Arti Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

La Ilaha Illal Lah- Allahu Akbar.

Kalimat inilah yang kita dengungkan setiap tahun, setiap hari raya Idul Fithri dan Idul Adha, kita sipongangkan (teriakkan) secara demonstratif di hadapan Tuhan sebagai pernyataan tekad bulat bahwa hidup mati kita untuk Allah. Dan selalu pula kita iringi untuk Allah. Dan selalu pula kita iringi dengan ucapan lain;

La Ilaha Illal Lah, Wahdahu; Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Dia Esa berdiri sendirinya. Shadaqa Wa’dahu; Yang benar segala janjiNya. Wa nashara ‘abdahu; Dia-lah yang membela hambaNya. Wa A’azza Jundahu; Dia-lah yang memenangkan tentaraNya. Wa hazamal ahzaba wahdahu; Dan Dia-lah yang memporak-porandakan partai-partai (golongan-golongan) penentang-Nya, sendirian.

Sebagai saya katakan tadi, kalimat ini telah tumbuh dalam jiwa kita sebagai pusaka dari nenek moyang kita, sejak Islam masuk kemari dengan jalan damai, telah mengendap dalam jiwa kita.  Diturunkan dari nenek moyang turun-temurun, kita terima sebagai pusaka dan kita turunkan pula kepada anak-cucu kita.

Dia telah merata dalam masyarakat kita, sejak dari gubuk dan teratak, dari desa-dusun dan kota.  Oleh sebab itu tidaklah kita heran seketika pemimpin-pemimpin kita menyusun dasar filsafat dari negara kita ini, pusaka jiwa turun-temurun  inilah yang kita jadikan dasar pertama.  Itulah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dan dari 9 pemuka bangsa yang mengikat janji menyusun dasar negara, lima orang di antaranya ialah pemuka dan ulama agama kita.

Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, itulah dia Tauhid.  Kita telah mengaku tidak ada Tuhan melainkan Allah, meskipun kita mengakui di hadapan Allah sendiri bahwa kita ini belum ma’shum sebagaimana nabi, belum suci sebagai wali.

Barangkali pernah kita bersalah, baik kecil ataupun besar.  Namun satu hal tidaklah pernah kita perbuat, yaitu mempersekutukan yang lain dengan Allah.  Oleh sebab itu, Tuhan masih membuka pintu maaf dan ampun atas kesalahan itu.

Menurut Firman Tuhan :

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidaklah sudi memberi ampun kalau dia itu dipersekutukan.  Dan Dia akan sudi memberi ampun yang selain itu bagi barangsiapa yang Dia kehendaki”.

Oleh sebab itu, apabila kita telah mengaku bahwa Allah Yang Maha Esa adalah Tuhan kita, dan Nabi Muhammad SAW adalah rasul Allah, kita telah termasuk dalam lingkungan Islam.  Sebab itu janganlah disebut juga Islam abangan dan Islam mutihan.

Dikatakan bahwa yang belum lengkap mengerjakan syariat tergolong abangan, dan yang telah lengkap digolongkan mutihan.  Padahal Islam tidak mengenal penggolongan mutihan dan abangan itu.

Dalam sejarah tanah air kita, sejak Sultan Agung di Mataram, Sultan Iskandar Muda di Aceh, Sultan Ali Ri’ayat Syah di Johor, kata-kata demikian tidak ada.  Terang bahwa kata ini ditimbulkan di zaman kolonial, dengan maksud memecahbelahkan kita dan mempetak-petakkan kita.  Tanyalah dalam diri kita sendiri, sudahkah ada di antara kita ini yang sudah cukup lengkap mengerjakan agama ini menurut yang digariskan Nabi?

Saya sendiri yang telah disebut orang ulama, disinipun mengakui terus terang bahwa sayapun belum secukupnya 100% menjalankan menurut kehendak Nabi.  Tetapi saya sama dengan saudara, yaitu sama mempunyai ideal, cita-cita hendak hidup menurut yang digariskan Nabi itu.  Maka sampai kita menutup mata kelak selalulah kita berusaha, mengisi kehendak nabi itu dengan sepenuh daya upaya yang ada pada kita.

Lalu kalau pernah kita bersalah, kita iringilah kesalahan itu dengan berbuat amal yang baik-baik sebanyak upaya kita.  Kelak di hadapan Tuhan semuanya itu akan ditimbang dengan adil dan teliti.  Berdoalah kita moga-moga lebih banyaklah kebajikan yang kita kerjakan.  Moga-moga tercapai sabda Nabi :

“Dan ikutilah amalan yang salah dengan amalan yang baik sebanyak-banyaknya, moga-moga yang salah itu dapat dihapuskan oleh yang baik” 

Pegang teguhlah dan jadikan pedoman apa yang telah digariskan Tuhan dalam Surat Al-Ikhlas, yaitu :

Al-ikhlas-1-3

 

Artinya : “Katakanlah: Bahwa Dia itu adalah Allah Yang Maha Esa, Allah itulah tempat melindungi diri.  Tidak Ia beranak dan tidak ia diperanakkan dan tidak sesuatupun yang menyamai-Nya”

Inilah ajaran nabi-nabi sejak Adam sampai Nuh, sampai Ibrahim dan Ismail serta Ishak.  Sampai kepada Musa dan Harun, sampai kepada Isa Al-Masih, sampai kepada Nabi kita Muhammad SAW.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah dasar hidup kita yang pertama, baik dalam beragama ataupun dalam bernegara.  Kemudian dengan sendirinya, apabila Ketuhanan Yang Maha Esa itu sudah diimani (percaya) sungguh-sungguh, pastilah tumbuh satu demi satu sila-sila yang lain.

Apabila kita telah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, pasti dan logis dan wajar, bila tumbuh dasar kedua, yaitu Peri Kemanusiaan.  Sebab agama kita mengajarkan bahwa seluruh manusia itu adalah umat yang satu: “Kanannasu ummatan wahidatan”.

Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan sendirinya pasti dan logis dan wajar menimbulkan rasa kebangsaan, sebab Tuhan-pun mengakui di dalam firmannya di Al Qur’an bahwasannya : “Manusia telah Dia jadikan bersuku-suku, berpuak-puak dan berbangsa, supaya satu dengan yang lainnya kenal-mengenal, dan yang paling mulia di sisi Tuhan ialah barangsiapa yang bertaqwa kepada-Nya” (surat Al-Hujurat 14).

Sebab itu maka kebangsaan kita bukanlah chauvinis membenci bangsa lain.  Karena membenci bangsa lain adalah berlawanan dengan dasar kedua, yaitu Peri Kemanusiaan dan melanggar dasar pertama, Percaya kepada Tuhan.

Ketuhanan Yang Maha Esa dengan sendirinya pasti, logis dan wajar menimbulkan musyawarat untuk mufakat, yang kadang disebut demokrasi dan kadang kita sebut kedaulatan rakyat.  Sebab Tuhan telah berfirman tentang hambanya yang terpuji, yaitu :

hati-ke-hati-hal234

 

Artinya : “Orang-orang yang segera menyambut panggilan Tuhan, lalu mereka mendirikan shalat, setelah itu maka segala urusan mereka, mereka musyawarahkan bersama, dan mereka sudi mengorbankan harta-benda yang telah dianugerahkan Tuhan kepada mereka”.

Bagaimana mengatur teknik musyawarat, demokrasi, kedaulatan rakyat, tidaklah dicampuri oleh Tuhan.  Kalau Tuhan campur sampai kepada detail yang kecil, niscaya kita jadi bodoh.  Dan Tuhan telah mengangkat kita manusia ini menjadi khalifah-Nya di muka bumi ini.

Niscaya Tuhan tidak mau khalifah itu bodoh.  Aturlah dan ber-ijtihad-lah sebaik-baiknya.  Dan dengan ayat ini nampaklah bahwa ajaran agama kita mengajak kita dari masjid pergi ke parlemen.  Artinya dari percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, menuju kepada penegakan demokrasi.  Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan sendirinya pasti, logi dan wajar menimbulkan sila kelima, yaitu Keadilan Sosial.

Adil dan makmur yang merata, sebab kita manusia ini ditakdirkan Tuhan sama.

Sama-sama hamba-Nya, tingkat hidup hanyalah soal kesanggupan.  Salah satu daripada nama Tuhan ialah Al-‘Adl, artinya Maha Adil.  Kita harus berusaha sedaya upaya kita mencapai keadilan itu.  Dan dalam hidup kita sehari-hari dalam amal dan ibadat, dalam berjamaah sembahyang, dalam puasa sebulan, dalam mengerjakan haji, jelas sekali adanya keadilan sosial.

Dari segi yang lain dapatlah kiranya saya umpamakan Pancasila filsafat negara kita ini dengan suatu kekayaan besar dan luas, yang dberi nilai angka 10.000.  Selalu kita katakan bahwa Indonesia terdiri dari 10.000 pulau.

Entah 10.000 milyar kekayaan.  Angka yang di muka sekali adalah Angka Satu; Itulah Ketuhanan Yang Maha Esa. Angka-angka berikutnya empat berderet ialah Peri Kemanusiaan, Kebangsaan, Kedaulatan Rakyat dan Keadilan Sosial, semuanya dilambangkan dengan nol.  Maka selama angka satu masih ada, selama itu pulalah 4 nol yang mengikutinya ada harga.  Tetapi kalau angka satu hilang, walaupun 4 nol ditambah 1000 nol lagi, tidaklah ada harganya.

Di zaman Orde Lama orang pernah mengindoktrinasikan bahwa kedudukan lima sila itu sama, tidak ada yang lebih utama, dan tidak Ketuhanan Yang Maha Esa itu sendiri.

Tetapi saya bersyukur karena beberapa bulan yang telah lalu, Jenderal Soeharto, pejabat presiden kita, yang hari ini hadir, pernah menjelaskan paham yang sama dengan paham saya ini, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pokok pangkal dari keempat sila berikutnya; Allahu Akbar!

Sekarang Orde Lama sarang dari kepalsuan dan kemunafikan itu telah berlalu.

Datanglah zaman Orde Baru; saya sendiri lebih 10 tahun “korsleting” dengan istana ini, sehingga menjauh dan dijauhkan.

Dalam zaman Orde Baru ini saya bersyukur kepada Tuhan karena dapat masuk ke dalamnya kembali, buat menumpahkan rasa hati ini.

Orde Baru ialah perubahan mental; demikian peringatan Pak Harto beberapa waktu lalu.  Orde Baru bukan sekedar penggantian orang-orang, tetapi perombakan jiwa dan cara berpikir.  Karena kalau hendak mencari Orde Baru yang bersih betul-betul, carilah orang yang lahir setelah 1 Oktober 1965.

Agama kita mengajarkan; “Jaddidu Imanakum!” Perbaharuilah selalu imanmu.

Artinya selalu kita bertaubat kepada Tuhan kalau ada perbuatan dan tingkah laku kita yang salah, lalu berjanji dalam hati, dengan sungguh-sungguh hendak mengubah sikap hidup itu hari ini juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *