Surat Ali Imran – ayat 28 – Taqiyah

Taqiyah

Bersikap lunak-lembut kepada musuh, yang merupakan satu ketundukan dan menyerah, karena musuh itu lebih kuat, itulah yang dinamai sikap Taqiyah.  Kepala selalu terangguk-angguk merupakan setuju, padahal hati bukan setuju.  Mulut senantiasa tersenyum sehingga musuh yang kafir itu menyangka bahwa si Mu’min telah tunduk, padahal hatinya bukan tunduk.

Orang yang tidak memahami ajaran lslam menyamakan saja sikap begini dengan munafik. Padahal munafik ialah bermulut manis, bersikap lembut dan tersenyum-senyum di dalam menyembunyikan pendirian yang salah, yang kufur.  Sebagai orang munafik dia mengakui hadapan Rasulullah s.a.w. bahwa mereka telah percaya bahwa beliau memang Utusan Allah, padahal hati mereka tidak mengaku. Walaupun yang mereka katakan benar, kalau kata yang benar itu tidak dari hati, mereka tetap berdusta. ltulah orang yang munafik.

Tetapi kalau kita yakin bahwa kita di pihak yang benar, dalam lindungan hukum-hukum Allah dan Rasul, sedang musuh kuat, sehingga kita tidak kuat bertindak menentang musuh Tuhan itu, kalau kita menunjukkan muka manis dan mengangguk-angguk, bukanlah munafik namanya, melainkan taqiyah.

Dalam satu seminar di Jakarta dalam bulan September 1966 seorang sahabat menyatakan pendapat bahwa sikap taqiyah yang menjadi pegangan sangat teguh dari kaum Syi’ah adalah menunjukkan sikap yang lemah.  Lalu penafsir ini membantah: “Memang kaum Syi’ah mempunyai ajaran taqiyah, tetapi ini bukanlah alamat kelemahan,” Terlepas dari pendirian Penafsir sendiri yang bukan Syi’ah, tetapi penganut Mazhab Sunni, Penafsir kagum akan ajaran taqiyah kaum Syi’ah itu.  Sebab bagi mereka taqiyah bukan kelemahan, melainkan satu siasat yang berencana.  Oleh sebab itu maka Mazhab Syi’ahlah satu nazhab politik yang banyak sekali mempunyai rencana-rencana rahasia, yang baru diketahui oleh musuh-musuhnya setelah musuh itu menghadapi kenyataan.

Kerajaan-kerajaan Syi’ah yang berdiri di mana-mana, baik di Asia atau Afrika di zaman-zaman Khalifah-khalifah Baghdad,k ebanyakan pada mulanya adalah gerakan yang dirahasiakan.  Berdirinya gerakan Bani Abbas menentang Bani Umayyah, mulanya ialah gerakan rahasia yang timbul di Khurasan. Kerajaan Bani Idris di Afrika, Kerajaan Fathimiyah di Mesir yang dahulu bemama Ubaidiyah di Qairouan mulanya adalah gerakan rahasia.  Gerakan Hasan Shabah yang terkenal dengan nama “Hasysyasyin” (lalu menjadi Assasin dalam bahasa Inggris), adalah mulanya gerakan sangat rahasia.  Oleh sebab itu kalau kaum Syi’ah memakai pendirian taqiyah, bukanlah kelemahan, melainkan siasat yang berencana.  Oleh sebab itu kalau ada orang lslam yang menyerah kepada kekuasaan kafir, sampai kerjsama atau membantu kaum kafir, padahal tidak ada rencana hendak terus menumbangkan kerajaan kafir itu, bukanlah itu taqiyah, tetapi menggadaikan diri sendiri kepada musuh.

“Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya.” Disambungan ayat ini Allah Ta’ala memberi peringatan dengan keras, bahwa di dalam urusan ini, khusus dalam taqiyah, janganlah dipandang enteng. Jangan sampai sikap taqiyah itu dijadikan tempat lari untuk melepaskan diri daripada tanggungiawab menghadapi lawan. Hendaklah awas dan jangan sekali-kali lupa bahwa diri Allah Ta’ala senantiasa ada, senantiasa mengawasi, dan menilik sepak terjang yang kamu lakukan. Karena kalau taqiyah itu akan membawa agama Allah jadi lemah, bukanlah dia taqiyah lagi tetapi beralih menjadi sikap Pengecut. ltu sebabnya maka ujung ayat lebih menjelaskan pula, bahwa baik di waktu kamu sedang kuat, lalu menolak kerjasama dengan musuh yang akan melemahkan agamamu, atau sedang lemah sehingga terpaksa kamu mengambil sikap taqiyah, namun ingatlah: “Dan kepada Allahlah tujuan kamu.” (ujung ayat 28).

Akhir ayat ini mengingatkan kita akan perumpamaan hidup kita yang tengah belayar di tengah lautan besar, menaiki sebuah bahtera.  Sejak dari Permulaan belayar kita telah menentukan tujuan dan arah di mana bahtera itu akan berlabuh.  Lalu pelayaran kita teruskan.  Tetapi oleh karena laut itu tidak senantiasa tenang, bahkan ada gelombang, ada taufan, ada badai dahsyat. Sudahlah dalam perhitungan, bahwa kadang-kadang bahtera itu akan dihalau Oleh angin entah ke mana.  Tetapi betapapun hebatnya pukulan gelombang, namun nakhoda kapal wajib tetap menjaga pedoman, tidak boleh berkisar dari tujuan semula.

Tujuan bahtera hidup beragama ialah ALLAH.

Untuk kelengkapan penafsiran ini hendaklah kita tilik lagi ayat 8 dan ayat 9 dari surat 60 (al-Mumtahanah). Surat inipun diturunkan di Madinah. Di ayat 8 ditegaskan bahwa terhadap orang kafir yang tidak memerangi kamu dan tidak mengusirmu dari kampung halaman kamu, tidaklah mengapa jika hidup berdampingan dengan damai (An-tabarru-hum) dan berhubungan secara adil (Watuq-sithu-Ilaihim); memberi dan menerima, duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Lalu di ayat 9 ditegaskan lagi, bahwa jika musuh itu memerangi kamu dalam hal agama dan mengusir kamu dari kampung halaman kamu dan dengan terang-terang pula pengusiran itu, tidaklah kamu boleh bersahabat atau berhubungan dengan mereka

Niscaya kita dapat berpikir lebih lanjut tentang isi sekalian ayat ini. Baik ayat-ayat yang tegas melarang dan memerintahkan supaya selalu awas, atau ayat yang membolehkan berhubungan dengan mereka, karena taqiyah atau karena kuat. Kalau kita kuat tentu tidak berhalangan kalau kita berhubungan dan berdamai dengan orang kafir, membuat perjanjian-perjanjian dagang, hutang- piutang dan lain-lain sebagainya, terutama hidup bernegara di zaman modern, tidaklah ada satu negeri yang dapat memencilkan diri dari negeri lain. Sudahlah selayaknya jika wakil-wakil dari negeri dan negara lslam duduk bersama bermusyawarat memperkatakan soal-soal lnternasional dengan wakil-wakil negara-negara lain. Adapun sikap awas dan waspada, sikap tidak lupa kepada diri Allah, niscaya tidak boleh dilepaskan, baik di waktu lemah, ataupun di waktu kuat.