Hamka, Sang Pelepas Dahaga

Oleh S Sinansari Ecip

Hamka bercerita tentang suatu kali mengimami salat Subuh. Dia yang sangat Muhammadiyah kental, dengan lapang dada membaca doa Qunut, yang biasanya seperti ”diwajibkan” di kalangan Nahdlatul Ulama. Mengapa tiba-tiba Hamka menjadi orang NU? Ada apa gerangan? “Salah seorang yang makmum shalat Subuh itu ialah Kyai Idham Khalid,” ujarnya.

Dia menyebut tokoh NU dengan rasa hormat yang tinggi.  Artinya, ketika salat tersebut, tidak semaunya sendiri, meski Hamka imamnya. Dia menghormati ”anggota” yang berada di antara jama’ah.  Luar biasa.

Continue reading

Jiwa Besar Buya Hamka Terhadap Lawan Politiknya

Jiwa Besar Buya Hamka Terhadap Lawan PolitiknyaJiwa Besar Buya Hamka Terhadap Lawan Politiknya Pesan Terakhir Mr. Moh. Yamin dan Soekarno Menjelang Ajal serta Pesan Penting Pramudya Ananta Tur فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30). Rangkaian tulisan berikut adalah penggalan dari perjalanan hidup Prof. KH. Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka yang dikisahkan oleh putra kelima beliau, yakni KH.

Embedly Powered

click here to read more

Mari Kita Segarkan Kembali Ingatan

Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan.  Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar.  Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957.  Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.

Continue reading

Pertemuan Buya Hamka dengan Daud Beureueh

Sepengal Kisah Buya Hamka dan Beureueh di AcehPenulis artikel ini (tidak menyebutkan namanya) adalah sekretaris Buya Hamka, yang menyertai kunjungan Buya ke Aceh untuk menemui Daud Beurueh (di Beureunuen), Sesuai amanat yang diberikan oleh Presiden. Penulis menceritakan apa-apa saja yang penulis dengar dan lihat selama pertemuan tersebut berlangsung.

Embedly Powered

click here to read more

Sekeras Baja Selembut Sutera

Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia – Sekeras Baja Selembut SuteraDewan Da’wah Islamiah Indonesia, Visi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia adalah untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang Islami dengan menggiatkan dan meningkatkan mutu da’wah di Indonesia \nMisi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia adalah: 1.Menanamkan Aqidah dan menyebarkan pemikiran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah 2.Membendung pemurtadan, ghazwul fikri dan harakah haddamah 3.Menyiapkan du’at untuk berbagai tingkatan sosial kemasyarakatan dan menyediakan saranadalam upaya meningkatkan kualitas da’wah 4.Membina kemandirian ummat dan menyadarkan mereka atas kewajiban da’wah 5.Mengembangkan jaringan kerjasama serta koordinasi ke arah realisasi amal jama’i 6.Membangun solidaritas Islam Internasional dan turut serta menciptakan perdamaian dunia

Embedly Powered

Pemikiran Hamka tentang Politik

(Telaah Penafsiran Hamka dalam Tafsir Al-Azhar)
Oleh: Shohibul Adib, S.Ag. M.S.I.

A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah sumber utama dan fundamental bagi agama Islam, ia di samping berfungsi sebagai petunjuk (hudan) —antara lain dalam persoalan-persoalan akidah, syari’ah, moral dan lain-lain —juga berfungsi sebagai pembeda (furqān). Sadar bahwa al-Qur’an menempati posisi sentral dalam studi keislaman, maka lahirlah niatan di kalangan pemikir Islam untuk mencoba memahami isi kandungan al-Qur’an yang dikenal dengan aktivitas penafsiran (al-tafsir).

Dalam kaitanya dengan penafsiran al-Qur’an, manusia memiliki kemampuan membuka cakrawala atau perspektif, terutama dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang mengandung zanni al-dilalah (unclear ststement). Dari sini tidak dapat disangsikan terdapat penafsiran yang beragam terkait dengan masalah politik antara lain: pertama, yang menyatakan bahwa al-Qur’an memuat ayat-ayat yang menjadi landasan etik moral dalam membangun sistem sosial politik. Kedua, al-Qur’an sebagai sumber paling otoritatif bagi ajaran Islam, sepanjang terkait dengan masalah politik tidak menyediakan prinsip-prinsip yang jelas, demikian pula dengan as-sunnah. Ketiga, terdapat penafsiran yang menyatakan al-Qur’an mengandung aturan berbagai dimensi kehidupan umat manusia di dalamnya termasuk mengatur sistem pemerintahan dan pembentukan negara Islam. Salah satu dari sekian banyak penafsir yang ada adalah Hamka dengan karyanya Tafsir al-Azhar. Bagaimana epistemologi Hamka dalam usahanya menemukan, mengidentifikasi, dan menafsirkan prinsip-prinsip fundamental dari politik Islam sebagaimana yang terkandung di dalam al-Qur’an adalah pertanyaan yang akan dikaji dalam paper ini. Continue reading

Alhamdulillah… Buya Hamka dan Syafruddin Prawiranegara Jadi Pahlawan Nasional

Alhamdulillah… Buya Hamka dan Syafruddin Prawiranegara Jadi Pahlawan Nasional | Republika OnlineDalam hadis riwayat Ubaidillah bin Abu Thalhah RA. diri­wayatkan: ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi saw, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepada saya mengenai puasa yang di wajibkan Allah swt kepada saya?” Beliau menjawab, “Puasa Ramadhan”. ‘Laki-laki itu bertanya lagi, “Apakah puasa lain yang diwajibkan atas saya?” Nabi men­jawab, “Tidak, kecuali jika puasa sunah.” ( HR. Al Bukhari)

Embedly Powered

click here to read more

Buya Hamka, Pemberontak di Indonesia, Pahlawan Bagi Malaysia

Buya Hamka, Pemberontak di Indonesia, Pahlawan Bagi MalaysiaFaktor kedekatan geografis dan kesamaan bahasa antara Indonesia dan Malaysia, menjadikan keduanya dikenal dengan Negara serumpun. Di perbatasan, teruatama wilayah Riau Kepulauan, terjadi mobilitas yang sangat tinggi dari masing-masing. Jika dirunut jauh ke belakang, banyak kesamaan antara kedua Negara yang sebenarnya dapat saling mengisi satu sama lain. Tetapi seperti hubungan adik-kakak, terkadang hubungan ini harmonis, sering juga miris. Walaupun akhir-akhir ini sedang terjadi pergolakan politik di Malaysia, tapi aku sedang tidak membahas hal tersebut. Pada awal bulan Juli yang lalu, aku berkesempatan berkunjung ke Danau Maninjau di Sumatera Barat. Sekitar seminggu setelah kunjungan ke danau itu, terjadilah gejolak politik di Malaysia. Kemudian pada hari H (9 Juli) terjadinya demonstrasi besar itu, salah seorang keluargaku baru saja kembali dari Malaysia. Jadi, pekan pertamaku di bulan Juli ini dipenuhi dengan hal yang berbau Malaysia. Lalu apa hubungannya dengan Danau Maninjau yang indah itu? Begini ceritanya. Sedikit bercerita, sekitar beberapa bulan yang lalu, aku mengikuti Program Pertukaran Pemuda yang membuatku bertemu dengan Bang Ahmad Fuadi, tepatnya pada penghujung bulan Desember 2010. Pertemuan itu terjadi karena beliau adalah alumni dari program yang aku ikuti saat itu, yang kemudian program tersebut menjadi inspirasi lahirnya novel berjudul “Ranah 3 Warna”.

Embedly Powered

click here to read more