Syukur Kita Tahun Ini

SYUKUR KITA TAHUN INI

Bagi kita muslimin Indonesia sekarang ini, syukur kita itu berlapis- lapis adanya.

“Kalau hendak di hitung nikmat Allah itu, tidaklah dapat dibilang (dihitung) berapa banyaknya”

Nikmat khusus yang kita peringati dengan hari raya yang besar ini, Hari Raya Idul Fithri, ialah karena kita telah selamat bahagia mengerjakan perintah Tuhan, berpuasa melatih jiwa kita, mendekati Tuhan dengan ibadat; siang kita berlapar malam kita bertarawih, membaca Alquran bertadarrus, bermunajat dan i’tikaf.  Sehabis berpuasa sebulan penuh, hidup dalam sebulan laksana kehidupan malaikat.  Tercapailah kemurnian jiwa, yang dinamai fithrah. Sesudah itu 1 Syawal pun datang, puasa yang sebulan kita bukakan, dinamai berfithrah, atau berbuka. Kita bagikan zakat fithrah kepada fakir miskin, agarmereka di hari itupun merasai nikmat hari raya, tidak ada yang lapar.

Inilah hari raya Idul Fithri yang kita lakukan sebagai suatu ibadah rutin tiap tahun.  Tetapi bagi kita bangsa lndonesia, selain dari berhari raya berbuka yang rutin ini, ada lagi yang kita peringati lebih dari rutin, yaitu nikmat besar yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.  Yaitu bahwa, “Tuhan telah membebaskan kita dari pengaruh satu gerakan internasional, yang ingin menghapuskan kepercayaan kita kepada Tuhan dalam negara kita ini, yaitu gerakan komunis”.

Untuk mengetahui betapa hebatnya dalam hati kita 1 Syawal tahun ini, kenangkanlah kembali 1 Syawal tiga-empat tahun yang lalu.  Dimana agama sudah menjadi permainan, buah bibir tetapi telah lama tidak ada lagi dalam hati.  Di waktu itu dasar negara Pancasila masih tertulis di atas kertas, tetapi suatu ajaran munafik dikemukakan buat mengganti Pancasila,yaitu Nasakom.  Arti yang wajar dari Nasakom itu ialah

“Aku bangsa Indonesia yang percaya kepada Tuhan sebab aku tidak percaya. Aku bangsa Indonesia yang beragama, tetapi agamaku itu ialah komunis”.

Mari kita kenangkan masa buruk itu kembali, renungkan dalam-dalam di hati kita.  Akan bagaimanakah jadinya lslam dalam negeri ini kalau kiranya Nasakom itu jadi berhasil.  Kalau sekiranya peristiwa Lobang Buaya pada 30 September 1965 diiringi lagi oleh beratus, beribu lobang buaya di hari-hari berikutnya.

Niscaya mesjid, gereja, synagog, biara, pedupaan akan dijadikan gudang atau rumah komedi, atau kandang kuda.  Dan lenyaplah kalimat Tauhid yang telah di perjuangkan dan dipancangkan oleh pahlawan nenek moyang kita dalam negeri ini sejak beratus tahun lampau, berganti dengan memuja, memberhalakan manusia, mengangkat manusia menjadi tuhan dan orang sekelilingnya menjadi budak dan khadam yang hina-dina.  Tidak boleh ada satu suarapun yang bertingkah (lain) dari suara “Bapak yang Agung”. Allahu Akbar!

Oleh sebab itu maka perayaan shalat ‘led di halaman istana negara dihari ini adalah menghimpunkan beribu syukur atas beribu nikmat.  Syukur yang terbesar ialah karena telah dapat dipatahkannya gerakan komunis, gerakan anti tuhan, atheis yang telah mengancam, menghancurkan dan meruntuhkan segala nilai-nilai budi luhur, kemanusiaan, agama dan ketuhanan pada beberapa bagian dari dunia ini.  Allahu Akbar!

Cobalah perhatikan dan renungkan suatu negeri yang sekali telah jatuh ke dalam pengaruh komunis, yang dapat melepaskan diri daripada pengaruh itu. Dalam setiap negeri yang jatuh ke bawah kuasa komunis, yang komunisnya tidak cukup 10%, yang selebihnya adalah umat beragama atau non-komunis.

Ingatlah negeri Rusia (Soviet) yang berpenduduk 500 juta, diperintah oleh hanya 10% orang komunis, sampai sekarang tidak percaya kepada Tuhan, dan ingatlah negeri Cina yang berpenduduk lebih dari 600 juta, diperintah oleh tidak lebih dari 12% orang komunis, kian lama kian hancur segala nilai kerohanian.

Kalau kuasa telah jatuh ketangan kaum komunis, yang lebih dahulu dicukur (musnahkan) habis ialah segala pengaruh rasa percaya kepada Tuhan, dan agama di lumpuhkan.  Manusia hanya menjadi alat yang tidak boleh mempunyai kepribadian sendiri.  Agama itu ditukar dengan memuja-muja manusia, mengarak-arak gambar pemimpin di jalan raya, bahwa pemimpini itu yang selalu benar, sabdanya (ucapannya) sama dengan sabda Tuhan dalam pandangan kita yang memeluk agama.  Maka bersyukurlah kita sekarang, karena kekuatan komunis, yang pernah mencengkeramkan kuat kuasanya dalam negeri ini, sampai ke dalam istana ini telah dapat kita patahkan.  Bukankah penghancuran kekuatan komunis itu, dengan segala pembela dan pendukungnya, dengan segala kaki-tangannya, tali-barutnya, yang telah kita lakukan di Indonesia ini telah mengagumkan seluruh dunia?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *