Membantah Klaim Syiah atas Buya Hamka

Membantah Klaim Syiah Atas Buya HamkaSALAH satu klaim dari kelompok Syiah adalah tudingan bahwa Buya Hamka adalah Ulama yang mendukung Syiah. Dengan menyeret nama Buya Hamka, kelompok Syiah ingin mengatakan eksistensi ajarannya juga didukung oleh para ulama besar di Indonesia. Sumber-sumber di internet pun kemudian bertebaran dengan menyertakan ucapan Buya Hamka dalam mendukung Syiah. Sayangnya sumber-sumber di internet tersebut tidak pernah disertai dengan bukti-bukti yang memadai untuk dapat dicrosscheck kebenarannya. Posisi Buya Hamka sendiri terkait Syiah dapat kita rujuk dari tulisan-tulisannya. Dalam majalah Panji Masyarakat No. 169/Tahun ke XVII, 15 Februari 1975 (4 Shafar 1395 H) hal 37-38, Buya Hamka sudah menjelaskan lebih jauh kritiknya terhadap ajaran Syiah yang menyelisihi ahlussunah.

Embedly Powered

Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama

Oleh: Dr. Adian Husaini

BELUM lama, pada 20 Maret 2012, salah satu peneliti INSISTS, Akmal Syafril, ST., M.Pd.I., menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme. Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama.

Menurut penulisnya, pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafi’i Ma’arif yang dimuat di Rubrik Resonansi, surat kabar Republika, edisi 21 November 2006, yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”.

Continue reading

Buya Hamka, Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme

Memang, setelah keluarnya tulisan Syafii Maarif tersebut, terjadi perdebatan yang cukup seru di Rubrik Opini Harian Republika. Saya pun segera menulis artikel yang menjawab artikel Syafii Maarif tersebut. Intinya, saya menegaskan, bahwa Buya Hamka sama sekali bukan seorang Pluralis Agama. Perlu dicatat, bahwa Pluralisme Agama, dalam CAP ini adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama merupakan jalan yang sah menuju inti realitas keagamaan. Dalam Pluralisme agama, tidak ada satu agama yang merasa superior dibanding yang lain. Tapi, setiap agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran dan Tuhan (In pluralism, no one religion is superior to any other; each and every religion is equally valid way to truth and God). (Alister E. Mcgrath, Christian Theology: an Introduction, (Oxford: Blackwell Publisher, 1994).  Menurut Akmal, dalam makalahnya, ia mengaku menemukan beberapa kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh Syafii Maarif dalam pengutipan Tafsir Al Azhar tersebut, terlepas dari ada-tidaknya unsur kesengajaan.

click here to read more