Surat Maryam – ayat 2 – 4 (3)

Dan Zakariya bermunajat selanjutnya, “Dan tidaklah pernah aku, di dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku, merasa kecewa”  (ujung ayat 4).  Artinya, dalam pengalaman hidupku selama in, sejak aku masih muda belia pun belumlah pernah Engkau, ya Tuhanku, mengecewakan harapanku.  Jaranglah doaku yang tidak makbul.  Oleh sebab itu sekarang aku ulangi lagi permohonanku dan penuhlah kepercayaanku bahwa doa ini akan terkabul.

Hampir samalah doa Zakariya dengan kisah tiga orang yang terkurung di dalam gua, karena pintu gua dihantam petus sehingga tertutup dan mereka tidak dapat keluar.  Lalu masing-masing mengemukakan permohonan kepada Tuhan agar segera dikeluarkan dari kurungan itu, dengan menyebut amalan baik yang pernah mereka kerjakan, sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi S.A.W.

Setelah mengakui bahwa dia memang telah tua, sehingga jika melihat sebab-sebab yang lahir tidaklah mungkin permohonan akan terkabul, maka dikemukakannya jugalah kekhawatiran yang menyenak dalam hatinya.

“Dan sesungguhnya aku khawatir akan keluarga-keluarga di belakangku” (pangkal ayat 5).  Oleh karena itu aku sudah tua, tulang sudah sangat lemah, uban sudah menyala di kepala, sedang keturunan yang akan menyambung tidak ada, timbullah khawatir atau rasa cemas dalam hatiku jika aku meninggal dunia.  Bagaimana nasib dari kaum keluarga terdapat yang selama ini mengharapkan pimpinan dan bimbinganku.  Siapa yang akan aku harapkan membimbing dan memimpin mereka.  Beranak pun aku tidak bisa lagi.  Karena selain aku telah tua begini, “Sedang isteriku adala mandul”.  Orang perempuan yang mandul niscaya tidak diharapkan buat beranak.  Maka kalau permohonanku supaya dianugerahi putera yang akan menyambung keturunanku sukar untuk dikabulkan, “Sebab itu anugerahilah aku (dari kurnia) langsung dari Engkau, seorang pengganti” (ujung ayat 5).

Min ladunka : aku memohonkan kurnia langsung dari Engkau.  Karena yang lain tidaklah ada yang sanggup mengabulkan permohonanku.

Dengan kalimat “kurnia langsung” dari Tuhan, harapan hati kecil Zakariya masih terungkap dalam doanya.  Nampak bahwa doa ini mengandung doa permohonan : (1) Permohonan yang umum dan lahir, (2) Permohonan yang tersembunyi dan sangat diharap.

Kurnia untuk kepentingan umum itu ialah waliyyan, atau seorang pengganti atau penyambung tugas.  Seorang yang akan mengepalai keluarga jika beliau meninggal dunia.  Moga-moga Tuhan dapat mengabulkan permohonan yang umum ini.  Tetapi permohonan yang lebih tersembunyi lagi, kalau boleh pengganti tugas beliau atau pemimpin yang akan menggantikan tugas beliau itu dapatlah kiranya Tuhan memberinya anugerah putera.

Di dalam Surat Al-Anbiya’ (Surat 21 – Lihat Tafsir Al-Azhar juzu’ 17), ayat 89 pernah dijelaskan oleh Tuhan permohonan Zakariya itu.  Beliau memohon kepada Tuhan agar dia jangan diberikan Tuhan hidup sendirian di dunia ini.