Mengagumi Hamka

Mengagumi HamkaKamis, 10 April 2008 | 01:36 WIB Tokoh oposisi Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, mengaku kagum kepada Buya Hamka. Itu dia katakan ketika tampil sebagai pembicara kunci pada seminar “Memperingati 100 Tahun Kelahiran Buya Hamka”, Selasa (8/4) di Jakarta. “Saya kenal dengan Buya Hamka sebagai sastrawan melalui perpustakaan kecil ibu saya. Semasa muda, karya Buya Hamka, seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Tashawwuf Modern (1939), dan Tafsir Al-Azhar (ditulis ketika Hamka dipenjara 1964-1966), menjadi bacaan utama saya. Bahkan, Tafsir Al-Azhar yang menemani saya dua kali di istana perkurungan (penjara),” katanya. Ketika di penjara, Anwar mencoba menerjemahkan bagian awal Tafsir Al-Azhar ke dalam bahasa Inggris. Namun, bahasa Buya Hamka terlalu kuat, nuansa peribahasa dan iklim Melayunya begitu “tebal” sehingga sukar baginya untuk menerjemahkan. “Buya Hamka, ulama yang saya hormati, seorang dai yang saya kagumi. Hamka itu tokoh besar, inklusif, toleran. Ia sangat paham karakter orang Melayu. Ia sosok penentang rezim yang ganas, zalim, dan terhadap demokrasi terpimpin dia tegas,” kata Anwar. Satu hal yang pasti, lanjutnya, “Karya sastra Buya Hamka berhasil membentuk diri saya.” (NAL)

Embedly Powered

via Kompas