Tuhan Dibahasakan Laki-laki

(Dari Majalah Gema Islam No. 10 tahun ke-1 tanggal 15 Juni 1962)

Dari Willem Lukas di Banjarmasin

Pertanyaan :

Mengapa dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat yang menyebut Zat Allah dengan kata pengganti “huwa” misalnya “Qul hu Wa’llahu ahad?”  Bukankah menurut tatabahasa (Ilmu Nahwu) kata huwa itu pengganti “orang ketiga laki-laki” yang disebut muzakkar?  Tidakkah itu apriori bertentangan dengan Tauhid dan ayat Al-Qur’an sendiri yang berbunyi “lisa kamistlihi syaiun” dan “walam yakun lahu kufuan ahad?”  Bukankah menurut kepercayaan umat agama Islam bahwa Al-Qur’an itu Kalamullah?  Tidakkah amat mustahil dan paradoksial nampaknya jika ada ayat-ayatnya yang berlawanan?

Jawab :

Supaya pikiran saudara penanya jangan sampai paradoksial membaca ayat dan mendalami aqidah agama Islam atau aqidah segala agama, hendaklah saudara dapat membedakan antara dasar aqidah dengan pemakaian bahasa.

Mari kita bahasa lebih dalam tentang tata bahasa Arab.  Dalam tata bahasa Arab, ada kata ism (nama-nama atau walau tidak tepat bisa disebut kata benda) yang dimuzakkarkan (di-lakilaki-kan) meskipun dia sendiri bukan laki-laki dan ada pula ism yang dimuannaskan (diperempuankan) meskipun dia sendiri bukan perempuan.

Catatan penulis : mungkin banyak orang Indonesia tidak mengenalnya tapi banyak sekali bahasa-bahasa di dunia yang mengenal penggolongan jenis kelamin kata (bukan hanya kata ganti) menjadi laki-laki dan perempuan

Misalnya baitun artinya rumah.  Dia disebut ism muzakkar.  Kata itu sendiri yang muzakkar, yaitu di-lakilaki-kan, bukan berarti rumahnya langsung menjadi laki-laki.  Maka jika kata baitun ditunjuk oleh suatu kata ganti orang ketiga maka dihukumkanlah dia memakai dhamir huwa.  Padahal huwa dipakai juga untuk menunjuk manusia berjenis kelamin laki-laki dalam posisi orang ketiga.

Tuhan Allah bukanlah laki-laki.  Tetapi kata “Allah” dalam perhubungan tata bahasa dijadikan muzakkar.  Artinya di-lakilaki-kan bukan berarti Allah menjadi berjenis kelamin laki-laki.

Dalam hal tata bahasa bisa kita lihat pula kelucuan bahwa apabila baitun adalah lebih dari satu dan lebih dari dua yaitu jamak (bahasa Arab bukan hanya mengenal tunggal dan jamak tapi ada bentuk ganda) maka menjadi buyutun yang menurut tatabahasa menjadi diperempuankan.  Bukan berarti sekarang rumahnya berubah kelamin menjadi perempuan tapi menurut hukum tatabahasa Arab semua kata jamak harus muannas (perempuan) kecuali muzakkar salim.

Yang lebih lucu lagi, dua kata untuk manusia perempuan dan keadaan yang diterangkan itu hanya mungkin terjadi pada perempuan, secara tata bahasa terang-terangan dihilangkan penanda kata yang menunjukkan keperempuanannya.  Yaitu hamilun (perempuan hamil) dan haidlun (perempuan yang sedang haidh).  Padahal menurut tata bahasa yang umum, segala kata yang menjelaskan kejadian ataupun sifat perempuan harus diberi tanda perempuan (taa tanits atau taa marbuthah).

Maka kalimat Allah atau segala sifat-sifat Allah tersusun menjadi kata sebagai hayyun, qadirun, ghaffurun dan lain-lain dihukumkan menurut tata bahasa menjadi muzakkar; di-lakilaki-kan menurut hukum tata bahasa.  Bukan Zat Tuhan Allah yang menjadi laki-laki.  Demikianlah pemakaian bahasa Arab, dan terdapat juga aturan-aturan tata bahasa menyerupai itu dalam bahasa-bahasa lain.  Sehingga jangan ada lagi orang yang berpikiran lagi karena memakai tata bahasa kita telah paradoksial, kita telah berkacau-balau menjadikan Zat Allah yang Maha Kuasa menjadi laki-laki.

Rajulun seorang laki-laki dibahasakan huwa, Willem Lukas dibahasakan menjadi huwa, baitun dibahasakan huwa juga.  Kalamun (pena) juga dibahasakan huwa.  Maka apakah wajar orang yang menyangka bahwa Allah, rumah, pena dan Willem Lukas adalah serupa?  Kecuali misalnya saudara Willem Lukas dapat menciptakan bahasa baru, untuk mengubah segala tata bahasa yang telah berlaku itu, sehingga kata Allah dicarikan “orang ketiga” kategori yang lain.

Ketika menjadi orang pertama Tuhan Allah membahasakan dirinya “Ana“, saudara Willem Lukas pun membahasakan dirinya Ana.  Tidak seorang jua pun yang memandang itu paradoksial atau berpaham bahwa saudara Willem Lukas membahasakan dirinya saya akan langsung mengatakan dia menyamakan dirinya dengan Allah.

Malahan kalau memanggil Tuhan (jadi orang kedua) dibahasakan Anta yang artinya Engkau.  Saudara Willem Lukas dibahasakan oleh ayahnya Engkau.  Tidak ada orang yang akan mengatakan bahwa pemakaian bahasa demikian itu paradoksial.

Saudara Willem Lukas sendiri ketika bertanya telah memakai istilah tata bahasa Indonesia “orang ketiga” untuk kata huwa yang bahasa Indonesianya Dia.  Mengapa kepada Allah disebut “orang ketiga”?  Apakah zat Tuhan Allah itu seorang orang (manusia)?  Sekali-kali tidaklah terlintas dalam pikiran saudara Willem Lukas bahwa Tuhan Allah sendiri menjadi orang (manusia), melainkan kata huwa atau Dia menurut tata bahasa disebut “Orang Ketiga”.

Di sini mengertilah kita bahwa hukum tata bahasa janganlah dicampuraduk dengan aqidah.

Dalam aqidah zat Allah bukanlah laki-laki dan bukan perempuan.

Dalam hukum tata bahasa kata Allah dimuzakkarkan, artinya di-lakilaki-kan.

Dan tidak berdosa kalau hanya me-lakilaki-kan kata karena Tuhan Allah tidak akan menjadi laki-laki lantaran itu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *