RINGKASAN : Perbedaan Pandangan Hukum antara Isa a.s dan Muhammad s.a.w

(Dari Rubrik Dari Hati ke Hati di Majalah Panji Masyarakat)

Dari sidang Mahmilub yang mengadili Dr. Subandrio.  Buya Hamka menulis bahwa pembela Dr. Subandrio, Yap Thiam Hien, SH., mengajukan pembelaan dengan runtun dan langgam bahasa pendeta yang shaleh, suatu kisah dalam Injil mengenai seorang wanita yang tertangkap berzina.  Wanita ini dibawa orang kampung ke hadapan Nabi Isa a.s. (dalam bahasa beliau sebagai orang Kristen adalah Tuhan Yesus), dan orang-orang meminta dijatuhkan hukuman kepada wanita itu karena berkali-kali Nabi Isa mengutarakan bahwa baginda tidak hendak mengubah hukum Taurat tetapi menggenapkannya.  Nabi Isa, sesuai dengan hukum Taurat, menjatuhkan hukuman rajam bagi wanita itu, tapi dengan syarat bahwa hanya orang-orang yang tidak berdosa yang maju sebagai perajamnya.  Mendengar seruan ini, tidak seorang juapun yang maju bahkan satu per satu orang-orang itu pun pergi.  Buya Hamka menilai inilah pembelaan yang mengandalkan filsafat budi yang demikian mendalam dan disampaikan dengan bahasa yang lembut dan tulus.

Buya Hamka melanjutkan dengan menyampaikan tanggapan dari oditur militer yang mewakili negara.  Bahwa oditur telah membawa kita ke alam sekarang, alam tempat persidangan ini berlangsung, bahwa dirinya datang dengan membawa kekuasaan untuk mengadili.  Jika kejadian saat Nabi Isa itu dikiaskan pada persidangan seperti ini, pada mereka yang memang berkuasa menegakkan hukum, maka hukum tidak akan lagi pernah berjalan.  Pastilah semua orang jahat di dunia ini akan berlindung pada kisah Injil tersebut.  Atau mungkin Mahkamah Militer Luar Biasa ini dibubarkan saja, karena jelas, siapakah di antara kita yang tidak pernah bersalah.

Buya Hamka lalu menuliskan mengenai kisah wanita pezina yang ada dalam hadist shahih, yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad s.a.w.  Hanya bedanya, kisah wanita pezina di zaman Nabi Isa itu adalah wanita pezina yang tertangkap basah oleh masyarakat, sedangkan kisah wanita pezina di zaman Nabi Muhammad adalah wanita pezina yang datang mengakui perbuatannya kepada Nabi Muhammad dan minta dhukum rajam.

Rasulullah walau membenarkan tindakan wanita itu tapi tak lepas pula kasihan pada tindakannya yang membawa kepada kematian.  Ketika ditanya, mengapa dia harus mengakuinya di hadapan beliau sebagai pemegang kekuasaan sehingga akibatnya beliau harus menjatuhkan hukuman.  Wanita itu menjawab bahwa dia lebih baik merasakan hukuman di dunia dibandingkan mengambil resiko menerima hukuman di akhirat.

Kebetulan wanita tersebut hamil sebagai akibat perbuatan zinanya, maka Rasulullah pun menangguhkan hukuman itu hingga lahir anaknya, dan genap masa menyusui (2 tahun).  Beliaupun tidak pernah mencari wanita itu ketika selesai masa menyusui, tapi wanita itu yang datang kembali kepada beliau.

Dari dua penggalan kisah dalam Injil dan hadist itu, dapatlah kita ambil pelajaran.  Kita sebagai muslim mempercayai kenabian Isa al Masih sama dengan mempercayai kenabian Muhammad s.a.w.   Lalu apakah ada yang keliru dari tindakan kedua Nabi itu?  Tidak.  Nabi Isa saat itu bukanlah seorang pemegang kekuasaan, sehingga tidak berwenang menjalankan hukuman.  Kemudian beliau juga diturunkan di tengah-tengah kerusakan moral masyarakat yang mengaku berpegang pada hukum Taurat.  Oleh sebab itu, beliau juga ingin mendidik kaumnya agar tidak mempermainkan Taurat, dan segera memperbaiki sikap mereka tersebut.  Apalagi umumnya mereka sangat gemar menggali kesalahan orang lain sedangkan budi pekerti sendiri tidak dipedulikan.  Adapun Nabi Muhammad s.a.w., adalah seorang pemegang kekuasaan.  Beliau berwenang bahkan wajib untuk menjalankan hukum setelah terbuka di hadapan beliau suatu pelanggaran.  Apa jadinya jika seorang pemegang kekuasaan tidak lagi patuh menjalankan hukum?  Periode pembinaan boleh dikata telah mencapai hasilnya dengan berdirinya daulah Islamiyah di Madinah.  Mungkin saja berbeda jika hal itu disampaikan kepada Nabi Muhammad ketika beliau masih berada di Makkah sebelum hijrah, ketika kekuasaan masih ada di tangan para aristokrat Quraisy.  Posisi Nabi Isa ketika itu adalah sebagaimana Nabi Muhammad di Makkah, masih dalam periode pembinaan dengan kekuasaan masih ada di tangan para wakil Kekaisaran Romawi.

Buya Hamka menilai tepat bantahan yang disampaikan oleh oditur militer bahwa kisah wanita pezina dalam Injil tersebut tidak dapat dikiaskan dalam pengadilan ini.  Karena pengadilan ini merupakan perwakilan pemegang kekuasaan yang sedang mengadili seseorang yang dituduh bersalah.

One thought on “RINGKASAN : Perbedaan Pandangan Hukum antara Isa a.s dan Muhammad s.a.w

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *