Juzu’ 6 – Muqaddimah

Juzu’ 6 dari al-Quran mengandung ujung dari surat an-Nisa’, yaitu dari ayat 148 sampai ayat terakhir 176.  Dan surat al-Maidah dari ayat 1 sampai 82

Sebagaimana telah terurai sejak tentang kesalahan Akidah Agama Nasrani yang mengangkat lsa Almasih jadi Tuhan, atau sebahagian dari satu Tuhan, atau anak Tuhan. Diingatkan kepada ahlul-kitab agar mereka jangan terlalu berlebih-lebihan dalam memahamkan agama, sehingga akhirnya Surat an-Nisa’ ini kita uraikan juga hasil penyelidikan tentang naskah tua yang didapat orang dalam sebuah Gua di Laut Mati, yang hasil penyelidikan terhadapnya akan menyebabkan dogma-dogma Kekristenan yang telah diputuskan dengan berkali-kali rapat atau Sidang Gereja, atau yang dinamai Konsili telah menjadi sangat tergoncang.  Dunia Kristen menghadapi suatu dilemma yang sukar, sehingga sampai sekarang hasil penyelidikan terhadap naskah itu terpaksa didiamkan. Sebab kalau mereka berpegang kepada isi naskah tersebut, mereka wajib kembali kepada Akidah asli yang sederhana, yang tidak kemasukan pengaruh agama lain sebelum Kristen, padahal Akidah yang telah diputuskan telah dijadikan pegangan selama hampir 2000 tahun.

Pada ayat 157 ditegaskan Akidah pokok Islam tentang Nabi lsa Almasih, bahwa beliau adalah Rasulullah, sebagaimana Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang lain juga; dan beliau bukan mati dibunuh, bukan mati disalib, tetapi orang lainlah yaitu orang yang mengkhianatinya itu yang telah diserupakan oleh Allah dengan Isa Almasih pada kelibut senja, ketika hari mulai gelap-gulita malam.

Di ayat 171 ditolak pula kepercayaan mereka bahwa Tuhan itu adalah tiga.  Ditegaskan bahwa Allah itu Esa adanya dan tidak beranak.

Penutup Surat an-Nisa’ ialah penyempurnaan dari ayat 11dan12 tentang pembahagian Faraidh, atau harta pusaka setelah seseorang meninggal dunia; itulah ayat 176.

Setelah itu barulah masuk mentafsirkan Surat al«Maidah (Hidangan), yaitu Surat kelima, yang ayatnya 120 dan diturunkan di Madinah juga.  Di dalam surat ini, selain menambah penjelasan tentang kesalahan Akidah orang Nasrani yang membina kepercayaan bahwa Tuhan itu adalah bertiga dalam satu, dan bersatu dalam tiga, dan beberapa celaan terhadap orang Yahudi, atau Bani lsrail yang telah memungkiri janji-janjinya yang telah mereka ikat dengan Tuhan, adalah pula beberapa peraturan yang diaturkan khas buat masyarakat lslam yang sedang bertumbuh dan berkembang dan berpusat di Madinah itu.

Surat al-Maidah yang terkandung dalam Juzu’ 6 ini tidak pulalah sampai seluruh surat; hanyalah dari ayat 1 sampai ayat 82.  Dari ayat 83 sampai akhiri surat, yaitu ayat 120 termasuk dalam Juzu’ 7.

Dalam tertib turunnya surat disebutkan bahwa Surat al-Maidah diturunkan sesudah Surat al-Fath (Kemenangan, Surat 48).  Sedang surat al«Fath itu diturunkan ialah dizaman Perjanjian Hudaibiyah yang terkenal pada tahun keenam.

Namun setelah kita selidiki dengan seksama, tidaklah mungkin seluruh isi Surat al-Maidah diturunkan sesudah al’Fath, atau tahun keenam Hijriyah.  Sebab ketika Rasulullah s.a.w. mengharapkan kesanggupan kaum Anshar agar turut dalam peperangan Badar, Sa’ad bin Mu’az salah seorang pemuka Anshar telah membawakan ayat 24 dari Surat al-Maidah ini, bahwa kaum Anshar tidaklah akan berperangai sebagai perangai Bani Israil ketika diajak oleh Nabi Musa berperang dengan musuhnya, ketika beliau perintahkan memasuki negeri Palestina, bahwa Bani lsrail itu berkata kepada Musa, “Pergilah engkau hai Musa berdua dengan Tuhan engkau, berperanglah disana; namun kami biarkanlah duduk di sini.”  Sedang perang Badar terjadi pada tahun kedua.

Dan lagi pula dalam Surat al-Ma idah banyak membuka perangai-perangai buruk orang Yahudi, yaitu Yahudi Bani Qinuqa’, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah.  Maka kalau keseluruhan Surat al-Maidah turun sesudah tahun keenam, tidaklah agaknya akan sebanyak itu lagi menyebut kekurangan Yahudi karena sebelum tahun itu, atau sebelum Perdamaian Hudaibiyah Yahudi Bani Nadhir telah diusir dari Madinah dan Yahudi Bani Quraizhah telah dihukum dengan hukuman berat.  Hanya penaklukan Khaibar saja yang terjadi sesudah Perdamaian Hudaibiyah.

Dan lebih jelas lagi bertemu pada ayat tiga; yang di sana dijelaskan bahwa agama kamu telah disempurnakan dan nikmat telah dilengkapkan, yang menunjukkan bahwa sesudah itu syariat tidak ada tambahanya lagi sebab telah lengkap.

Ayat ini turun pada ketika Nabi Muhammad s_a.w. mengerjakan Haji Wada’ tahun kesepuluh.

Kesimpulannya bolehlah dikatakan surat al-Maidah memang banyak ayatnya diturunkan sesudah Surat al-Fath, selepas tahun keenam hijriyah, tetapi tidak semuanya.  Bahkan ada yang dahulu dari itu dan ada yang sesudahnya.  Namun kesimpulan isinya samalah di antara keempat Surat-surat panjang yang diturunkan di Madinah; yaitu al-Baqarah, Aali lmran, an-Nisa’ dan al-Maidah. Yang kalau diambil kesimpulan secara terperinci ialah:

  1. Mengokohkan Masyarakat lslam dengan mengatur pergaulan hidupnya.
  2. Kesanggupan mempertahankan diri dari serangan musuh-musuhnya.
  3. Menerangkan kesalah-fahaman agama lain yang telah menyimpang dari ajaran Agama yang asli.