Surat Ali Imran – ayat 29

“Katakanlah: Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam dada kamu, ataupun kamu nampakkannya, namun Allah mengetahuinya juga, dan Diapun mengetahui apa yang ada di semua langit dan apa yang dibumi.” (pangkal ayat 29).

Ayat ini adalah pengikat jiwa yang halus sekali bagi orang-orang yang beriman. Dia adalah sebagai sambungan daripada Allah memperingatkan tentang diriNya tadi. Mereka pada pokoknya dilarang keras lebih mementingkan pimpinan orang kafir dan mengangkat mereka jadi Wali, sehingga melebihkan pandangan kepada mereka daripada memandang sesama Mu’min. Cuma di saat yang terpaksa dan menilai keadaan, baru boleh melakukan taqiyah. Di ayat ini diperingatkan bahwa Tuhan mengetahui apa yang kamu sembunyikan dalam dada dan mana yang kamu nampakkan dan nyatakan. Orang banyak dapat kamu kicuh, dan Tuhan tidak! Maka lebih tertekanlah peringatan ini pada Ulil-Amri, orang-orang yang bertanggungjawab; jangan sampai misalnya membela kelemahan diri dengan menyebut taqiyah. Kontrol sejati adalah di tangan Tuhan, dan sewaktu-waktu pekerjaan yang curang dan busuk akan berbau juga oleh orang banyak. Disebut dalam ayat ini, bahwa yang diketahui Allah itu bukan saja isi dada manusia yang tersembunyi atau sikap manusia yang nyata. Usahkan itu, sedangkan rahasia semua langit dan bumi lagi diketahuiNya.

Kadang-kadang ditafsirkan dengan nyata di hadapan mata kita. Yaitu bertalian isi dada manusia dengan mulutnya dengan rahasia langit dan bumi, Satu hal pernah kejadian. Yaitu pada suatu hari seorang Kepala Negara yang sombong berkata sambil mendabik dadanya, bahwa kita manusia ini harus aanggup menundukkan alam. Dua hari saja sesudah dia berpidato sombong akan menundukkan alam itu, terjadilah hujan lebat di kota kediamannya, yaitu hujan lebat yang membawa banjir besar. Dia yang berpidato itu terpaksa dihusung atau ditandu orang ketika akan keluar dari istana, sebab mobil yang akan membawanya tidak dapat berjalan dalam banjir dan mesinnya tidak bisa iidup. Maka orang yang menyaksikan berkata: “Raja kita katanya hendak nenundukkan alam. Sekarang dia juga rupanya yang wajib tunduk kepada alam!”

Seorang pemimpin Komunis tidak berTuhan pernah berkata dalam satu rapat umum, “Kalau kamu tidak bisa bergerak membubarkan Himpunan mahasiswa Islam, lebih baik tukar celanamu dengan sarung (dengan menghina bahwa itu adalah pakaian perempuan).”  Sehari sesudah dia bercakap berapi-api itu, kaum Komunis mengadakan berontak hendak merebut kekuasaan dan membunuh enam orang Jendral.  Rupanya pemberontakan mereka hanya berjalan sehari saja sedang petang harinya sudah dapat digagalkan.  Maka Pemimpin Komunis yang sombong itu terpaksa lari meninggalkan kota, benar-benar dengan menukar celana dengan sarung.

ltulah sebabnya maka akhir ayat berbunyi, “Dan Allah atas tiap-tiap sesuatu Maha Kuasa.” (ujung ayat 29).

Hanya orang Mu’min yang dapat merasai hal yang seperti ini. Betapa kekuasaan Allah atas isi dada manusia dan betapa kekuasaan Allah atas seluruh langit dan bumi.  Kadang-kadang kita bertemu dengan kemenangan padahal menurut perhitungan kita belum nampak pintunya.  Kadang-kadang kita merasa bahwa rencana kita akan berjalan menurut yang kita gariskan.  Tiba-tiba datang saja kejadian lain yang tidak pula kita sangka-sangka sehingga rencana Allah jualah yang berjalan.  Oleh sebab itu maka baik di waktu susah atau di waktu senang, sekali-kali janganlah lupa memperhitungkan Maha Kuasanya Allah.