Surat Ali Imran – ayat 30

 

“(!ngatlah) akan hari yang tiap-tiap orang akan menerima ganjaran amal baik yang telah tersedia.” (pangkal ayat 30). Di sini diberikan ketegasan dan jaminan bagi setiap orang yang beramal baik, bahwa ganjarannya akan di terimanya kontan, telah tersedia di hadapan matanya. Akan mengobat hatinya yang sudah gundah dan akan menghilangkan segala kepenatan dan akan menghabiskan segala kecewa. “Dan amalan-amalan yang burukpun.” Artinya bahwa amalan yang burukpun akan menerima ganjaran yang telah tersedia pula, sebagai akibat daripada perbuatannya sendiri, sehingga: “lnginlah dia (kiranya) di antara balasan amal buruknya itu dengan dirinya di antarai oleh masa yang jauh.”

Tegasnya: Baik dan buruk (amalan) akan menerima ganjaran Tuhan dengan kontan dan tersedia nyata di hadapan mata (Muh-dharan). Orang yang berbuat baik tentu akan merasai gembira yang sangat tinggi dan rasa bahagia yang tiada taranya seketika berhadapan langsung dengan balasan amalnya. Tetapi bagaimana orang yang beramal buruk? Diapun akan menerima ganjara kontan pula, hadir pula di hadapan matanya. Niscaya perasaan di waktu itu akan lain. Niscaya kalau hal itu dapat dielakkan, akan dia elakkan. Atau diminta supaya diperlambat, diundur~undur; dia takut menghadapi kenyataan sehingga dia mengharap supaya di antara dia dengan ganjaran amalnya itu diadakan jarak yang jauh. Dia pasti kalah, dan dia tahu itu. Tetapi dia mint supaya kekalahan itu diundurkan. Tetapi benarlah apa yang dikatakan oleh seorang pujangga: “Hidup ialah menunda kekalahan.”

Sebab itu Tuhan memperingatkan lagi sebagai telah diperingatkanNya di ayat yang di atas tadi: “Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya.” Sebab itu janganlah kamu abaikan tugas hidupmu. Pilihlah sendiri jalan yang benar dan jauhilah yang salah, jujurlah terhadap Allah. Sebab Dia Ada, dan Dia mengawasi kamu. lngatlah itu benar-benar dan awaslah. “Dan Allah amatlah sayang kepada hamba-hambaNya.” (ujung ayat 30).

Dengan peringatan hati-hati dan awas yang agak keras di atas semuanya tadi, terasalah bahwa masing-masing kita yang mengakui dirinya hamba Allah tidak pernah lepas dari tilikan Allah. Maka kitapun berhati-hatilah, baik dalam isi dada yang dirahasiakan, atau sikap hidup yang dinampakkan. Tetapi di dalam kehati-hatian itu kitapun insaf bahwa kita ini manusia, ada saja kelemahan kita masing-masing. Lautan ini amat luas, dimana akan berlabuh belum tahu. Sedang berjalan menuju tujuan yang dituju itu, entah putus nyawa di tengah jalan, entah mati jatuh karena kehausan. Kadang-kadang terasa betapa banyak halangan yang wajib dilalui, banyak duri dan onak.

Semuanya itu diketahui oleh Tuhan.  Oleh sebab itu, di samping kerasnya peringatan yang Dia berikan, Diapun tetap sayang dan belas-kasihan akan semua hambaNya yang memang membina tujuan hidupnya mencapai ridha Allah.  Oleh sebab itu jika dalam perjalanan sulit itu, sekali-sekali bertemu dengan luluk dan lumpur yang mengotori baju, lekaslah bersihkan. Dan membersihkan batin daripada daki-daki kedosaan ialah dengan bertaubat dan beristighfar.