Mungkinkah Ada Wahyu Ilahi yang Tidak Masuk Akal?

(Dari Majalah Gema Islam No. 11 tahun ke-1 tanggal 1 Juli 1962)

Pertanyaan :

Bagaimana kedudukan sabda Nabi : “Agama ialah akal; tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal”.

Kalau hadits itu dihubungkan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, mungkinkah Wahyu Ilahi itu ada yang tidak ma’qul?

Jawaban :

Peristiwa Isra’ Mi’raj bukanlah tidak masuk di akal, bahkan bisa dikhayalkan oleh akal, tidak mustahil terjadi. Cuma mustahil menurut adat kebiasaan. Di dalam ini banyak perkara-perkara yang belum terterima pada mulanya oleh akal kita, karena belum diketahui rahasianya. Misalnya pada 150 tahun yang telah lalu kalau dikatakan manusia bisa menempuh dari Jakarta ke Mekkah dalam tempo satu malam saja, orang akan berkata bahwa itu belum termakan oleh akalnya, meskipun bisa terkhayal dalam fikirannya. Dan sekarang tidak ganjil lagi.

Di dalam pengajian Ilmu Akal dibagilah “Ujud” (yang ada) itu kepada beberapa bagian :

  1. Ujud Khariji
      Ada yang dapat disaksikan oleh pancaindera karena dia ada di diri kita
  2. Ujud Zihni
      Ada yang dapat dikhayalkan oleh fikiran kita, meskipun dia belum terjadi pada kenyataan. Misalnya orang terbang ke langit, atau gunung Gede menjadi emas, atau runtuh menjadi danau. Hal ini bukanlah mustahil pada akal, mesikpun mustahil pada adat.
  3. Ujud Ilmi
      Ada dalam pengetahuan, meskipun belum ada dalam kenyataan. Misalnya seorang arsitek menggambarkan terlebih dahulu dalam ingatannya berapa besar rumah yang akan didirikan, berapa semen terpakai, berapa paku, besi, kayu dan sebagainya, padahal rumahnya sendiri belum ada. Sebab itu maka alam sebelum terjadi, sudah ada dalam ilmu Allah ta’ala.

Maka kepercayaan orang Islam tentang adanya Isra’ dan Mi’raj, bukanlah mereka menganut suatu kepercayaan yang tidak masuk di akal, melainkan suatu kepercayaan yang mustahil kepada adat, karena belum pernah terjadi sebelumnya (saat ini sudah umum bahwa Makkah – Jerusalem hanya ditempuh dalam beberapa jam), tetapi dia dapat diterima oleh akal, sebab dapat dikhayalkan (dibayangkan dalam ingatan). Termasuk dalam lingkungan Ujud Zihni.

Seperti juga orang Islam mempercayai bahwa Nabi Isa al Masih lahir dari Maryam yang masih perawan belum pernah disentuh laki-laki manapun juga., karena kelahiran demikian dapat dikhayalkan dalam ingatan, cuma mustahil pada adat. Tetapi kita tidak dapat mempercayai bahwa Isa itu anak Allah, karena mustahil Allah, Tuhan yang Maha Kuasa, yang berkuasa mutlak, memerlukan seorang anak buat teman sejawatnya dan membagi kekuasaan dengan-Nya. Bahkan lebih tidak masuk akal lagi bahwa Dia akan beranak, karena kekuasaan mutlak ada di tangan-Nya maka anak-Nya ini tentu akan menganggur tanpa ada kekuasaan. Hal semacam ini mustahil untuk dibayangkan akan terjadi.

Oleh sebab itu maka pertanyaan saudara :
“Adakah wahyu Ilahi itu yang tidak ma’qul?”
Kita jawab dengan tegas:
“Tidak ada wahyu Ilahi yang tidak ma’qul”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *