Toleransi atau Sekularisme atau Sinkretisme?

(Diambil dari Buku Hamka – Dari Hati ke Hati, sebuah kumpulan tulisan Buya Hamka di rubrik Hati ke Hati di Majalah Panji Masyarakat antara tahun 1967 – 1981)

Tahun 1968 yang baru kita lalui adalah tahun yang luar biasa. Di tahun 1968 kita berhari raya Idul Fitri sampai dua kali, yaitu 1 Januari dan 21 Desember 1968.

Maka timbullah inspirasi pada beberapa orang Kepala Jawatan dan juga pada beberapa orang Menteri Kabinet Pembangunan, dan keluarlah Perintah supaya peringatan halal bi halal Idul Fitri dan hari Natal digabungkan jadi satu. Diadakan pertemuan serentak disatu tempat, biasanya di jawatan-jawatan, dan departemen-departemen; “Lebaran- Natal”. Maka tersebutlah perkataan bahwasanya bapak Kepala Jawatan atau bapak Menteri atau bapak Jenderal memulai sambutan beliau, bahwa demi Kesaktian Pancasila yang wajib kita amalkan dan amankan, dalam “Lebaran-Natal” ini kita menanamkan dalam hati kita, sedalam-dalamnya, apa arti toleransi. Dan diaturlah acara mula-mula membaca Al Qur’an, oleh seorang pegawai yang pandai ‘mengaji’ kemudian itu oleh seorang pendeta atau pastor yang sengaja diundang, dengan membacakan ayat-ayat Injil, terutama yang berkenaan dengan kelahiran ‘Tuhan’ Yesus, Yesus Kristus Juru Selamat Dunia, Anak Allah yang Tunggal, tetapi Dia sendiri adalah Allah Bapa juga, menjelma ke dalam tubuh Santa Maria yang suci, untuk kemudian lahir sebagai manusia.

Tentu saja yang lebih banyak hadir dalam pertemuan “Lebaran-Natal” itu adalah orang-orang Islam daripada orang-orang yang beragama Kristen. Si orang Islam diharuskan mendengarkan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus ialah Allah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad s.a.w. dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah Nabi, melainkan nabi palsu atau bahkan penjahat. Dan Al Qur’an bukanlah kitab suci, melainkan buku karangan Muhammad saja.

Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan Al Qur’an, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima. Kemudian datanglah komentar dari protokol, bahwa semuanya itulah yang bemama toleransi, demi Kesaktian Pancasila!

Dan sebagai penutup disuruh kemuka seorang Kyai membaca do’a, seluruh hadirin yang Islam membaca amin. Pihak Kristen duduk berdiam diri, dan kita tahu apa yang terasa dalam hatinya, yaitu muak dan mual. Kemudian naik pula yang pendeta menyebut do’a-do’a hari Natal, dan semua orang Islam berdiam diri saja, dan kitapun tahu apa yang ada dalam hati mereka.

Pada hakikatnya mereka itu tidak ada yang bertoleransi. Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan ke telinga mereka. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi.

Sementara sang Pastor dan Pendeta menerangkan dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus. Telinga orang Islam jelas mual mendengarkan.

Bertambah mendalam orang-orang yang beragama itu meyakini agamanya, bertambah muntah telinganya mendengarkan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan pokok aqidah agamanya. Barulah mereka menerima semuanya itu dengan toleransi kalau agama itu tidak ada yang dipegangnya lagi.

Lantaran itu maka kalau dengan menggabungkan Lebaran dengan Natal, mungkin nanti kita gabungkan saja perayaan Isra Mi’raj, yaitu Mi’raj-nya Muhammad SAW. menjemput syari’at sembahyang, lalu turun lagi ke bumi menyampaikan perintah itu, jika misalnya pula berdekatan tanggalnya dengan Mi’raj Nabi Isa, yang menurut kepercayaan Kristen, bangkit dari kuburnya setelah tiga hari, lalu naik ke langit dan kini duduk di sisi kanan Allah, Bapaknya yang di surga; kalau hal-hal seperti ini diadakan untuk toleransi, demi kesaktian Pancasila, atau demi mengamalkan dan mengamankan Pancasila, dengan sungguh-sungguh kita katakan bahwa, ini bukan toleransi, melainkan memaksa kedua belah pihak jadi orang munafik, mengangguk-angguk menerima hal terlarang masuk dalam akal mereka; dengan sengaja dan diatur, supaya membuktikan toleransi.

Baru-baru ini Pimpinan Pusat Ikatan Pemuda Muhammadiyah, sudah menjelaskan bahwasanya do’a bersama dalam hari-hari peringatan, tidaklah dibolehkan dalam ajaran Islam. Do’a demikian pun tidak akan dapat diterima, karena do’a adalah ibadah dan ada sendiri ketentuannya.

Orang Islam meminta kepada Tuhan Allah Yang Satu, yang tidak ada syarikat bagi-Nya, sedang Pastor dan Pendeta akan berdo’a meminta kepada Allah Bapak, Allah Putera, dan Allah Rohul Kudus.

Semangat toleransi yang sejati, yang logis, yang masuk akal ialah, ketika orang Islam berdo’a, orang Kristen meninggalkan tempat berkumpul. Dan ketika Pastor berdo’a kepada Tiga Tuhan orang Islam keluar.

Zaman akhir-akhir ini sudah ada gejala toleransi paksaan itu, dalam hal-hal resmi atau tidak resmi. Untuk tenggang menenggang, seorang Kyai disuruh baca do’a dan untuk menunjukkan bahwa Pemerintah berlapang dada, ditambah lagi dengan do’a Katholik. Sesudah itu dengan do’a Protestan, sesudah itu dengan do’a Hindu-Bali, dan dengan do’a secara Budha.

Orang tidak memperhitungkan bagaimana perasaan dari pemeluk agama itu sendiri, atau orang yang tekun utuh dalam agama yang dipeluknya. Terutama orang Islam yang 85% bangsa Indonesia ini terdiri dari mereka.

Yang menganjurkan do’a bersama, atau perayaan ‘Lebaran-Natal’, atau barangkali nanti Natal-Maulid, bukanlah orang yang mempunyai kesadaran agama, melainkan orang-orang sekuler yang baginya masa bodoh, apakah Tuhan satu atau beranak, sebab bagi mereka agama itu hanya iseng! Atau orang-orang sinkretisme, yang mencari segala persesuaian di antara segala yang berbeda, lalu dari segala yang sesuai menurut mereka itu mereka membuat sesuatu yang baru.

Sinkretisme inilah yang menyebabkan timbulnya agama Shiwa-Budha di zaman dahulu di Jawa Timur. Sinkretisme ini pulalah yang menyebabkan orang Hindu-Bali makan daging sapi. Hindu-asli di India menuhankan sapi, dan Hindu-Bali di Indonesia mengganyang daging sapi. Dan keduanya bisa akur saja, demi sinkretisme cara Indonesia, cari saja yang sesuai dan bikin sesuatu yang baru.

Gejala seperti ini yang kita lihat sekarang. Dengan setengah paksaan dianjurkan do’a bersama, ibadat bersama, kebaktian bersama di antara orang-orang yang berlainan kepercayaan, dan dikatakan itulah semangat Pancasila! Sehingga disadari atau tidak, ada yang sengaja ingin menempatkan Pancasila boven alles (di atas dari semua) agama, yaitu orang-orang yang sama sekali tidak mengamalkan satu agamapun, merasa dirinya pemimpin tertinggi, melebihi ulama dan pendeta, kyai dan pastor dll. Dan barangsiapa yang tidak menyetujui, dituduh anti Pancasila dan tidak toleransi, dan tidak menunjukkan ‘kepribadian’ lndonesia.

Selama pena ini masih bisa menulis dan mulut ini masih bisa berkata, kita katakan terus terang: “Bukan begitu yang namanya toleransi !”

Bahkan itu adalah merusak agama, memaksa orang menelan sesuatu yang berlawanan dengan inti kepercayaannya. Dan pemuka-pemuka agama yang sadar akan tetap dan harus terus tetap menolaknya. Kita bukanlah menolak Pancasila. Sejak Pancasila diasaskan pada 25 tahun yang lalu, kita sudah menyatakan tidak keberatan.

Tetapi kita tegaskan bahwasanya keselamatan dan keamanan Pancasila itu hanya akan terjamin, apabila umat yang beragama, khususnya umat Islam taat setia melaksanakan agamanya, bukan disuruh pindah dari agamanya menuju suatu kekaburan yang dinamai Pancasila. Dan bukan disuruh membuat suatu macam upacara, kebaktian, do’a dan sebagainya bersama-sama dengan pemeluk agama lain yang berlainan aqidah dan kepercayaan.

Orang agama lain itu sendiripun tidak akan dapat menerima suatu upacara baru yang tidak ada dalam agama itu. Dan ini hanya akan bisa dilakukan oleh pemeluk-pemeluk agama yang tidak punya pendirian, yang lupa tanggung jawabnya di hadapan Tuhan, karena hendak mengambil muka kepada atasan.

Sehingga pernah terjadi, seorang pembicara di dalam pertemuan besar mengatakan bahwa “Nabi Isa di salib” padahal dia pemuka Islam. Dan pernah terjadi seorang Kyai membaca do’a di hadapan umum, dan do’a itu diambilnya dari “khutbah gunung”, pidato Yesus Kristus dalam Injil yang beredar sekarang. Demi toleransi, Kyai tidak membaca lagi do’a yang warid dari ajaran Rasulullah SAW.

Tentu orang-orang seperti itu dapat pujian atasan, dan disambut dengan tepuk-tangan oleh orang-orang di luar agamanya, tetapi dia tidak sadar bahwa dengan apa yang dinamainya “toleransi” itu dia telah mengorbankan aqidah agamanya.

—————
Catatan:
Sikap almarhum Buya Hamka mengenai Natal dan Idul Fitri bersama ini berlanjut menjadi fatwa Majelis Ulama, yang Buya Hamka sendiri sebagai ketuanya; “Natal dan Idul Fitri bersama haram hukumnya”. Pemerintah melalui Menteri Agama, Alamsyah Ratuprawirangera mengungkapkan keberatan atas fatwa ini. Menteri Agama kecewa dan menyatakan akan mengundurkan diri dalam pertemuan dengan MUI, tapi kemudian Buya Hamka mengatakan bahwa tidak elok jika Menteri Agama yang harus mundur, Buya Hamka lalu menginstruksikan menarik peredaran fatwa tersebut sambil menetapkan bahwa isinya tetap valid, lalu beliau dengan inisiatif sendiri meletakkan jabatan sebagai Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *