung.

Di surat al-Baqarah ayat 256 kita telah diberikan pegangan, bahwasanya Wali yang sejati, artinya pemimpin, pelindung dan pengurus orang yang beriman hanya Allah.  Di ayat itu Tuhan memberikan jaminannya sebagai Wali, bahwa orang yang beriman akan dikeluarkan dari gelap kepada terang.  Dan di dalam ayat itu juga diterangkan bahwa Wali orang yang kafir adalah Thaghut dan Thaghut itu akan mengeluarkan mereka dari terang kepada gelap.  Kemudian di dalam ayat yang lain kita telah bertemu pula keterangan bahwasanya orang beriman sesama beriman yang sebahagian menjadi wali dari yang lain, sokong-menyokong, bantu-membantu, sehingga arti wali di sini ialah persahabatan.  Maka di dalam ayat yang tengah kita bicarakan ini, diberikanlah peringatan kepada orang yang beriman, agar mereka jangan mengambil orang kafir menjadi wali.  Jangan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dijadikan wali sebagai pemimpin, atau wali sebagai sahabat. Karena kelak akibatnya akan terasa, karena akan dibawanya ke dalam suasana thaghut. Kalau dia pemimpin atau pengurus, sebab dia kufur, kamu akan dibawanya menyembah thaghut. Kalau mereka kamu jadikan sahabat, kamu akan diajaknya kepada jalan sesat, menyuruh berbuat jahat, mencegah berbuat baik.

Menurut riwayat yang dikeluarkan oleh lbnu Ishaq dan lbnu Jarir dan lbnu Abi Hatim, bahwa lbnu Abbas berkata: “Al-Hajjaj bin ‘Amr mengikat janji setia kawan dengan Ka’ab bin al-Asyral – (Pemuka Yahudi yang terkenal Penafsir) dan lbnu Abi Haqiq dan Qais bin Zaid. Ketiga orang ini telah bermaksud jahat hendak mengganggu kaum Anshar itu, lalu ditegur oleh Rifa’ah bin al-Mundzir dan Abdullah bin Jubair dan Sa’ad bin Khatamah, supaya mereka menjauhi orang-orang Yahudi yang tersebut itu.  Hendaklah mereka berawas diri dalam perhubungan dengan mereka, supaya agama mereka jangan difitnah oleh orang-orang Yahudi itu.  Tetapi orang-orang yang diberi peringatan itu tidak memperdulikannya.”  lnilah –kata Ibnu Abbas– yang menjadi sebab turunnya ayat ini.

Ada lagi suatu riwayat lain yang dikeluarkan oleh lbnu Jarir dan lbnul Mundzir dan lbnu Abi Hatim dari beberapa jalan riwayat, bahwasanya tafsir ayat ini ialah bahwa Allah melarang orang-orang yang beriman bersikap lemah-lembut terhadap orang kafir dan mengambil mereka jadi teman akrab melebihi sesama beriman, kecuali kalau orang-orang kafir itu lebih kuat daripada mereka (sehingga terpaksa).  Kalau demikian tidaklah mengapa memperlihatkan (karena keterpaksaan tersebut) sikap lunak, tetapi hendaklah tetap diperlihatkan perbedaan di antara agama orang yang beriman dengan agama mereka.

Untuk mendekatkan kepada paham kita, bacalah pula tafsir surat al-Mumtahanah (Surat 60 ayat 1). Seorang sahabat Nabi yang terkemuka, pernah turut dalam peperangan Badar, bernama Hathib bin Abi Balta’ah, seketika Rasulullahs.a.w.menyusun kekuatan buat menaklukkan Makkah, dengan secara diam-diam dan rahasia telah mengutus seorang perempuan ke Makkah, membawa suratnya kepada beberapa orang musyrikin di Makkah, menyuruh mereka bersiap-siap, sebab Makkah akan diserang.  Maksudnya ialah untuk menjaga dirinya sendiri.  Sebab kalau serangan itu gagal, dia sendiri tidak akan ada yang akan memperlindunginya di Makkah. Dia tidak mempunyai keluarga besar di Makkah, sebagaimana banyak sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. yang lain. Dengan mengrim surat itu dia hendak mencari perlindungan (jika ternyata serangan ke Makkah berhasil dikalahkan).  Syukurlah Tuhan memberi isyarat kepada Rasulullah tentang kesalahan Hathib itu, sehingga beliau suruh kejar perempuan itu, lalu digeledah sampai ditemukan surat itu di dalam sanggulnya.  Umar bin Khathab telah meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuh Hathib karena perbuatannya yang dipandang berkhianat itu. Untuk kepentingan diri sendiri dia telah membuat hubungan dengan orang kafir. Perbuatannya itu salah.  Sebab dia telah membocorkan rahasia peperangan, syukurlah suratnya itu dapat ditangkap.  Kalau bukanlah karena jasanya selama ini, terutama karena dia telah turut dalam peperangan Badar, niscaya akan berlakulah atas dirinya hukuman berat.

Hathib bin Abi Balta’ah termasuk sahabat besar, namun demikian sekali sekali orang besarpun bisa terperosok kepada satu langkah yang merugikan negara dengan tidak disadari, karena lebih mengutamakan memandang kepentingan diri sendiri. Maka dalam surat al-Mumtahanah ayat 1 diperingatkan supaya orang-orang beriman jangan mengambil orang kafir menjadi wali, karena menumpahkan kasih-sayang. Padahal kalau telah terjadi pertentangan (konfrontasi) dengan musuh, dalam hal ini di antara kaum muslimin di Madinah dan kaum musyrikin di Makkah, hubungan pribadi tidak boleh dikemukakan lagi.  Mungkin pribadi-pribadi orang di Madinah dengan pribadi orang d Makkah tidak ada selisih, tidak bermusuh, malah berkawan, bersahabat karib tetapi dalam saat yang demikian hubungan pribadi tidak boleh ditonjolkan sebab akan mengganggu jalannya penentuan kalah-menang di antara golongan yang berhadapan.

“Dan barangsiapa yang berbuat demikian itu, maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun.” Tegasnya, dengan sebab mengambil wali kepada kafir baik pimpinan atau persahabatan, niscaya lepaslah dari perwalian Allah, putus dari pimpinan Tuhan, maka celakalah yang akan mengancam. “Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas.”

Beratus-ratus tahun lamanya negeri-negeri Islam banyak yang dijajah oleh pemerintahan yang bukan lslam, karena terpaksa. Karena tergagah, karena senjata untuk melawan dan kekuatan untuk bertahan tidak ada lagi. Makactetaplah larangan pertama, yaitu tidak menukar wali daripada Allah kepada mereka. Kalau ini tidak dapat dinyatakan keluar, hendaklah disimpan terus dalam hati dan hendaklah selalu awas sebenar-benar awas, supaya dengan segala daya-upaya bahaya mereka itu untuk membelokkan dari Allah kepada Thaghut dapat ditangkis. Pendeknya, sampai kepada saat terakhir wajib melawan, walaupun dalam hati.