Hamka, Sang Pelepas Dahaga

Oleh S Sinansari Ecip

Hamka bercerita tentang suatu kali mengimami salat Subuh. Dia yang sangat Muhammadiyah kental, dengan lapang dada membaca doa Qunut, yang biasanya seperti ”diwajibkan” di kalangan Nahdlatul Ulama. Mengapa tiba-tiba Hamka menjadi orang NU? Ada apa gerangan? “Salah seorang yang makmum shalat Subuh itu ialah Kyai Idham Khalid,” ujarnya.

Dia menyebut tokoh NU dengan rasa hormat yang tinggi.  Artinya, ketika salat tersebut, tidak semaunya sendiri, meski Hamka imamnya. Dia menghormati ”anggota” yang berada di antara jama’ah.  Luar biasa.

Continue reading

Ketika Buya Hamka Marah Besar di Padang

Ketika Buya Hamka Marah Besar di PadangREP | 13 July 2011 | 20:44Dibaca: 1350 Komentar: 52 2 dari 3 Kompasianer menilai inspiratif Membaca postingan Kompasianer Ryanda Adiguna Buya Hamka pemberontak di Indonesia pahlawan bagi Malaysia Saya teringat sebuah kejadian yang cukup memalukan di tengah ceramah Buya Hamka di Masjid Raya Muhammadiyah yang terletak di tengah kota Padang. Kejadiannya berlangsung sekitar tahun 1975. Saat itu beberapa bulan menjelang Muktamar Muhammadiyah yang ke 39 yang akan berlangsung di kota Padang. Saya waktu itu boleh dikatakan setengah pengangguran, karena kadang bekerja sebagai kenek angkot yang di Padang waktu itu bernama City Express, dan kalau hari Jumat menjadi penjaga penitipan sendal/sepatu atau tukang parkir di pekarangan Masjid Raya Muhammadiyah itu.

Embedly Powered

 

click here to read more

Buya HAMKA Pemikir Modern Muslim Abad ke-20

Harian Umum PELITAHalaman Muka |Politik dan Keamanan |Ekonomi dan Keuangan |Metropolitan |Opini |Agama dan Pendidikan |Nusantara |Olah Raga |Luar Negeri |Assalamu’alaikum |Derap TNI-POLRI |Hallo Bogor |Dunia Tasawuf |Forum Berbangsa dan Bernegara |Swadaya Mandiri |Forum Mahasiswa |Lingkaran Hidup |Pemahaman Keagamaan |Otonomi Daerah |Lemb Anak Indonesia |Parlementaria |Budaya |Kesehatan |Pariwisata |Hiburan |Pelita Hati DATABASE:Rumah Sakit |Puskesmas Redaksi Harian PELITA:redaksi@pelita.or.id Copyright © 2003pelita.or.id design bygemari.or.id

Embedly Powered

via Pelita

Sekeras Baja Selembut Sutera

Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia – Sekeras Baja Selembut SuteraDewan Da’wah Islamiah Indonesia, Visi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia adalah untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang Islami dengan menggiatkan dan meningkatkan mutu da’wah di Indonesia \nMisi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia adalah: 1.Menanamkan Aqidah dan menyebarkan pemikiran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah 2.Membendung pemurtadan, ghazwul fikri dan harakah haddamah 3.Menyiapkan du’at untuk berbagai tingkatan sosial kemasyarakatan dan menyediakan saranadalam upaya meningkatkan kualitas da’wah 4.Membina kemandirian ummat dan menyadarkan mereka atas kewajiban da’wah 5.Mengembangkan jaringan kerjasama serta koordinasi ke arah realisasi amal jama’i 6.Membangun solidaritas Islam Internasional dan turut serta menciptakan perdamaian dunia

Embedly Powered

Memperjelas Posisi Hamka Soal Pluralisme Agama

Hidayatullah.com – “Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama”Oleh: Dr. Adian Husaini BELUM lama, pada 20 Maret 2012, salah satu peneliti INSISTS, Akmal Syafril, ST., M.Pd.I., menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme. Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama. Menurut penulisnya, pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafii Maarif yang dimuat di Rubrik Resonansi, surat kabar Republika, edisi 21 November 2006, yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”. Sebagian besar isinya adalah kutipan-kutipan dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. Di bagian awalnya, Syafii Maarif menjelaskan alasan di balik penelitiannya terhadap kedua ayat ini: “Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat al-Baqarah. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana.”

Embedly Powered

 

Mengagumi Hamka

Mengagumi HamkaKamis, 10 April 2008 | 01:36 WIB Tokoh oposisi Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, mengaku kagum kepada Buya Hamka. Itu dia katakan ketika tampil sebagai pembicara kunci pada seminar “Memperingati 100 Tahun Kelahiran Buya Hamka”, Selasa (8/4) di Jakarta. “Saya kenal dengan Buya Hamka sebagai sastrawan melalui perpustakaan kecil ibu saya. Semasa muda, karya Buya Hamka, seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Tashawwuf Modern (1939), dan Tafsir Al-Azhar (ditulis ketika Hamka dipenjara 1964-1966), menjadi bacaan utama saya. Bahkan, Tafsir Al-Azhar yang menemani saya dua kali di istana perkurungan (penjara),” katanya. Ketika di penjara, Anwar mencoba menerjemahkan bagian awal Tafsir Al-Azhar ke dalam bahasa Inggris. Namun, bahasa Buya Hamka terlalu kuat, nuansa peribahasa dan iklim Melayunya begitu “tebal” sehingga sukar baginya untuk menerjemahkan. “Buya Hamka, ulama yang saya hormati, seorang dai yang saya kagumi. Hamka itu tokoh besar, inklusif, toleran. Ia sangat paham karakter orang Melayu. Ia sosok penentang rezim yang ganas, zalim, dan terhadap demokrasi terpimpin dia tegas,” kata Anwar. Satu hal yang pasti, lanjutnya, “Karya sastra Buya Hamka berhasil membentuk diri saya.” (NAL)

Embedly Powered

via Kompas

Toleran dan Tegas Pada Tempatnya

Hamka bukanlah anak cengeng ataupun kutu buku yang tidak pernah menjalani kehidupan keras, sebagaimana diceritakan salah seorang sahabat masa kecilnya, Muhammad Zein Hassan di salah satu edisi majalah Panji Masyarakat. Hamka muda (dulu dikenal dengan nama Amka) dulu adalah anak nakal yang malang melintang di seantero Minangkabau, bahkan berkelana hingga ke lorong-lorong tambang di Sumatera Selatan. Bermain sepakbola keliling kampung, menyabung ayam. lontang-lantung dari kota ke kota dan berkelahi hingga tertikam pisau sudah pernah dilakoninya. Bahkan orangtuanya, walaupun dari kalangan ulama besar, sampai kehabisan akal bagaimana menangani kenakalan Amka. Guru-gurunya di sekolah pun sudah tidak peduli dengannya, atau bahkan sudah menganggapnya tidak ada. Continue reading

Gemar Menulis

Quote

Yang membuat Hamka menonjol dan sulit dicari bandingannya saat ini adalah keahlian dan kegemaran beliau menulis. Sehingga beliau bukan cuma dikenal sebagai pemuka agama Islam tetapi juga seorang sastrawan dan penulis. Selain karya besar Tafsir Al-Azhar ini, beliau juga telah menghasilan beratus karya tulis bermutu.