Rahasia Kemenangan Kita

Dimanakah rahasia dari kekuatan kita ini? Adakah pada senjata, pada roket dan peluru kendali, pada bedil dan meriam, kapal udara dan kapal perang?

Disini hadir Jenderal Soeharto, yang memimpin perjuangan dahsyat menghancurkan kekuatan komunis itu pada 1 Oktober 1965, cobalah tanyakan kepada beliau dimana letaknya kekuatan kita itu?

Wahai kaum muslimin, kalau hendak mengkaji rahasia kekuatan ini dengan lebih mendalam, janganlah di tilik kepada benda atau materi yang ada di depan mata.

Tetapi lihatlah ke dalam bathin, lihatlah ke dalam jiwa, di sanalah dia akan bertemu.  Segi kekuatan kita ialah Kepercayaan kita. Segi kekuatan kita ialah Iman dan Aqidah kita.

Sejak 700 tahun yang lalu atau sejak 1000 tahun yang telah lalu, gema Alquran dari padang pasir telah sampai ke negeri ini, kepulauan kita yang indah ini.

Nenek moyang kita sejak dulu, meskipun tidak pernah bertemu muka dengan nabi Muhammad SAW, namun mereka telah menyatakan iman pada ajarannya.

Muhammad SAW pernah bersabda:

Artinya, “Berbahagialah orang-orang yang telah sempat melihat wajahku, lalu ia beriman kepada-ku, tetapi lebih berbahagia lagi (tujuh kali), bagi mereka yang beriman kepada-ku, padahal dia belum pernah melihat wajahku”

Saudara-saudaraku kaum muslimin! Hadits ini diucapkan oleh Rasulullah Saw di hadapan para sahabat beliau yang 124 banyaknya itu, yang telah diberi Allah nikmat dapat melihat wajah beliau. Termasuk Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, serta sahabat besar lainnya. Tetapi beliau ingat lagi bahwa kelak kemudian hari setelah beliau meninggal, akan ada umatnya yang meskipun mereka tidak dapat melihat wajahnya, mereka tetap beriman kepadanya, melakukan perintah-Nya dan menghentikan larangan-Nya.

Kita sekarang telah duduk disini berbaris menyusun shaf (barisan), untuk bersembahyang dan merendahkan diri kepada Tuhan. Kita ini adalah umat Muhammad SAW yang tidak dapat melihat wajahnya, tetapi kitapun mencintai Rasulullah SAW sebagaimana umat dan sahabatnya dahulu itu mencintai beliau. Walaupun amalan kita masih kurang, namun kita tetap mencintai beliau.

Sesaat sebelum beliau wafat, beliau pernah mengatakan:
“Fa inna mau’dakumul haudh”; disana kita akan berjumpa kelak, yaitu di pinggir telaga yang bernama Al-Haudh, di pinggir jalan menuju sorga.

Dan seketika orang bertanya kepada beliau, bagaimana beliau akan dapat menandai umatnya yang begitu banyak, laksana buih di laut, pasir di pantai, bermilyar-milyar dari jaman berganti jaman.  Beliau telah menjawab bahwa, “Aku dapat mengenali mereka, sebab “simahum fi wujuhihim min atsaris sujud”; ada seri (cahaya) pada wajah mereka karena bekas sujud kepada Tuhan.

“Wajah itu sinar seminar; bercahaya-cahaya karena bekas wudhu”

Pokok ajaran Nabi Muhammad SAW ialah; La ilaha ‘lllal Lah, tidak ada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

La ilaha illal Lah, tidak ada tuhan melainkan Allah. Tidak ada tuhan adalah kalimat yang negatif; Melainkan Allah adalah kalimat positif.  Hukum alam elektrisitas mengatakan bahwasanya apabila negatif dan positif telah bertemu, timbullah kekuatan, timbullah atom La Ilaha ‘Illal Lah-Allahu Akbar! Inilah kekuatan kita. Dengan kalimat La Ilaha ‘Illal Lah, tiada ada sesuatu juapun lagi makhluk di dunia ini, baik dia manusia ataupun dia hantu, ataupun langit dan bumi, ataupun dia agung, yang akan dapat mengangkat diri menjadi Tuhan.  Dengan kalimat Allahu Akbar; hanya Tuhan Allah Yang Maha Agung, segala sesuatu di dunia ini telah kita pandang kecil, berjuta, bermilyar bintang di langit, semuanya hanyalah kecil belaka. Jiwa kita sebagai muslim menembus laksana bintang komet, menembus cakrawala luas itu, menyeruak segala rintangan dan halangan, lalu langsung berhubungan dengan Khalik (pencipta) Yang Maha Esa.

 

SAUDARAKU KAUM MUSLIMIN!

Inilah ajaran nabi Muhammad SAW yang telah dibawa dan diterima oleh nenek moyang kita sejak 700 tahun yang lalu, atau 1000 tahun yang lalu.  Bahkan dalam seminar “Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” pada bulan Maret 1963 di Medan, saya telah mengemukakan hasil penyelidikan, bahwa pada abad yang pertama hijriah, abad ketujuh masehi, agama ini telah mulai masuk kemari.

Suara Nabi Muhammad SAW, gema Alqur’anul Karim, dari padang pasir tanah Arab itu telah dibawa oleh deburnya ombak lautan sebelah barat ke dalam kepulauan kita yang luas ini. Dan amat mengagumkan Sekali, karena masuknyapun secara damai dan sukarela; “sukarela yang datang dan sukarela yang menanti, diterima dengan penuh iman”.  Tidak dengan paksaan atau perang.

Ajaran itulah yang Hidup, ajaran itulah yang Nyala dalam jiwa bangsa kita, diterima sebagai waris pusaka suci dari nenek-moyang turun-temurun. Dengan ajaran itulah kita tegak dan kita berdiri. Disadari atau tidak, ajaran itu telah mengendap dalam jiwa kita, masuk Ke dalam bawah sadar “underbewustzin“.

Bila tiba saat-saat yang menentukan, dia bangkit dengan sendirinya.  Ombak dari timur ataupun gelombang dari barat, taufan dari utara dan badai dari selatan selalu menguji kekuatan ini. Biasa pasang naik, biasa pasang turun, namun kita tidak hancur sebab  kita percaya kepada Tuhan.  Dengan iman La Ilaha Illal Lah – Allahu Akbar, inilah Sultan
Agung Hanyorokusumo mendirikan kerajaan Mataram.  Sultan Hasanuddin mendirikan kerajaan Banten, Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam mendirikan kerajaan Aceh; Allahu Akbar.

Dengan kekuatan La Ilaha Illal Lah-Allahu Akbar inilah kita mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 itu.

La Ilaha Illal Lah-Allahu Akbar itulah ucapan terakhir yang keluar dari mulut para pahlawan seketika darah mereka tertumpah ke bumi buat menyuburkan tanah pusaka, dan jiwa mereka terbang ke langit untuk mempertanggungjawabkan jihad dan perjuangan mereka di hadapan Tuhan Rabbul ‘Alamin, Allahu Akbar!

La Ilaha Illal Lah-Allahu Akbar itulah yang membangkitkan jiwa pahlawan 10 Nopember 1945 di Surabaya.  Inggris memusatkan kekuatannya buat menghancurkan jiwa merdeka kita.  Mereka hujankan peluru, bom dan pelor meriam dari darat, laut dan udara. Inggris bangga dengan kerajaannya waktu itu, yang matahari tidak pernah terbenam dalam wilayah kekuasaannya.  Bergelimpangan jenazah syuhada, hancur lebur kota Surabaya. Tetapi satu yang Inggris tidak dapat hancurkan, yaitu semangat kemerdekaan yang bersumber dari kalimat La Ilaha Illal Lah, tidak ada Tuhan tempat aku takut melainkan Allah; Allahu Akbar! Hanya Allah-lah yang Besar.  Itu tak dapat mereka hancurkan.

Kemerdekaan dan kebebasan jiwa yang bersumber dari La Ilaha Illal Lah-Allahu Akbar ini, dicoba oleh komunis hendak menghancurkannya dengan pemberontakannya di Madiun. Merekalah yang hancur dan kita tetap tegak.

Dan sekali lagi komunis yang telah mempunyai rencana hendak menghapus, membasmi pengaruh La Ilaha Illal Lah – Allahu Akbar ini telah mengadakan gerakan 30 September, GESTAPU-PKI ~ telah membunuh 6 jenderal. Istana ini telah mereka kuasai, tempat-tempat penting lainnya telah mereka duduki. Tetapi hanya dari pukul 03.00 pagi mereka berkuasa, maka pada pukul 3 (15.00) petang hari 1 Oktober 1965 gerakan mereka telah dapat dipatahkan.

Diantara kita sekarang duduk Jendral Soeharto yang dengan suatu gerak yang mengagumkan, telah dapat menaklukan mereka.  Tanyakanlah kepada beliau, kekuatan apakah kiranya yang ada pada beliau waktu itu.  Apakah pada roket, peluru kendali, kapal udara atau kapal perang, sehingga gerakan jahat itu dapat dipatahkan?

Tidak — tetapi disaat itulah kekuatan La Ilah Illal Lah – Allahu Akbar, itulah kekuatan dalam jiwa Jenderal Soeharto.

La Ilaha Illal Lah-Allahu Akbar itu pula yang melepaskan Jendral Nasution, sehingga dia dapat membebaskan dirinya dari kepungan dalam rumahnya sendiri.

La Ilaha Illal Lah-Allahu Akbar, yang dahulu telah melepaskan nabi Muhammad SAW dan kepungan orang Quraisy dalam rumahnya sendiri, sehingga terlepas dengan selamat, itulah juga yang melepaskan Jenderal Nasution pada malam itu.

Di segala masa Tuhan sanggup mempertunjukkan kekuasaannya.  Terhadap musuh itu berlakulah sebagaimana tersebut dalam Surat Yaasin;

Artinya: “Dan Kami jadikan suatu penghambat di hadapan mereka dan di belakang mereka suatu penghambat pula, maka Kami bingungkan mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat”

Dan terlepaslah Jenderal Nasution dari rencana busuk itu.

Sekarang mari kita kenangkan lagi, apakah kiranya yang mendorong anak-anak kecintaan kita, para pemuda buah hati kita, yang bersekolah, sedang belajar, untuk memenuhi harapan kita di zaman depan; apa yang mendorong mereka datang berduyun ke istana ini pada 24 Pebruari 1966, meminta keadilan dan kebenaran.

Apa yang mendorong mereka, sehingga mereka tidak gentar menghadapi bedil yang telah dikokang (siap-tembak) dan sangkur yang telah terhunus?

Sampai mayat bergelimpangan, gugur Arif Rahman Hakim, Siti Zubaidah dan gugur pula beberapa ia di daerah lain?  Sebagai Julius Usman di Bandung.  Sorak apa yang terdengar di halaman istana pada waktu itu, tidak lain; Allahu Akbar!

Marilah kita kenangkan itu semuanya.  Pendorong dari segala peristiwa itu, sejak jaman purbakala yang telah saya nyatakan, sampai kepada proklamasi, hari pahlawan, penyapuan komunis di Madiun dan di Lobang Buaya, sampai istana ini ditaburi oleh darah pemuda, tidak lain ialah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah tersimpul dalam kalimat La Ilaha Illal Lah – Allahu Akbar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *