Surat An Nisa’ – ayat 149

“Jika kamu memperlihatkan kebaikan atau kamu menyembunyikannya, atau kamu memberi maaf dari satu keburukan.” (pangkal ayat 149).

Menyebar-yebarkan kata-kata kotor dan buruk sudah terang tidak disukai oleh Allah. Kalau sekiranya Allah tidak suka penyebaran kata buruk, tentu yang disukai Allah ialah penyebaran kata yang baik, yang sopan, yang bermutu, yang berisi pendidikan.  Tetapi menyebarkan kata yang baik dan bermanfaat amat berbeda dengan menahan diri dari menyebarkan kata yang buruk.  Menyebar kata yang buruk, jangan sekali-kali!  Tetapi menyebarkan kata yang baik, adalah memilih tempat juga.  Kadang-kadang kata yang baik, bermaksud baik, karena tempat atau waktunya tidak kena, diapun menghasilkan yang buruk.  Ada beberapa pepatah untuk menjelaskan hal ini.  Satu pepatah mengatakan, “Apalah harga mutiara bagi seekor anjing.”  lni menandakan bahwa kata-kata yang baik dan bernilaipun hendaklah memilih tempat yang baik dan waktu yang baik pula.  Di sini terletak kebijaksanaan manusia.  Sebab itu maka di dalam ayat ini disebutkan, “Jika kamu memperlihatkan kebaikan atau menyembunyikannya.  “Sebab kadang-kadang ada kalanya kebajikan itu lebih berfaedah jika disembunyikan.  Atau kamu memberi maaf dari satu keburukan.  Misalnya orang mencaci-maki kita dengan kata-kata yang buruk, dan menghina.  Maka menurut pendapat kita hal ini hanya kecil saja, belum perlu dibawa ke muka hakim.  Kita hendaknya menunjukkan ketinggian mutu budi, lalu kita beri maaf dia “Maka sesungguhnya Allah adalah Pemaaf, lagi Kuasa.” (ujung ayat 149).

Di ujung ayat Allah menunjukkan sifatNya yang mulia, yaitu Pemaaf.  Maka Allah menganjurkan kepada orang Mu’min supaya meniru sifat Allah itu.  Dan di ujungnya sekali Allahpun menerangkan bahwa Dia Maha Kuasa.  Artinya jika seseorang memberi maal bukanlah karena kelemahan, tetapi karena kekuasaan.  Begitulah sifat Allah. inilah hendaknya yang dipegang oleh Mu’min, yaitu:

“Memberi maaf dalam keadaan berkuasa buat membalas.”

Saiyidina Ali pernah bertarung dengan pedang dengan musuhnya orang Yahudi, sehingga akhirnya Yahudi itu terdesak dan jatuh.  Saiyidina Ali telah duduk ke atas badannya, tinggal menikam atau memenggal kepalanya saja lagi dalam satu peperangan karena agama.  Tetapi setelah Saiyidina Ali duduk ke atas dadanya dan hendak memenggal lehernya, diludahinya muka Saiyidina Ali, sehingga basah.  “Astaghfirullah“, lalu beliau segera berdiri dan musuhnya itu ditinggalkannya.  Lalu orang itu dengan heran bertanya: “Mengapa tidak jadi aku engkau bunuh?”.

Beliaumenjawab, “Aku hendak membunuh engkau adalah karena urusan mempertahankan agama Allah. Tetapi setelah engkau ludahi mukaku, aku sangat marah, sebab itu adalah menyinggung kemuliaan diriku.  Maka kalau jadi engkau aku bunuh, bukan lagi aku melepaskan dendam Allah, tetapi melepaskan dendam diriku sendiri.”.

Pada tiap-tiap waktu subuh Khalifah Umar bin Abdul Aziz selalu datang lebih dahulu ke mesjid buat berjamaah, satu kali beliau melihat seorang tidur mendengkur dalam mesjid, lalu beliau bangunkan untuk mengambil wudhu’ dan berjamaah karena agaknya tidurnya sangat enak, dia marah karena dibangunkan dan memaki orang yang membangunkannya, “Majnun!” (Gila).

Dengan senyum beliau tinggalkan tempat itu dan berkata: “Sudah sekian tahun usiaku, baru sekali ini orang menyebut namaku yang selama ini belum pernah kudengar.”

Orang itulah yang kemudiannya ketakutan, setelah tahu bahwa yang dikatakannya majnun itu ialah Khalifah sendiri.  Adapun beliau telah dapat memenangi diri sendiri dengan meniru silat Allah, yaitu Pemaaf padahal dia sedang Kuasa.

Ayat yang dua ini terletak di tengah-tengah di antara ayat-ayat teguran kepada kaum munafik dan ahlul-kitab, yang di waktu itu dengan mudah mengucapkan kata-kata yang buruk secara berterang-terang.  Malahan ada Yahudi mengucapkan “Assamu’alaikum” kepada Rasulullah, padahal Assamu- ‘alaikum artinya ialah “Matilah kamul”  Ketika menjawabnya, Rasulullah tidak menyebut kembali kata-kata itu.  Melainkan beliau sambut saja dengan ucapan: “Wa “alaikum”.  Dan seketika salah satu isteri beliau, Aisyah, bertanya mengapa hanya begitu menjawab ucapan yang tidak senonoh itu, beliau katakan bahwa orang yang beriman tidaklah keluar dari mulutnya kata-kata yang keji.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa pada suatu hari Abu Bakar as-Shiddiq duduk dekat Rasulullah s.a.w. dalam satu majlis.  Tiba-tiba datanglah seseorang, lalu orang itu melepaskan beberapa caci-maki kepada Abu Bakar, dan Abu Bakar menjawab, kelihatan muka Rasulullah berubah jadi marah, dan beliau terus berdiri meninggalkan majlis itu.  Melihat Rasulullah berdiri, Abu Bakarpun berdiri mengikuti beliau.  Lalu dia bertanya: “Orang itu memaki aku dan aku berdiam diri, sedang engkau tersenyum.  Tetapi kemudian setelah makiannya itu keterlaluan dan aku menangkisnya, engkau kelihatan marah dan engkau segera berdiri meninggalkan majlis. Kenapa begitu?”

Rasulullah menjawab, “Seketika engkau berdiam diri mendengar kata-kata orang itu, Malaikat ada di sana dan dialah yang membalas makian orang itu; itu sebabnya aku tersenyum.  Tetapi setelah engkau mulai menjawab, syaitan telah masuk ke dalam majlis itu.  Tentu saja aku tidak mau duduk dalam satu majlis yang dihadiri oleh syaitan.  Wahai Abu Bakar!”  Dan kata beliau selanjutnya, “Adalah tiga macam hak yang engkau terima dari Allah. Tidaklah seorang hamba yang dianiaya orang dengan suatu penganiayaan, lalu dia memberi maaf, melainkan pastilah Allah akan memuliakan hamba itu, dan berjanji akan membelanya.  Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu pemberian kepada Allah, melainkan Allah berjanji akan menambah untuknya lebih banyak.

Dan ceritera lain pula dari Abu Hurairah: “Pada suatu hari duduklah Rasulullah s.a.w. dalam satu majlis.  Tiba~tiba beliaupun tersenyum, sehingga kelihatan dua gigi saing beliau.  Maka di antara hadirin ada yang bertanya, “Mengapa engkau tersenyum sendirian ya Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Aku melihat dua orang laki-laki daripada urnmatku sedang berlutut di hadapan Tuhanku.  Maka berkatalah yang seorang, “Ya Allah! Sudilah mengambil hakku yang dianiaya oleh saudarakul”.  Maka Allahpun berfirman, “Berikanlah barang saudaramu yang telah engkau aniaya itu, hai fulan!” Orang itu menjawab: Tidak ada lagi kebajikan yang tinggal pada diriku ya Allah!”  Lalu yang pertama tadi berkata, “Biarlah dia memikul dosa-dosaku.”

Berkata Abu Hurairah: “Seketika menceritakan perbantahan itu di hadapan Allah, berlinanglah airmata Rasulullah, seraya beliau berkata, “Hari itu adalah hari yang maha besar.  Sebab di hari itu manusia menginginkan dosanya yang berat itu dapat dipikul oleh orang lain.”  Setelah itu beliaupun berkata pula, “Maka berfirmanlah Allah kepada orang pertama yang dahulu dianiaya oleh saudaranya itu dan sekarang meminta haknya, “Cobalah angkat mukamu, lihatlah syurga yang di atasmu itu!”.

Orang itupun mengangkat muka. Maka kelihatan olehnya berbagai kebajikan dan beraneka warna nikmat Ilahi.  Laludiabertanya, “Ya Allah, untuk siapa semuanya ini?”

Allah menjawab, “Untuk orang yang sanggup membayar harganya!”

Maka hamba itupun bertanya pula kepada Allah, “Siapakah yang sanggup membayar harganya itu, ya Allah?”

Allah menjawab, “Engkau sendiri!”

Orang itupun bertanya, “Bagaimana caranya?”

Allah menjawab, “Dengan memberi maaf kepada saudaramu itu!”

Orang itu berkata, “Sekarang dia telah aku beri maaf, ya Allah!”

Maka berfirmanlah Allah kepadanya, “Ambillah tangan saudaramu itu, bimbinglah dia supaya bersama-sama masuk syurga.”

Kemudian itu berkata Rasulullah s.a.w. “Oleh sebab itu takutlah kamu sekaliannya kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara kamu satu dengan yang lain.”

Dengan menilik segala riwayat dan Hadits ini dapatlah kita memahamkan ayat dua serangkai ini.  Yaitu bahwa pada pokoknya janganlah keluar dari mulut  kita kata yang kotor.  Hanya boleh apabila karena terpaksa, sebab kita teraniaya.

Danpada ayat 149 kita diberi kebebasan memilih, karena melihat masa dan ketika apakah kebaikan itu akan kita perlihatkan atau akan kita sembunyikan, atau kita akan memberi maaf.  Kadang-kadang kita terpaksa membuka satu rahasia kejelekan orang lain, karena yang dituduh ialah diri kita, padahal kita tidak bersalah.  Kalau misalnya telah mengancam hidup kita, niscaya di waktu itu kita wajib membuka kebusukan orang yang memfitnah itu. Tetapi ada pula suatu masa, tidak perlu kita membalas keji dengan keji, kotor dengan kotor.  Sebab bagaimanapun seorang yang curang menyembunyikan kecurangannya, namun akhir kelaknya yang curang itu akan ketahuan juga.  ltu berkehendak akan kesabaran kita sendiri.

Sebab itu ayat 149 ini Allah menyerahkan kepada diri kita sendiri apakah kita akan menyatakan kebaikan kita atau akan menyembunyikan, lalu kita memberi maaf atas keburukan yang telah dilakukan kepada diri kita?  Tetapi sungguhpun terserah kepada kita memilihnya, di ujung ayat Allah menunjukkan sifatNya.  Yaitu bahwa Allah adalah Maha Pemaaf, dan Allahpun Maha Kuasa.

Dia Pemaaf, tetapi PemaafNya itu bukanlah karena lemah, melainkan karena KuasaNya.  Sekarang terserahlah kepada diri kita sendiri, akan membalaskah kita, karena itu memang hak kita.  Apatah lagi kita sanggup membalas?  Atau kita akan meniru sifat Allah, yaitu memberi maaf di samping kita mempunyai kesanggupan?  Niscaya orang yang ingin mempertinggi nilai jiwanya, meniru sifat Allah akan memilih memberi maaf.

Sebab itu buah dari ayat ini ialah menghasung kita supaya lebih banyak memberi maaf, dan jangan suka menimbulkan kata-kata yang membawa kotor.  Artinya jangan mengotori diri sendiri dengan mulut yang gatal.

Maka dapatlah disimpulkan rangkai kedua ayat ini, yaitu: “Allah tidak suka orang menyatakan dan membicarakan hal-hal yang kotor, kecuali dia sedang teraniaya.”  Tetapi kalau seorang yang teraniaya itu memberi maaf, dan tidak dia mengeluh karena penganiayaan, serta menyerahkan saja segala urusan itu kepada Allah Yang Maha Bijaksana, maka sesungguhnya Allah Pemaaf atas yang bersalah dan Maha Kuasa memberikan ganjaran yang setimpal kepada orang yang suka menganiaya.

Berkata ar-Razi dalam Tafsirnya, “Ketahuilah bahwa tali pengikat kebaikan itu, betapapun banyak cabang-cabangnya, namun dia hanya tersimpul dalam dua hal.  Pertama bersikap ikhlas kepada Allah dan berbudi baik terhadap sesama makhluk.  Maka yang berhubungan dengan sesama makhluk itu terbagi dua pula.  Pertama menyampaikan manfaat kepada mereka dan menghambat mudharat dari mereka.  Pangkal ayat “memperlihatkan kebajikan atau menyembunyikannya“, maksudnya ialah untuk menyampaikan yang manfaat kepada mereka.  Dan maksud ayat, “Dan kamu memberi maaf atas suatu keburukan”, ialah menolak kemudharatan dari mereka.  Dalam kedua kalimat inilah tersimpul segala macam kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat ini, dan segala amal yang berfaedah.

Berkata pula Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, “Tersebut di dalarn satu pesan Rasul, bahwasanya Malaikat-malaikat yang memikul Arasy Ilahi itu selalu mengucapkan tasbih kepada Allah.  Setengah mereka bertasbih sambil berseru: “Amat suci Engkau ya Allah, karena kelapangan ampunMu.”  Dan setengah Malaikat lagi berseru: “Amat suci Engkau ya Allah!  Atas luasnya ampunanMu sesudah begitu besar kekuasaanMu.”

Tersebut dalam satu Hadis yang shahih:

“Sedekah tidaklah akan mengurangi hartabenda yang ada. Dan hamba Allah yang sudi memberi maaf, tidaklah akan ditambahkan Allah untuk dia, melainkan kemuliaan juga. Dan seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah, tidaklah akan hina, melainkan akan diangkat Allah jua martabatnya jadi tinggi.”