Surat An Nisa’ – ayat 148

“Allah tidaklah suka penyebaran perkataan-perkataan yang buruk.” (pangkalayat148).  Kalau dikatakan Allah tidak suka, niscaya Allah membencinya.  Maka amatlah benci menyiar-nyiarkan atau menjelas-jelaskan perkataan yang buruk, yang kotor, yang cabul dan yang carut-marut.  Yang disukai oleh Allah hanyalah kata-kata yang sopan yang tidak menyinggung perasaan, yang tidak merusak akhlak.  Maka banyaklah perkataan yang artinya kita maklumi tetapi tidak boleh diucapkan terus-terang.  Sebab disana terletak batas kesopanan manusia.  Tuhan sendiri memilih kata di dalam al-Quran yang patut menjadi contoh bagi orang yang beriman.  Tidak sekali juga Tuhan memakai perkataan yang menyinggung perasaan, berkenaan dengan hubungan laki-laki dan perempuan, khususnya suami-isteri, sehingga tingkat umur berapapun yang membaca dan mendengar al-Quran itu tidak tersinggung perasaannya, walaupun anak gadis yang baru meningkat dewasa.  Bahkan kata-kata yang berarti najis yang keluar dari dua pelepasan tidak ada dalam al-Quran.  Demikianpun kembali dari buang air;  al-Quran mengatakan saja kembali dari kakus (al-Ghaaith).

Guru kami, almarhum Zainuddin Labay El-Yunusi seketika mendirikan Sekolah Diniyah di Padang Panjang pada tahun 1916 menjadi susah hati di dalam memilih buku-buku pelajaran agama, terutama” Fiqh yang sesuai diberikan kepada kanak-kanak.  Terutama seketika menerangkan darah Haidh dan Nifas, yang kalau diterangkan menurut yang tertulis dalam buku-buku Fiqh saja, terutama kepada anak-anak perempuan yang belum patut mendengarnya sangatlah menyinggung perasaan, demikianpun tentang syarat syarat yang wajib mandi Junub.  Sehingga akhirnya beliau mengarang sendiri buku yang sesuai dengan methode pendidikan, dan sesuai dengan ayat yang tengah kita tafslikan ini: Dan beliau pecah Diniyah School itu menjadi dua, bahagian anak laki-laki dan bahagian anak perempuan, yang masyhur dengan nama “Diniyah Puteri” yang dipimpin oleh adiknya sendiri, Rahmah El-Yunusiyah.  Sebab yang utama menurut pengetahuan penulis, ialah menjaga jangan sampai kata-kata yang belum layak didengar kanak-kanak di umur muda, tersinggung perasaan seketika guru menerangkan pengajian Fiqh pada kata-kata yang hanya boleh diberikan dalam kalangan terbatas kepada orang dewasa.

Ayat inipun suatu teguran halus dalam hal pendidikan.  Sehingga tidaklah layak seorang ibu ketika marah-marah kepada anaknya mengeluarkan kata-kata yang kotor, memaki-maki, mencarut-carut dan sebagainya.  Dan telah menjadi kebiasaan manusia seluruh dunia tidak suka menyebut nama aurat kelamin.  Sehingga ahli-ahli pengarang kamus (woordenboek) yang besar-besarpun selalu mengelak untuk menuliskan makna dari kata-kata terlarang itu.

“Kecuali orang yang teraniaya.”  Hanya dibolehkan memakai kata-kata buruk bagi orang yang teraniaya untuk melepaskan dirinya dari penganiayaan, sekedar perlu.  Misalnya dia dituduh orang melakukan perbuatan yang bukan salahnya, lalu dia menghadap atau dihadapkan ke muka hakim buat memberikan keterangan yang sebenarnya, bahwa yang bersalah ialah si anu.  Untuk menjelaskan duduknya perkara, kalau perlu-perlu dia memakai kata-kata yang kotor, di saat itulah baru dia dibolehkan.  lnilah yang disebut di dalam Kaedah ahli Ushul: “Irtikabu akhalfidh-dhararaini.”  Melakukan mana yang ringan di antara dua mudharat yang harus dipilih.  Atau dalam bahasa Barat Dilemma.

Sesuai dengan ayat ini, alam negeri-negeri yang berkesopanan, jika perkara di muka hakim yang patut dirahasiakan, selalu disidangkan dengan pintu tertutup.

Tentu termasuklah dalam ayat ini segala penyiaran atau penyebaran untuk umum yang berupa berita suratkhabar, reklame atau iklan, yang membawa kesan buruk membangkitkan rangsangan kepada yang melihat atau membaca.  “Dan adalah Allah itu Mendengar, lagi Mengetahui. ” (ujung ayat 148).

Untuk menuntun batin dan kesopanan kita, pada penutup, Tuhan menyatakan bahwa Dia selalu mendengar apa yang kita ucapkan, sopankah atau kotor, dan mengetahui perangai-perangai dan kelakuan kita yang akan bisa menjatuhkan Muru’ah (harga diri). Karena banyaknya kata kotor, adalah alamat dari budi dan batin yang memulai kotor. Padahal ummat yang beragama, sudah semestinya mempunyai kesopanan yang tinggi.

Saiyidina Ali bin Abu Thalib dua kali melepaskan musuhnya dari tikaman pedang beliau, hanya perkara tersingkap aurat saja.  Sekali terhadap seorang musyrik di perang Uhud, sekali terhadap sesama Islam, yaitu Amer bin ‘Ash sendiri di dalam peperangan Shiffin Setika lawan-lawannya itu telah dekat beliau tikam, tiba-tiba terbuka aurat mereka atau tersingkap celana.  Beliau tidak mau melihatnya, lalu beliau tinggalkan tempat itu dan diberinya kesempatan musuhnya menutupi auratnya kembali.

Demikian pula salah seorang dari Imam yang besar, lmam Ahmad bin Hanbal, seketika beliau dipaksa untuk mengucapkan bahwa al-Quran adalah makhluk, yaitu faham yang dipaksakan oleh Khalifah Al-Ma’mun, sampai beliau dipenjarakan 30 tahun lamanya.  Pada suatu hari ketika beliau dalam tahanan di zaman Khalifah Al- Mu’tashim, beliau dihadapkan kepada majlis kerajaan, dipaksa mengakui pendirian itu.  Namun beliau tetap tidak mau, sebab paksaan itu berlawanan dengan pendiriannya, yaitu bahwa membicarakan al-Quran makhluk atau qadim bukanlah suruhan agama. Itu adalah pengaruh filsafat yang telah masuk ke dalam faham Islam.  Dalam paksaan itu beliau pernah dipukuli dengan cemeti, sehingga berbelit-belitlah cemeti pada badannya dan memancurlah darah, sehingga cemeti itupun merobek-robek bajunya. Cuma satu doanya kepada Tuhan, yaitu janganlah sampai terbuka auratnya atau robek celananya, ataupun putus ikat pinggangnya, sehingga auratnya kelihatan, sebab tangannya terikat. Karena menurut faham beliau memperlihatkan aurat itupun termasuk yang dibenci Allah. Doa beliau dikabulkan Tuhan.