Tuduhan Bahwa Islam Disiarkan dengan Pedang

(Dari Majalah Gema Islam No. 16 Thn I tgl 15 Sept 1962)

Pertanyaan oleh Rifki Muslim:
1. Bagaimana cara yang baik untuk menangkis tuduhan kalangan non-Islam bahwa Islam disiarkan dengan paksaan dan kekerasan (pedang) oleh raja-raja dan khalifah-khalifah Islam?

Jawab:
Tuduhan bahwa Islam disiarkan dengan pedang, atau dengan kekerasan, bukanlah berdasar ilmiah, tetapi suatu propaganda murahan yang ditebarkan oleh bangsa penjajah seketika mereka menguasai negeri-negeri Islam, yang pada waktu mereka berkuasa disokong atau sokong-menyokong dengan pihak missi dan zending Kristen.  Sisanya di dalam pikiran setengah bangsa kita karena mendapat pendidikan Barat yang masih mendalam sampai sekarang, walaupun Indonesia telah merdeka, walaupun kita bangsa Indonesia beragama Islam dengan bangsa Indonesia yang beragama Kristen hidup dalam toleransi yang sebaik-baiknya dalam Indonesia merdeka.

Kemajuan agama Islam yang begitu mengagumkan, bukanlah karena disiarkan dengan kekerasan, tetapi adalah semata-mata oleh karena ajaran Islam, baik ‘aqidahnya atau ‘ibadah-nya itu sendiri praktis dan dapat diterima akal.

Penyebaran kekuasaan Islam di negeri-negeri yang mengelilinginya, yaitu Kristen Rumawi yang menguasai Arab Utara di zaman permulaannya dan Kerajaan Persia Majusi di sebelah Tlmur Arabia adalah ditunggu dan dielu-elukan oleh penduduk setempat, walaupun penduduk setempat itu sama-sama beragama Kristen dengan bangsa yang menjajahnya. Buktinya masih dapat dilihat sampai sekarang ini. Di Suriah dan Lebanon ada penduduk pemeluk Kristen yang tidak pernah melepas agama itu sejak zaman Nabi SAW dan khalifah-khalifahnya.

Qrang Koptik Mesir sampai sekarang masih memegang teguh agamanya, mendapat perlindungan dari penguasa Islam, sebab ada Sabda Nabi: ”Man azaa zhimmian, faqad azhaani” (Barangsiapa yang menyakiti zhimmi samalah artinya dengan menyakiti dirku sendiri).  Zhimmi adalah kelompok masyarakat beragama non-Islam yang sudah menyatakan taat kepada penguasa Islam.

Kalau Islam memang disiarkan dengan kekerasan, sudah lama pemeluk Kristen di wilayah-wilayah itu habis musnah.  Sebagaimana habis musnahnya dengan kekerasan oleh Kristen, ummat Islam di Spanyol yang pernah menguasai negeri itu selama 700 tahun.

Tersebutlah sebagai fakta sejarah, bahwasannya setelah kekuasaan Islam menguasai negeri Mesir, orang-orang Koptik berduyun-duyun memeluk Islam, sehingga jumlah uang jizyah yang masuk menjadi berkurang.  Lalu Gubernur Mesir mengeluh dan mengadukan hal tersebut kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz.  Katanya kalau hal ini berlarut-larut, niscaya jizyah ini akan sangat mundur.  Khalifah Umar bin Abdul Aziz malah memarahi gubernur tersebut dalam surat balasannya, “Jangan engkau hambat mereka masuk Islam, karena Nabi kita SAW diutus Tuhan bukanlah untuk memungut pajak, tetapi buat memberikan petunjuk jalan yang benar”.

Oleh karena itu di zaman sekarang masih saja orang beranggapan bahwa suatu fakta hanya bisa dikatakan ilmiah apabila ada sokongan dari sarjana-sarjana Barat, di sini akan kami kemukakan beberapa kesaksian dari sarjana-sarjana Barat itu, yang oleh karena berkhidmat kepada kebenaran, tidak mau terpengaruh oleh propaganda murahan tadi.

Sir Thomas Arnold, seorang orientalis Inggris, Guru Bahasa Arab di University of London, Profesor Filsafat di Aligargh University dan Profesor di Government College di Lahore, bertahun-tahun lamanya mempelajari secara ilmiah mengenai tersebarnya Islam yang sangat mengagumkan ini, lalu beliau mendapat kesimpulan yang bersifat ilmiah, yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa kepesatan kemajuan Islam bukanlah karena dipaksakan dengan kekerasan tetapi disambut dengan gembira dan sukarela oleh bangsa-bangsa yang menerima Islam itu sendiri. Buah penyelidikannya ini disusunnya menjadi sebuah buku bernama “Preaching of Islam”.

Buku beliau ini telah berulang cetak, pertama pada tahun 1896 di Aligargh, kedua di London tahun 1913 dan ketiga di Cambridge (London) 1935. Disalin ke dalam bahasa Arab (cetakan kedua 1957) oleh Dr. Hasan Ibrahim Hasa dkk, diberi nama “Ad-Da’watu ilal Islam (Dakwah kepada/menuju Islam) sebagai kenang-kenangan kepada Dr. Sir Theodore Morison yang mempelopori cetakan pertama (tebal terjemahan berbahasa Arab itu 515 halaman).

Dalam buku itu Sir Thomas Arnold mengemukakan fakta-fakta sejarah yang kuat, bahwa tersebarnya Islam bukan dengan kekerasan, melainkan karena isi ajarannya dapat diterima orang.

Jika Prof. Arnold mengemukakan fakta-fakta ini, bukanlah berarti bahwa beliau menjadi Islam, dia tetap Kristen, tetapi orang Kristen sejati bisa saja sama dengan orang Islam sejati yaitu tidak mau memungkiri kebenaran.

Seorang pendeta Kristen bernama Azin Palacius, yang sangat saleh dalam agamanya, menjadi penyelidik Islam pula, dengan terus terang mengakui, “Kekerasan dan pedang bukanlah faktor utama yang menyebabkan Islam tersebar begitu cepat.  Itu hanya faktor kedua saja”.

Kalau kita pikirkan bahwa beliau adalah seorang pendeta yang dihormati dalam agamanya, bagi kita pengakuan beliau itu sudahlah patut disebut amat maju.

Robertson pengarang “Sejarah Hidup Charlemagne” menulis demikian, “Hanya kaum muslimin yang dapat mengumpulkan rasa toleransi agama dengan semangat penyebaran agama.  Meskipun mereka membawa senjata untuk menyebarkan ajaran Nabi mereka, namun mereka tetap memberi kebebasan kepada orang yang tidak suka memeluk agama yang mereka bawa dan tetap setia memeluk agama mereka yang lama”.

Di Zaman Umar bin Khattab
Menulis Michaud di dalam bukunya “Sejarah Perang Salib”, sebagai berikut, “Muhammad telah melarang panglima-penglima perangnya membunuh pendeta-pendeta karena mareka adalah orang yang melakukan sembahyang kepada Tuhan. Seketika Umar masuk ke Palestina, tidaklah disakitinya orang Nasrani. Tetapi seketika orang Nasrani masuk kota itu (di waktu Perang Salib) maka dibunuhlah orang Islam dan dibakarlah orang Yahudi.

Kita tambahkan pertanyaan, “Berapakah orang Islam yang dibunuh ketika kaum Salib menaklukkan Palestina?’

Jawabnya : “70.000 (Tujuhpuluh Ribu) orang.

Dari sumber sejarah orang Nasrani sendiri terdapat bahwa seketika Umar masuk ke negeri itu, setelah sampai ke gereja Qiamat yang terkenal itu, datanglah waktu sembahyang. Maka Petrike (patriach) penjaga gereja itu mempersilahkan beliau masuk sembahyang di dalamnya. Tetapi Umar menolak tawaran penghormatan itu, beliau berkata, “Jika aku sembahyang di dalamnya nanti pengikutku akan menganggap gereja ini milik Islam dan bisa saja mengambilnya. Jadi lebih baik saya sembahyang di luar saja”.

Cobalah bandingkan catatan ini dengan catatan yang dibawa oleh Orientalis Cara de Vaux, yang disalinkannya dari catatan Pendeta Lepoui Remon Egel, bahwa 10.000 orang Islam yang lari berlindung diri ke dalam Masjid Umar di Baitul Maqdis seketika tentara Salib masuk, “Darah telah ditumpahkan dengan cara yang amat mengerikan dalam Haikal Sulaiman itu, sehingga bangkai orang yang mati terbunuh berserak berkeping-keping di lantai masjid. Tangan dan kaki, lengan-lengan bergerak-gerak di sana-sini. Seakan-akan memohon minta disambungkan dengan tubuh asalnya, namun jika disambungkan tidaklah sesuai lagi. Begitu banyaknya potongan tubuh itu bahkan tentara Salib yang berkeliaran haus darah itupun akhirnya tidak tahan lagi oleh bau darah dan mayat tersebut.”

Catatan ini adalah dari sarjana Barat sendiri.

Yang mati dalam masjid 10.000 dan dengan yang di luar 70.000.

Amr bin ‘Ash Menaklukkan Mesir
Menulis Rene Groset dalam bukunya “Sejarah Asia” sebagai berikut, “Telah didapat saling pengertian mendalam di antara Pendeta Kristen terbesar Koptik Muqauqis dengan balatentara Arab yang masuk untuk mengusir bangsa Romawi. Maka setelah balatentara Arab itu melewati Suez (belum ada Terusan waktu itu) di bawah pimpinan Amr bin ‘Ash, memberontaklah sekalian rakyat Koptik terhadap penjajahan bangsa Romawi itu, dan dengan gembira menyambut bangsa Arab itu, yang mereka anggap sebagai tentara pembebas. Lantaran itu pertahanan Romawi runtuh dengan sendirinya, karena telah tenggelam dalam semangat rakyat yang berduyun-duyun menyambut pembebasnya, sehingga hanya sebentara balatentara Romawi bertahan, lalu mengaku tunduk.

Meskipun jizjah yang dibayar kira-kira 15 franc-emas setahun, namun itu adalah 100 kali lebih murah daripada yang harus mereka bayar kepada penjajah mereka sebelumnya, bangsa Romawi yang sama-sama Kristen. Dan di zaman ‘Umar bin Abdul Aziz, mereka berduyun-duyun masuk Islam, padahal setelah Islam kalau mereka mengeluarkan kewajiban zakat, mereka harus membayar kadang-kadang berlipat ganda daripada yang harus mereka bayar sebagai jizyah kalau mereka masih Kristen.

Di Zaman Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan
Tentang Khalifah Mu’awiyah yang membangunkan dinasti Bani Umayah di Damaskus, berkata pula Orientalis K. Hauar, “Sikap toleransinya terhadap pemeluk agama Kristen, yang hampir seluruh penduduk Syria waktu itu memeluk agama itu, telah menyebabkan simpati yang mendalam dari pemeluk agama itu terhadap beliau” (Sejarah Arab, Paris 1912 – 1913).

Khalifah Bani Umayah yang terkenal, Abdul Malik bin Marwan, ketika membangunkan masjid Umar (di Palestina) yang terkenal sampai sekarang, telah mendapat bantuan dari pemuka-pemuka Kristen setempat, karena sikap toleransi baginda yang mereka rasai.

Thariq bin Ziyad memasuki Spanyol
Mengapa demikian mudah Thariq memasuki negeri itu?  Seakan-akan tidak ada perlawanan? Benarkah Islam disebarkan disana dengan kekerasan? Masuknya kekuasaan Islam ke negeri begitu mudah adalah karena kebobrokan dalam negeri itu sendiri, karena rakyat telah sangat lama menunggu kedatangan pembebas, mereka menunggu keadilan. Kaum feodal dan pendeta-pendeta dan  kepala-kepala perang hidup dalam kemewahan dan menghisap darah rakyat jelata, menguasai tanah-tanah yang subur.  Orang Jahudi tersiksa lahir dan batin, dan moral orang besar-besar amat runtuh.  Seorang bangsawan Spanyol, Count Julian, menjadi sangat sakit hati kepada Roderick Raja Spanyol, karena puterinya yang cantik bernama Florida telah diberi malu, diperkosa dan dirampas dari tangan ayahnya.

Count Julian sendiri yang membuka pintu negerinya buat menerima kedatangan Thariq bin Ziyad meminta gabungan tentara Arab dan Barbar Islam, dan Count Julian sendiri tewas dalam perang itu. Sebab dia turut dalam perang itu, di dalam barisan penakluk. Dan dia tidak menukar agamanya.

Kalau tidaklah toleransi Islam, tidaklah dia akan sanggup menegakkan peradaban dan kebudayaan Islam sampai 700 tahun dalam negeri Spanyol itu.

Ceritera ini pun ada dalam catatan orang Kristen sendiri.  Propaganda yang murah sengaja melupakan atau menghilangkan kesan-kesan itu, Julian hanya dituduh pengkhianat, dan orang tidak hendak mengakui fakta sejarah apa sebab dia berkhianat.  Lalu dibuat saja “ilmiah” bahwa Islam disiarkan dengan pedang.

Khalifah Harun Al Rasyid dengan Charlemagne
Toleransi di antara raja terdapat antara Khalifah Harun Ar Rasyid dengan Kaisar Charlemagne yang dipandang Kaisar Suci oleh dunia Kristen.  Ketika itu kejayaan dan kemegahan Baghdad menjadi laksana negeri-negeri Islam sekarang memandang New York, Paris, London.  Utusan Kaisar yang datang menghadap Khalifah telah pulang dengan bangga ke negerinya (sebagaimana kebanggaan orang-orang negeri kita sekarang bila baru saja pulang melancong ke New York, Paris, London), membawa balas bingkisan sebuah jam yang dijalankan dengan air, dan seekor gajah lengkap dengan pelana indahnya, yang menyebabkan Kaisar keheran-heranan melihatnya baik jamnya ataupun gajahnya.  Sebab gajah belum banyak dikenal masa itu di Eropa.

 

Dengan mengemukakan beberapa fakta yang dikemukakan oleh penyelidik-penyelidik Barat ini, dapatlah Sdr.Rifki Muslim memahaminya dan sebagai pelajar SMA kita harapkan dia akan memulai study tentang kebenaran fakta sejarah ini, jangan turut terpesona oleh “ilmiah murah” sisa pendidikan jajahan yang masih belum habis walaupun Indonesia telah merdeka.  Sungguh fakta-fakta yang kita kemukakan ini tidaklah akan berjumpa kalau pendidik kita masih berlatar sistim penjajahan.

Keterangan Goustave Le Bon
Goustave Le Bon pengarang Prancis yang terkenal menulis dalam “Civilization of Arab” sebagai berikut, “Tersebarnya Al Qur’an sekali~kali bukanlah karena disebarkan dengan kekerasan.  Orang Arab telah membiarkan bangsa yang ditaklukkannya menjalankan agamanya dengan bebas.  Jika orang-orang Kristen pindah langsung memeluk Islam, agama dari bangsa yang menaklukkannya itu, sebabnya hanyalah karena si pemenang baru itu memperlihatkan nilai keadilan memerintah yang jauh lebih tinggi dari yang dilakukannya oleh yang dipertuan mereka yang lama.  Apatah lagi agama bangsa yang menang itu adalah lebih praktis, satu masalah yang belum pernah dikenal oleh orang Kristen sebelumnya. Qur’an tidaklah dipaksakan, tetapi dia memberikan alasan yang dapat dimakan akal.  Dengan alasan-alasan yang masuk akal itu sajalah dia dapat menarik bangsa-bangsa lain hattapun bangsa-bangsa yang telah pernah mengalahkan orang Arab sendiri, yaitu bangsa Turki dan bangsa Mongol.  Al Qur’an telah tersebar luas di India, walaupun orang Arab sendiri datang sebagai pedagang.  Padahal masa ini pemeluk Islam di India tidak kurang dari 50 juta, dan kian lama kian bertambah. Meskipun Inggris yang sekarang menjadi tuan di India itu telah menyusun missi Kristen yang teratur untuk mengkristenkan mereka, namun hasil usaha mereka tidaklah sebagai yang mereka harapkan.  Dan tersebarnya Qur’an di Tiongkok tidak pula kurang pentingnya, padahal orang Arab hanya memasuki bagian yang kecil saja dari negeri “anak langit” itu. Pemeluk Islam di sana tidak kurang dari 20 juta”.  Sekian Goustave Le Bon.

Bukunya ini beliau tulis pada tahun 1884, dan sekarang ummat Islam yang mendirikan negara Pakistan saja tidak kurang dari 75 juta dan yang tinggal dalam Republik India 40 juta.

Penyebaran Islam di Indonesia
Dalam pasal XIII dari bukunya “Penyiaran Islam” itu Sir Thomas Arnold menguraikan panjang lebar tentang tersebarnya Islam di Kepulauan Melayu (sekarang melingkungi Republik Indonesia, Semenanjung Tanah Melayu dan Philipina), dari halaman 401 sampai 448.

Dengan segala dokumen sejarah yang lengkap beliau menjelaskan bahwa kemajuan Islam di daerah-daerah ini tidaklah dilakukan dengan pedang, malahan beliau berkali-kali mengemukakan “tekanan” penjajah Barat yang kerapkali memaksa raja-raja Islam memeluk Kristen.  Tetapi ada yang “kembali ke Islam” karena kuatnya da’wah Muballigh Islam, sebagai kejadian keluarga Raja Monopo di Bolaang Mongondouw. (hal. 437).

Dapatlah kita renungkan bagaimana pula tersebarnya Islam di Indonesia.

Lebih 1.000 tahun negeri-negeri ini dipengaruhi agama dan kebudayaan Hindu, sampai jatuhnya kerajaan Majapahit, di tahun 1528. Padahal penjajahan Barat telah mulai masuk ke Malaka (Portugis, 1511) dan Jawa (Belanda, 1596), sehingga nafas lega merdeka yang sebenarnya tidak lama dirasai, tidak cukup satu abad, namun Islam tetap tersebar. Dia berkembang terus, walaupun di zaman penjajahan ummat Barat Kristen yang mempunyai Organisasi Penyebaran Agama yang amat teratur. Sehingga A.W.F. Idenburg, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1909-1916), pernah menyatakan kekecewaan hatinya mengapa bangsa Indonesia ini tidak juga meninggalkan Islam dan memeluk Kristen, padahal sudah sekian lama mendapat didikan Barat.

Adakah agaknya bukti sejarah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, yang menyatakan bahwa kepesatan tersebarnya Islam di Indonesia disebarkan dengan kekerasan atau pedang?

Dicoba orang hendak “mengilmiahkan” bahwa Majapahit runtuh karena didesak dengan pedang oleh Islam.

Ini pun hanya laku dalam suasana “perang propaganda” semata!  Adalah suatu kenyataan sejarah bahwa Islam telah tersebar di Jawa Timur sejak abad ke duabelas!  Adalah satu kenyataan sejarah bahwa Bupati-bupati Islam di Jawa Timur mendapat pengakuan dari Kerajaan Majapahit.  Adalah satu kenyataan sejarah pula bahwa setelah Kerajaan Islam berdiri di Demak (sesudah Giri), Ratu Majapahit Prabu Udara telah membuat hubungan-hubungan rahasia dengan penjajah Portugis yang ada di Malaka, padahal Demak pernah mengirimkan Armada ke Malaka di bawah pimpinan Patih Unus buat memerdekakan Malaka kembali dari tangan Portugis.  Sebelum penjajahan Portugis masuk ke tanah Jawa, karena pintunya telah dibuka oleh Ratu Majapahit, akan disalahkan jugakah jika Demak mengambil tindakan?

Di Jawa Barat pun demikian pula. Kerajaan Pajajaran telah membuat mufakat dengan Portugis, sehingga telah didirikan oleh Portugis bentengnya di Sunda Kelapa. (kemudian bernama Jayakarta).  Adakah salah jika Sultan Trenggono Demak segera mengambil tindakan mengirimkan Panglima Perangnya yang ulung Fatahillah atau Falatehan cepat-cepat merebut Sunda Kelapa dan mengusir Portugis, dan memerangi Kerajaan Pajajaran, sehingga Ratunya tewas dalam peperangan itu?

Perang meruntuhkan Majapahit dan Pajajaran itu bukanlah penyebaran Islam dengan pedang, tetapi memundurkan penjajahan Barat dari Indonesia buat 100 tahun lagi!  Kalau bukanlah karena maksud-maksud politik “jangka pendek” tidaklah orang akan sampai hati membawa-bawa peperangan Demak dengan Majapahit dan Pajajaran itu ke dalam lingkungan “Perang Agama”.  Kerajaan-kerajaan Hindu itu rupanya lebih suka bersekongkol dengan orang Portugis, bangsa asing, daripada Kerajaan Islam yang didirikan oleh bangsanya sendiri, meskipun kerajaan bangsanya sendiri itu didirikan oleh keluarganya sendiri (Raden Patah adalah keturunan Ratu Majapahit).

Dan orang pun kadang-kadang sengaja mengecilkan sejarah apa yang berlaku di Kerajaan Ternate (Maluku), yaitu setelah Sultan Khairun membuat perdamaian dengan gubernur Portugis De Mesquita, dengan bersumpah De Mesquita menjunjung Kitab Injil dan Sultan Khairun menjunjung Al-Qur’an.  Sehari sehabis perjanjian Sultan dijamu makan ke dalam benteng Portugis, sampai di  sana, sedang dalam pesta, baginda dibunuh.

Kita dahulu dijajah, kita tak dapat bicara, karena sejarah yang “resmi” adalah di tangan penjajah.  Salah-salah menulis sejarah ada harapan ke Digul!

Toleransi lslam tetap kita pegang sampainya kepada zaman merdeka ini.

Arnold Toynbee, ahli sejarah lnggris yang terkenal itu setelah datang ke Indonesia tahun 1956, mengagumi toleransi Islam itu, beliau kagum melihat gereja-gereja yang indah dan megah berdiri di ibukota Republik di Jakarta.

Apakah beliau tahu bahwa tanah-tanah strategis diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda kepada pembangun gereja dan mesjid-mesjid bangsa terjajah hanya berdiri pinggir kota atau di dalam lorong yang becek? Tidaklah rupanya Toynbee sampai menganalisa sejauh itu?

Sesudah selama ini ummat Islam dituduh fanatik, sekarang datang bujukan, setelah negeri-negerinya merdeka, bahwa mereka adalah mempunyai toleransi, sebab itu tanah-tanah yang bagus letaknya dipaksa secara halus memberikannya untuk mendirikan gereja.   hal itu tepatlah apa yang pernah dikatakan oleh Count Henry Du Castri, Orientalis Perancis, pemeluk agama Katholik, “Agama Islam tidaklah disebarkan dengan paksa dan kekerasan, sebagai tuduhan golongan tertentu, tetapi yang lebih dekat kepada kebenaran ialah jika dikatakan bahwa sikap damai kaum Muslimin dan kemurahan hati mereka, itulah sebab terpenting yang menjadikan jatuh kedaulatan mereka”.

Kepesatan agama Kristen di tanah air kita tidaklah menimbulkan kesal kita, terutama kalau setelah merdeka ini tangan alat imperialisme dan kolonialisme tidak lagi mencampurinya.  Sebagai contoh yang ditinggalkan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya terhadap pemeluk agama Nasrani dan Yahudi yang hidup di bawah kekuasaan Islam, begitu telah kita lakukan kepada saudara setanah air yang berbeda agama, dan akan begitu terus Insya Allah.  Tetapi kita yang sebangsa harus waspada, jangan sampai perbedaan agama dijadikan oleh bangsa-bangsa asing buat memecah kita.

Dan ummat Islam sendiri, di samping toleransi, hendaklah menggiatkan da’wah.  Toleransi tanpa da’wah artinya ialah  kehilangan pengaruh Islam dari tanah air kita.  Bila Islam telah pengaruh hilang, pamor bangsa dan negara pun hilang pula, maka mudahlah bagi bangsa penjajah buat menjajah kita kembali.  Meskipun penjajahan Belanda pergi kikis habis, tinggallah di sini “pikiran  kebelandaan”, sebagai yang diharapkan oleh Prof. Snouck  Hurgronje, “ahli mencari segi-segi kelemahan ummat Islam Indonesia yang amat ternama itu.

2. Kalau hal ini tidak benar, mengapa tumbuh anggapan demikian, dan apa sebabnya?

Kalau kita sudi memudiki sejarah Islam sampai kepada sumber asli, yaitu Al Qur’an dan sikap hidup Nabi SAW ( sunnah) sendiri, akan bertemulah kita air yang jernih sajak yang landai.  Sebagaimana dijelaskan oleh Sir Thomas Arnold dalam bukunya “Da’wah kepada Islam” atau keterangan Count Henry Du Castri sebagai yang telah kita salinkan terlebih dahulu,  kelapangan dada dan statusnya itulah yang telah menoepatkan tersiarnya, bukan kekerasan.  Bahkan Du Castri sebagai orang Kristen yang adil dan insaf berkata, bahkan karena sangat tasamuhnya itulah yang kerapkali menyebabkan jatuhnya kekuasaan Islam.

Cobalah baca Surat Al Maidah ayat 82.  Di sana terdapatlah penghargaan yang besar sekali terhadap pemeluk agama Kristen.  Dikatakan dalam ayat itu bahwa yang banyak memusuhi Islam adalah orang Yahudi.  Adapun orang Kristen adalah lebih dekat rasa saling mengertinya dengan Islam.  Diterangkan sebabnya maka demikian, ialah karena dalam kalangan Kristen terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang tidak menyombongkan diri.  Bahkan kalau mereka mendengarkan ayat-ayat wahyu yang dibacakan oleh Rasulullah SAW berlinang-linanglah air mata mereka karena mereka telah mengenal kebenaran. Sampai berkata: Ya Tuhan kami, kami percaya akan wahyu itu, maka tuliskanlah kami dalam daftar orang yang turut menyaksikan”. Kemudian itu mereka berkata pula: “Bagaimana kami tidak akan percaya kepada Allah, dan bagaimana kami tidak akan percaya kepada kebenaran yang akan dibawa kepada kami itu, bahkan bagaimana kami tidak akan ingin dimasukkan Tuhan ke dalam golongan orang yang saleh!  Bahkan selanjutnya sampai kepada ayat 85 dengan tegas Tuhan menjanjikan bahwa pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang semacam itu pasti akan masuk ke dalam syurga dan kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas orang yang sudi berbuat baik.

Paksaan supaya orang Kristen memeluk Islam tidak ada dalam Al Qur’an dan tidak ada sikap Nabi atau sahabat-sahabatnya.  Dalam Qur’an sendiri yang terdapat hanyalah seruan kesadaran diri.  Yang terdapat hanyalah kata “Ta’alau…”  Mari ke mari.  Mari kita kembali kepada titik pertemuan di antara kita:

“Katakan wahai orang-orang yang keturunan ahli Kitab, marilah bersama-sama kita kembali kepada kata yang sama di antara kami dengan kamu, yaitu bahwa kita tidak memuja kepada yang selain dari Allah dan kita sama-sama tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu jua pun dan tidak pula setengah kita mendewa-dewakan yang lain, selain Allah”.

(Surat Aali Imran ayat 63)

Utusan-utusan pendeta dari Najran diterima baik dan dihormati seketika datang ke Medinah.

Islam menghormati Nabi Isa dan mempertahankan kesucian ibunya Siti Maryam.  Dalam 25 Rasul sebagai tiang kepercayaan Islam, termasuklah Nabi Isa.  Kitab Injil termasuk dalam bilangan empat kitab yang dipercayai.  Isa dilahirkan ke dunia atas kehendak Ilahi, tidak dengan melalui jalan biasa, yaitu memakai Bapak dan Ibu.  Itu adalah alamat kekuasaan mutlak Maha Tinggi dari Tuhan Allah.  Tetapi Islam selalu memberi kesadaran kepada saudaranya ummat Kristen, bahwasanya memandang Isa sebagai anak Allah, atau adalah Allah sendiri menjelma ke dunia sebagai anak tunggal dari Dia sendiri, atau mengatakan bahwa Allah dan Isa dan Ruhul Kudus, adalah tiga Tuhan yang satu, dan satu Tuhan yang tiga tidaklah ajaran Nabi Isa.

Tidak ada Nabi Isa mengajarkan yang demikian itu dan tidak pula Rasul-rasul Tuhan yang sebelumnya.  Kepercayaan demikian hanyalah “keputusan sidang”, lama sesudah Nabi Isa wafat, yang terkenal dengan sebutan Keputusan Nicosia (Konsili Nicaea).  Mengapa keputusan sidang pendeta, yang tidak pula suara bulat mengubah prinsip kepercayaan asli Tauhid?

Sungguhpun kepercayaan “Trinitas” itu dibantah keras oleh Islam dan dijelaskan bahwa itu adalah kepercayaan orang dulu-dulu (zaman berhala) “Asathiril Awwalin” yang diperkristenkan.  Sama saja dengan kepercayaan Hindu tentang Brahma, Wisnu dan Syiwa.  Sungguhpun Islam memberi ingat bahwa kepercayaan itu telah berubah sama sekali daripada yang diajarkan oleh Isa, dan tidak tersebut sebagai nash yang jelas dalam kitab-kitab suci, kecuali kalau dita’wilkan atau diputar-putar artinya; sungguhpun demikian, namun kepercayaan adalah lain dan pergaulan lain pula.  Beribu-ribu orang Kristen dapat perlindungan dalam pemerintahan Islam, namun pergaulan tetap baik.  Ahli-ahli Kristen kerapkali diikut sertakan dalam pembangunan Kebudayaan Islam. Ahli Syair Kristen yang bernama Akhtal, menjadi pujangga Istana di zaman Mu’awiyah dan puteranya Yazid.  Tabib Kristen yang besar, Jibril bin Bakhtisyu’ anak beranak menjadi tabib dalam istana Harun Al Rasyid.  Bahkan seketika Jibril akan meninggal dunia, Sultan Harun Al Rasyid mengajaknya supaya mati dalam Islam saja, dengan segala hormatnya dia telah menolak, karena dia akan berpegang teguh dalam agama yang diyakininya sejak nenek-moyangnya sampai dia masuk liang lahad.  Malahan dalam Kerajaan Turki Usmani, beberapa orang rakyatnya telah diangkat menjadi duta-duta Besar Istana raja-raja Eropa.

Bahkan kalau bukanlah karena tasamuh dan kelapangandada Islam, tidaklah agaknya dia akan sanggup menguasai Andalusia sampai 700 tahun.

Tasamuh itu menjadi rusak binasa adalah sesudah perang Salib yang terkenal itu. Yaitu sesudah kaum pendeta-pendeta menghembus-hembuskan semangat permusuhan kepada Islam, sebagaimana kebiasaan propaganda perang yang penuh dengan kedustaan.  Sampai dikatakan bahwa orang Islam itu adalah penyembah berhala, dan berhala itu bernama Mahomet atau Tarfagant, terletak di dalam Ka’bah.  Bahwa Muhammad itu mengharamkan babi, sebab di waktu kecilnya  dia disusukan oleh seekor babi.  Bahkan kalimat “MUHAMMAD” ini disamakan rumpun bahasanya dengan “MAHOUND” yang dalam bahasa Jerman kuno artinya ialah anjing.  Dan berbagai ragam propaganda penghinaan lain.

Perang Salib itu sendiri setelah berjalan 200 tahun akhirnya gagal sama sekali. Pahlawan-pahlawan fanatik agama itu pulang ke negerinya setelah melihat apa hakikat masyarakat Islam yang sebenarnya.  Tetapi dendam kesumat sudah berlarut-larut.  Perang Salib juga yang menimbulkan luka yang amat mendalam di kalangan Kristen sampai sekarang ini.

Goustave Le bon menulis: “Satu di antara hasil buruk Perang Salib itu ialah dunia yang telah diliputi kesempitan dada beragama berabad-abad lamanya.  Dunia telah dicat oleh kenistaan yang tidak pernah diajarkan oleh agama, selain agama Yahudi; penuh dengan kekasaran dan kelaliman. Meskipun sebelum perang Salib itu kefanatikan itu telah besar juga, namun dia belumlah sampai kepada kekasaran dan kenistaan yang sebesar setelah terjadi perang Salib itu, yang sampai kepada zaman kita ini belum juga habis-habisnya.  Telah menjadi kebiasaan bagi kepala-kepala agama itu memaksakan kepercayaannya dan menyapu habis setiap orang yang dipandang bid’ah, sebagai memusnahkan orang-orang kafir saja.  Mereka berpendapat bahwa menyeleweng sedikit saja dari apa yang diwajibkan oleh gereja, hendaklah disiksa dengan siksaan yang amat ngeri.  Dan sebagai akibat dari kepicikan dada sisa perang Salib itu terjadilah nasib yang sangat buruk yang diderita oleh orang Yahudi dan golongan Begua dan setiap orang yang dituduh tukang bid’ah, sampai didirikan Mahkamah Penyelidik Kepercayaan (lnquisition) dan perang-perang yang amat kejam, yang telah menyiram benua Eropa dengan darah bertahun-tahun lamanya”. Sekian kita salin Goustave Le Bon dalam bukunya “Peradaban Arab.”

Jadi, kalau hendak mencari penyebaran agama dengan paksaan, jaranglah akan bertemu dalam riwayat penyiaran Islam, tetapi hanya akan bertemu di Eropa Kristen sendiri sesudah Perang Salib. Ingatlah berapa darah telah tertumpah ketika terjadi pertentangan Katholik dengan Protestan.  Ingatlah betapa kejamnya “Malam Bartholomeus” yang terkenal.  Bahkan setengah dari sebab pindah bondong ke Amerika di tahun-tahun 1620 adalah karena ada golongan yang tidak tahan lagi dengan paksaan-paksaan agama ini.  Itulah yang berlayar dengan kapal “Mayflower” terkenal itu.

Bahkan paksaan-paksaan agama yang amat kejam inilah yang menjadi salah satu sebab timbul pemikir-pemikir sebagai Voltaire, Rousseau, dan Montesquieu dan lain-lain, sehingga timbul Revolusi Perancis, bahkan inilah yang menyebabkan timbulnya idea “Secularisme”, pemisahan agama (gereja) dengan negara.

Sedangkan di antara orang Eropa sesama Eropa lagi demikian hebat dan dahsyat pembunuhan-pembunuhan dan siksaan karena paksaan agama, sampai ketika Napoleon datang menaklukkan Spanyol telah disuruhnya bongkar gereja-gereja yang menyimpan alat-alat penyiksa, pencabut lidah, pematah tulang, tong memakai paku dan lain-lain untuk menyiksa orang-orang yang tertuduh “melanggar ketentuan agama”.  Apatah lagi terhadap negeri-negeri yang berbeda agama, setelah mereka (orang Eropa ) datang menjajah negeri-negeri Islam.

Maka sejalan dengan dengan lanjutan Perang Salib lama timbullah Perang Salib baru, dan dikerahkanlah tenaga-tenaga “ahli-ahli” yang disebut Orientalis, kerjasama dengan pendeta-pendeta, ataupun Orientalis itu sendiri merangkap menjadi pendeta, menyelidiki sangat mendalam tentang kekuatan atau kelemahan Islam.  Mereka baca buku-buku Arab, sejarah Islam, sumber dan asalnya, lalu mereka tafsirkan menurut tafsir yang telah ditentukan, lalu disiarkanlah penafsiran yang mereka tentukan itu kepada rakyat jajahan Islam itu, dan dinamai “ilmiah”.

Zaman moderen tidak memungkinkan lagi menyiksa orang dengan mencabut lidahnya, memecah tulangnya, memasukkan ke dalam tong yang penuh dengan besi-paku, lalu  digolonggolongkan di tempat luas, sehingga mati, atau perempuan yang dihancurkan susunya dengan alat-alat tertentu, atau dititikkan air satu tong besar, setitik demi setitik ke atas ubun-ubunnya, atau dibakar di muka umum sebagai yang dilakukan kepada Jeane d’ Arc.  Semuanya itu tidak mungkin lagi, maka ditukarlah dengan sistim baru, yaitu diracun keagamaan asli rakyat terjajah dengan “ilmiah cara Barat”, yang oleh karena perasaan “rendah harga diri” (minderwardigheidcomplex) lalu menerima saja.  Di antaranya yang diajarkan itu ialah:

  1. Islam disiarkan dengan pedang.
  2. Orang Islam tidak akan maju sebagai orang Barat kalau mereka masih memeluk agama Islam.
  3. Agama Islam itu hanyalah plagiat (curian) saja dari Kristen.
  4. Hukum Fiqhi Islam tidak asli. hanya plagiat (jiplakan) dari hukum Romawi.

dan berpuluh lagi yang lain.  Dan di Indonesia diajarkan pula, bahwa agama lslam di Indonesia ini bukanlah diterimanya dari tanah Arab langsung. melainkan dari India. Atau Gajah Mada lebih mulia dari Sultan Agung, atau Kerajaan Majapahit yang demikian jaya dan sucinya telah hancur karena dikhianati oleh Islam dan lain-lain.

Sama sekali itu adalah dalam rangka Perang Salib moderen.  Sebab itu kita bangsa lndonesia, baik yang Muslim ataupun yang Kristen harus awas dan waspada jangan sampai kesatuan bangsa kita dirusakkan dengan pemalsuan-pemalsuan itu. Karena kaum penjajah. meskipun telah pergi meninggalkan tanah air kita masih tetap mempunyai program buat menghilangkan kekuatan kita sebagai bangsa dengan cara lain, yang tidak kurang dahsyatnya. untuk menghilangkan kepercayaan kepada diri kita sendiri.

Maka kepada generasi muda Islam, seangkatan Rifki Muslim. kita anjurkan supaya menggali kembali sejarah Islam dan Kristen itu dengan seksama. jangan hanya mengikuti “textbook thinking” yang disusun oleh Kolonialisme, Orientalis dan zending beserta Missi. yang sengaja memutar balik keadaan dan dalam bahasa kasarnya. “maling teriak maling”.  Dengan satu maksud utama. yaitu memutuskan hubungan angkatan muda yang akan menentukan hari depan dengan sumber sejarahnya. dan sumber kekuatannya.  Karena dengan memutuskan hubungan mereka dengan sumber sejarahnya mudahlah memutar balik dan mengendalikan mereka agar gelap hari depannya.  Atau menjadi burung beo. yang hanya mengikuti apa yang diajarkan oleh “tuannya”.

 

One thought on “Tuduhan Bahwa Islam Disiarkan dengan Pedang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *